Go Dutch (1)

0
45

Go Dutch (1)

Saiful Mahdi*

Orang Indonesia terkenal pemurah. Sebagian malah sangat pemurah. Itu terlihat dari kebiasaan traktir-mentraktir.

Biasanya orang yang berulang tahun mentraktir keluarga dan kawan-kawannya. Demikian pula mereka yang baru dapat promosi jabatan, wisuda, menang lomba, atau sekedar lulus ujian dengan hasil memuaskan. Belum lagi traktiran dalam bentuk aneka kenduri.

Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia umumnya yang suka traktir-mentraktir, di belahan dunia lain orang terbiasa BMM, bayar masing-masing. Atau BDD,  bayar dhewe-dhewe. Di pergaulan internasional, BMM ini disebut ‘to go Dutch’ atau ‘go Dutch’, secara harfiah ‘pergi Belanda’. Mungkin yang dimaksud adalah ‘me-Belanda’ atau ‘ikut cara Belanda’.

Di Amerika, misalnya, orang yang berulangtahun tidak harus mentraktir mereka yang datang merayakan ulang tahunnya. Jangan kaget, jika Anda harus membayar makanan Anda sendiri di sebuah pesta ulang tahun. Orang yang lagi pacaran pun bisa ‘go for Dutch dating‘. Ihhh…makan sama pacar tapi bayar masing-masing?

Bahkan seringkali, teman-teman dari yang berulangtahunlah yang chip in, urunan, saweran (Jawa), meuripee (Aceh), untuk membayar semua biaya pesta ulang tahun itu. Sementara yang berulang tahun bisa menikmati hari jadinya dengan bahagia tanpa beban.

Pelit? Di masyarakat kita, orang yang suka BMM bisa kena tuduhan pelit. Nggak pernah nraktir! Di masyarakat lain, bisa jadi itu adalah bagian dari efisiensi, ciri masyarakat industri.

Tapi istilah ‘go Dutch’ ini memang awalnya mempunyai konotasi negatif. Istilah ini berasal dari abad ke-17 saat Belanda dan Inggris seringkali bersengketa batas-batas teritori politik dan rute dagang. Terutama di wilayah-wilayah koloni mereka. Orang Inggris mennggunakan istilah ‘go Dutch’ untuk mengejek mereka yang pelit.

Gambaran tentang bangsa Belanda yang pelit dan mau menang sendiri juga tergambar, misalnya, dalam novel Mataram. Kebetulan novel sejarah karya Anthony Reid itu mengambil seting Jawa di abad ke-17.

Yang jelas, kita tidak bisa menuduh semua orang Belanda pelit gara-gara adanya istilah ‘go Dutch’ itu. Tidak dulu. Apalagi sekarang.  Seperti dalam berbagai bangsa lain, mereka pasti ada yang pelit tapi juga ada yang sangat pemurah. Semuanya pun sangat relatif. Tergantung bagaimana Anda memaknai pelit atau pemurah itu.

Mungkin istilah ‘go Dutch’ ini sama konotasinya seperti saat orang mengatakan “kayak Cina, sangat perhitungan” atau “Padang kali kau!” atau seperti dalam seloroh di Aceh “Lagee awak Pidie mukat bu, ie bu dikira” (seperti orang Pidie jualan nasi, air dan nasi pun dihitung).

Yang terakhir ini pun sudah berubah. Dulu memang banyak warung nasi yang nasi dan air minumnya boleh tambah sesuka hati. Konsep yang kemudian populer sebagai all you can eat, tapi hanya untuk nasi dan air putih, atau teh tawar di warung Padang. Atau sayur lalap di warung Sunda.

Tapi sekarang semuanya harus bayar. Banyak warung nasi sekarang, termasuk warung Padang, yang tidak bisa lagi menyediakan air gratis. Konsumen dipaksa minum air kemasan atau harus pesan dari menu aneka minuman dan jus.

Tentu bukan salah orang Belanda, orang Cina, Padang, atau Pidie bukan?

Dulu kita belajar dalam pelajaran ekonomi di SMA bahwa air bukan ‘barang ekonomi’ karena tersedia sangat banyak di alam dan bisa diakses semua orang. Kapitalisme yang rakus telah membuat air bersih, apalagi air minum, jadi barang langka yang tak semua manusia bisa mengaksesnya. Alam lingkungan makin rusak. Air telah dikomodifikasi.

Saiful Mahdi, dosen di Jurusan Statistika, FMIPA, Universitas Syiah Kuala. E-mail: [email protected]

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.