Saturday, February 4, 2023
spot_img

Kelangkaan BBM bersubsidi, korupsi, dan kehancuran lingkungan

Kelangkaan BBM bersubsidi, korupsi, dan kehancuran lingkungan

Saiful Mahdi

 

Minggu pertama awal tahun 2023, saya memutuskan bergabung dengan dua teman lebih muda menyusuri pantai barat-selatan Aceh. Kami menyusuri jalur Banda Aceh hingga ke Singkil pada 1 sd 4 Januari 2023.

Kami punya beberapa misi. Selain kepentingan riset lapangan buat salah satu teman yang sedang studi PhD di Australia, pengumpulan data untuk riset saya sendiri tentang investasi berkelanjutan, tentu juga sambil menikmati keindahan jalur sepanjang pantai barat-selatan Aceh yang terkenal luar biasa itu. Bagi akademisi dan atau pegiat masyarakat, turun ke lapangan juga berarti melakukan observasi kehidupan masyarakat dan lingkungan tempat hidup kita.

Kali ini, mau tak mau, amatan kami tak lepas dari isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Betapa tidak, sejak di Banda Aceh kami agak was-was dengan ketersediaan BBM di sepanjang perjalanan nanti. Karena ada kabar dari sejumlah teman, kadangkala BBM non-subsidi pun tak tersedia di sejumlah wilayah.

Di Banda Aceh sendiri, yang ibukota provinsi Aceh, terlihat antrian panjang dan lama pada jam-jam tertentu di hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berlogo Pertamina. Antrian yang kadangkala melimpah ruah ke jalan sehingga mengakibatkan kemacetan yang cukup parah.

Beruntung bagi pelanggan di SPBU yang karyawannya sigap ikut membantu mengatur antrian dan mencegah kemacatan di jalan. Juga kadangkala terlihat ada polisi yang mengatur antrian dan berusaha mengurai kemacetan di jalan-jalan dekat  SPBU. Kelancaran dan keselamatan lalulintas di jalan umum tentu adalah tanggung jawab bersama.

Tapi adakalanya negara harus hadir untuk memastikan ketertiban umum sebagai bagian dari pelayanan publik. Negara bisa hadir lewat aparatur negara. Termasuk di dalamnya polisi dan DLLAJR setempat, dan BUMN seperti Pertamina itu sendiri.

Sejak di Banda Aceh, antrian panjang terutama terjadi pada jalur solar bersubsidi. Kadangkala juga pada jalur bensin bersubsidi (pertalite). Tapi nyaris tak pernah ada antrian panjang pada jalur BBM non-subsidi.

Di sejumlah SPBU, mungkin karena keterbatasan ruang dan tak ada pengaturan, antrian panjang di jalur solar bersubsidi sering menutupi jalur BBM non-subsidi. Hal ini kadang menimbulkan kepanikan bahkan kekacauan karena pengguna BBM non-subisidi mengira mereka juga harus mengantri panjang. Itu saya alami sendiri beberapa kali. Juga ternyata dialami oleh orang lain, termasuk teman perjalanan kali ini.

Pengalaman itu membuat kami sedikit optimis kala memulai perjalanan, di hari pertama tahun 2023 itu. Bahwa antrian panjang itu terjadi pada BBM bersubsidi, terutama solar, bukan pada BBM non-subsidi.

Kelangkaan BBM bersubsidi

BBM bersubsidi adalah bahan bakar minyak (BBM) yang harganya ditetapkan oleh pemerintah dan ditujukan untuk menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. BBM bersubsidi biasanya diberikan kepada kendaraan yang memenuhi syarat tertentu, seperti kendaraan umum atau kendaraan yang digunakan oleh orang yang tidak mampu. Pemerintah menetapkan harga BBM bersubsidi dengan tujuan untuk mengurangi beban finansial bagi masyarakat yang kurang mampu.

Lantas, mengapa BBM bersubsidi langka? Hal ini dapat terjadi karena adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi. Banyak orang yang menggunakan BBM bersubsidi untuk kepentingan pribadi padahal tidak berhak, sehingga stok BBM bersubsidi menjadi langka.

Di lain sisi, pemerintah juga dapat mengurangi jumlah BBM bersubsidi yang tersedia karena faktor ekonomi, seperti kenaikan harga minyak dunia dan kebutuhan negara di bidang lainnya. Apalagi saat dunia dalam resesi yang juga mengancam Indonesia tahun ini dan di tahun-tahun yang akan datang.

Pemerintah biasanya menetapkan harga BBM bersubsidi dengan mempertimbangkan harga pasar BBM internasional, biaya produksi BBM di dalam negeri, dan kemampuan pemerintah dalam mengelola subsidi BBM.

BBM bersubsidi seringkali langka karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah: Pertama, kurangnya pasokan BBM bersubsidi dari pemerintah. Pemerintah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli BBM di pasar internasional, sehingga jumlah BBM bersubsidi yang tersedia di pasar dapat terbatas.

Kedua, adanya aktivitas korupsi dan penyelundupan BBM bersubsidi. BBM bersubsidi memiliki harga yang lebih rendah dibandingkan dengan BBM non-subsidi, sehingga ada kecenderungan bagi sejumlah pihak dan oknum untuk menyelundupkan BBM bersubsidi ke pasar non-subsidi. Hal ini dapat menyebabkan BBM bersubsidi menjadi langka di pasar yang sebenarnya membutuhkannya.

Ketiga, masalah distribusi. BBM bersubsidi harus didistribusikan ke seluruh wilayah negara, sehingga terkadang ada kesulitan dalam menjaga agar tersedia di semua tempat.

Keempat, pertimbangan kebijakan pemerintah. Pemerintah juga dapat memutuskan untuk mengurangi subsidi BBM dengan tujuan mengurangi beban fiskal atau meningkatkan efisiensi pengelolaan subsidi BBM. Hal ini dapat menyebabkan harga BBM bersubsidi menjadi lebih tinggi dan menjadi kurang terjangkau bagi masyarakat.

PT Pertamina (Persero) sendiri menduga kelangkaan BBM bersubsidi terjadi lantaran penyelewengan BBM oleh industri besar sawit, sistem kuota yang tidak efektif, dan disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi.

Jadi, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan BBM bersubsidi langka, termasuk kebijakan pemerintah, masalah distribusi, dan penyalahgunaan alias korupsi alias pencurian.

***

Saat melewati Lamno, kami melihat antrian tapi tak terlalu panjang di sebuah SPBU pada lintasan utama begitu memasuki kota di lembah yang indah itu. Karena areal SPBU nya cukup luas, terlihat jalur non-subsidi dapat diakses dengan lancar dan tanpa antrian. Tapi tangki BBM kami belum perlu tambahan. Kami terus melaju. Pemandangan serupa terlihat di SPBU sekitar Kota Calang. Bahkan antrian di jalur subsidi lebih pendek.

Setelah makan siang di Meulaboh, kami lanjutkan perjalanan hingga memasuki Aceh Barat Daya (Abdya). Untuk berjaga-jaga, karena tangki bahan bakar mulai menuju indikator menuju setengah penuh, kami mulai lebih serius mengamati SPBU sepanjang perjalanan. Niatnya mau menambah bahan bakar.  Walaupun perkiraannya bahan bakar kami cukup untuk sampai ke Tapakpuan, ibukota Aceh Selatan.

Setelah lepas Blangpidie di Aceh Barat Daya (Abdya), kami melambat bahkan masuk ke tiga SPBU. Di satu SPBU, masih dalam wilayah Abdya, antriannya agak panjang. Kami putuskan lanjut karena ingin mencapai Tapaktuan sebelum jam enam sore dan bahan bakar masih aman. Di SPBU berikut, sudah masuk Aceh Selatan, BBM nya sedang kosong. “Pertamax juga taka da, Bang?” tanya kami pada seorang petugas yang sedang duduk santai. “Ka abeh mandum (sudah habis semuanya),” jawabnya enggan. “Nanti malam masuk lagi…” tambahnya. Di SPBU ketiga demikian juga. Bahkan tak terlihat karyawannya sama sekali. Hanya ada tulisan di pintu masuk: Pertalite Kosong, Pertamax Kosong….kosong…kosong…kosong.

Ini membuat saya melamun. Saat mata dimanjakan hamparan sawah bak permadani hijau, dengan perbukitan indah kebiruan sebagai latarnya, pikiran saya melayang pada film-film apokaliptik dari Hollywood. Generasi saya misalnya mengenal film Mad Max. Film ini bercerita tentang pertarungan hidup manusia di dunia yang tidak lagi mempunyai bahan bakar minyak. Sisa-sisa minyak diperebutkan dengan pertaruhan nyawa!

Seting film tersebut adalah dunia tandus yang panas menyengat, gurun pasir, dan bukit-bukit kelabu dari tumpukan rongsokan kenderaan yang dulu pernah begitu digdaya menjelajah wilayah yang mungkin pernah hijau. Sehijau bentangan sawah yang ditumbuhi breuh sigupai, beras organik dengan citarasa lezat yang khas dari bumi subur Aceh Barat Daya. Apakah manusia akan sampai pada titik dimana setetes minyak diperebutkan dengan taruhan nyawa?

Kami mulai berdiskusi apa bahan bakar di mobil kami betul-betul bisa mengantar kami sampai ke Tapaktuan seperti rencana kami semula. “Tenang…kita lihat lagi kalau ada SPBU yang masih punya pertamax. Kalau terpaksa, kita bisa beli yang eceran di pinggir jalan,” kata teman yang mobilnya kami pakai dalam perjalanan itu.

Sejak dari tadi kami memang memperhatikan banyak penjual BBM eceran. Di sepanjang jalan. Dalam botol-botol plastik ukuran sedang dan besar. Jadi sebenarnya tidak ada kelangkaan BBM? Hanya kadangkala tidak tersedia di SPBU?

 

Korupsi dan kerusakan lingkungan

Setelah kami memutuskan akan lanjut sampai ke Tapaktuan kecuali ada SPBU yang menyediakan BBM yang kami butuhkan, saya mulai lebih mengamati penjual BBM eceran di sepanjang jalan. Benar sekali kata teman saya. Insya Allah kami akan aman di sepanjang jalan.

Karena setiap ada pertokoan yang kami lalui, selalu ada beberapa yang menjual BBM eceran. Bahkan BBM eceran terlihat di hampir setiap persimpangan jalan masuk kampung di kiri kanan jalan nasional dan di rumah-rumah penduduk di sepanjang perjalanan kami. Juga ada petrashop yang khusus menjual petramax yang kami butuhkan. Walaupun yang terakhir ini juga sering kosong!

Teman yang paling muda di antara kami, yang ternyata punya banyak pengalaman lapangan dan perjalanan lantas bertutur. Di Simeulue, BBM yang sampai ke sebuah SPBU hanya bertahan 2-3 jam saja. Setelah itu SPBU tutup sampai pasokan berikutnya tiba. Kemana BBM begitu cepat habis dari SPBU itu? Hampir semuanya telah berpindah ke botol-botol plastik kecil penjual BBM eceran di seantero pulau.

“Wow! Bertahan di SPBU 2-3 jam saja?” tanya saya memastikan. “Ya, warga di sana sudah biasa beli BBM eceran,” jelas si teman. Jadi, seringkali solar dan pertalite, misalnya, sudah habis di SPBU tapi masih cukup banyak tersedia di pedagang eceran. Harga di pedagang eceran di luar SPBU tentu lebih mahal. Padahal kedua jenis BBM ini termasuk BBM bersubsidi.

Hal serupa terjadi di berbagai wilayah Aceh lainnya. Juga di berbagai wilayah Indonesia. Sampai belakangan sejumlah SPBU memasang poster “tidak melayani pembelian dalam jerigen”. Pemerintah Aceh bahkan baru saja mengeluarkan surat edaran pembatasan pembelian.

Kenapa BBM bersubsidi bisa dijual dengan harga lebih tinggi dari harga resmi pemerintah? Tentu karena “mekanisme pasar”. Pertanyaan lebih mendasar, kok BBM bersubsidi bisa diperdagangkan secara bebas?

Kurangnya pasokan, terbatasnya distribusi, dan kebijakan pemerintah mengurangi BBM bersubsidi mengakibatkan kelangkaan. Kelangkaan barang kebutuhan pokok apasaja seperti BBM ini menjadi insentif yang mendorong spekulasi. Spekulan, pelaku spekulasi, adalah mereka yang bermain-main dengan risiko dengan harapan dapat memperoleh keuntungan.

Spekulan BBM ada di hulu minyak dan gas sampai ke hilir di pedagang eceran di pelosok negeri. Sifat keuntungan yang spekulatif adalah makin besar risiko makin besar keuntungan yang mungkin diperoleh. Spekulasi sudah terjadi sejak eksplorasi minyak dan gas. Juga saat eksploitasi. Demikian pula saat distribusi sampai minyak dan gas itu sampai ke kita, konsumennya.

Spekulan besar maupun kecil ingin meminimalkan risiko demi memperbesar keuntungan. Untuk mengurangi risiko, para spekulan bermain mata dengan pembuat kebijakan dan aparatur negara. Perusahaan besar minyak dan gas (migas) bermain mata dengan penguasa dan pembuat kebijakan di suatu negara atau wilayah provinsi. Distributor bermain mata dengan aparatur negara di tingkat lokal, kabupaten/kota hingga kecmatan dan desa-desa.

***

Tiba di Tapaktuan sore itu, kami langsung ke SPBU untuk menambah bahan bakar. Dua SPBU terdekat di kota itu tak punya stok. BBM bersubsidi maupun tak bersubsidi sudah habis terjual untuk hari itu. “Nanti malam jam dua baru masuk yang baru,” kata petugas di salah satu SPBU. “Antrian mulai jam berapa, Bang?” Tanya kami. Kalau pada jam yang cukup ramah, mungkin kamipun akan ikut mengantri? “Yang dekat-dekat jam dua sudah mulai penuh.” Ya, jam dua dinihari! Tak sesuai dengan opportunity cost untuk tidur!

Sebelum masuk penginapan di malam itu, kami memutuskan mengisi pertamax eceran untuk jaga-jaga. Keesokan harinya, saat akan turun ke lapangan, kami mampir ke dua SPBU yang sama. BBM bersubsidi sudah kosong lagi, tapi yang non-subsidi tersedia. Alhamdulillah.

Pada 2 Januari malam, kami kembali mencoba peruntungan untuk mengisi BBM lagi di Tapaktuan. Kosong. Jawabannya masih sama. Pasokan baru akan tiba dinihari. Bahkan untuk yang non-subsidi. Mobil kami masih punya setengah tangki. Kami putuskan istirahat setelah petualangan seru di sekitar dua air terjun tersembunyi yang elok betul di Bumi Pala itu.

Pagi Selasa, 3 Januari 2023, kami akan ke Menggamat di Kluet Tengah, masih di wilayah Aceh Selatan. Karena akan ke wilayah cukup terpencil, kami harus memastikan tangki bahan bakar penuh di Tapaktuan. Apalagi rencananya akan langsung menuju Singkil setelahnya. Walaupun sudah pernah ke Sigkil sebelumnya, kami tidak tahu ketersediaan BBM di sana pada saat-saat “BBM langka” seperti sekarang ini.

Selain mobil kami, ada satu mobil tambahan dengan empat penumpang lainnya. Dua di antara mereka, seperti kami, belum pernah ke Menggamat. Dua yang lainnya pernah, tapi 22 tahun lalu. Mobil kedua ini sudah mengisi bensin jam dua dinihari tadi. Tinggal mobil kami yang harus mencari BBM. Setelah sejak kemarin bertahan dengan BBM eceran di pinggir jalan.

Antrian panjang tampak di SPBU di tengah Kota Tapaktuan pada sekitar pukul 8:30 pagi itu. Melimpah sampai ke kedua jalur berlawanan arah di jalan utama pusat kota. Pemandangan yang sungguh tak nyaman. Kacau. Masing-masing pemilik kenderaan memastikan tak ada yang memotong antriannya. Tak terlihat petugas SPBU atau polisi di sana.

Mengetahui jalur pengisian BBM non-subsidi sering terhalang antrian jalur subsidi, kami memutar dari jalan keluar SPBU. Benar saja, jalur non-subsidi relatif kosong. Dengan gembira kami ikut antri. Tak lama kemudian, giliran kami. “Penuh ya Bang!” pinta kawan yang keluar untuk memastikan. Alhamdulillah. Kami berpikir aman nih untuk perjalanan panjang hari ini. Terdengar tangki kami mulai diisi. Tapi kemudian…

“Maaf, ternyata sudah habis, Bang!” Dug. Kami terperanjat kaget. “Ya, minyaknya sudah habis,” kata si petugas SPBU lagi. Pagi itu tangki kami hanya terisi 15 ribu rupiah! Kesialan yang sering kita alami belakangan ini? Apalagi bagi mereka yang sudah berlama-lama antri BBM subsidi. Sangat kecewa jika sampai giliran di depan pompa malah BBM nya sudah habis! Tapi ini makin sering juga terjadi pada pengguna BBM non-subsidi.

“Memanglah Aceh Selatan ini!” ngomel salah satu kawan yang kebetulan putra Aceh Selatan. “Kenapa di Aceh Selatan lebih terasa kelangkaan BBM nya?” tanyanya. Entah pada kami atau dirinya sendiri. Kami semua tak punya jawaban.

Pagi itu, terpaksa kami kembali mengisi BBM eceran. Karena disparitas harga cukup tinggi, apalagi di luar SPBU, kami memilih mengisi pertalite eceran. Tidak penuh tangki. Harapannya akan bertemu SPBU atau Petrashop yang menjual petramax dengan harga resmi di tengah jalan nanti.

Di Menggamat, kehidupan seolah berjalan jauh lebih lambat. Bahkan ada yang seperti berhenti. “Tak banyak berubah di sini,” kata teman yang 22 tahun lalu sempat meneliti seminggu di wilayah itu. Tapi jalan masuk ke Menggamat sudah jauh lebih baik. Keindahan alamnya tetap terjaga. Jumlah kenderaan bermotor yang lalu-lalang juga masih jarang. BBM dijual di emperan toko-toko kayu dan setengah permanen. “Toko-toko itu sebagian masih seperti yang saya lihat 22 tahun lalu,” kata teman itu lagi.

Sempat mengunjungi kebun salah satu sahabat lama, kami menghabiskan setengah hari di Menggamat. Pemilik kebun adalah seorang tokoh masyarakat Menggamat yang dulu dikenal sangat berani dalam menjaga lingkungan hutan di sana dari pembalakan liar dan industri tambang.  Dari diskusi kami di tengah kebunnya, terkesan pengaruh usia yang membuatnya lebih bijak sekaligus lebih kompromis.

Saat mulai meninggalkan Kota Fajar, dan masih bertahan dengan BBM eceran, kami melambat di setiap SPBU yang kami lewati dari Kluet, Bakongan, hingga Trumon. Semuanya kosong. Uniknya, persis di pintu keluar sejumlah SPBU, berjajar botol-botol plastik berisi pertalite! Si BBM bersubsidi. Setiap melihat itu kami tertawa di dalam mobil. Si kawan muda mengingatkan kembali cerita distribusi BBM di Pulau Simeulue. “Tapi ini kelewatan laah… Masak pertalite di jual di pintu keluar SPBU!? Ha ha ha….”

Kami berhasil mengisi kembali tangki penuh setiba di Kota Subulussalam pada malam hari itu. Antrian jalur BBM bersubsidi terlihat tidak begitu panjang dan cukup teratur. “Memang paling parah di Aceh Selatan!” sungut teman muda si putra Aceh Selatan itu kembali. “Makanya, segera kembali dan benahi tuh kampung sendiri!” seloroh teman yang lain.

Bermalam di Singkil, esok paginya kami menikmati keindahan Mesjid Nurul Makmur, masjid agung Kabupaten Aceh Singkil. Cahaya kemakmuran juga begitu terasa dari matahari terbit di pelabuhan Singkil.

Kapal feri dari Pulau Nias, bagian dari Sumatra Utara, berlabuh dengan tumpukan pisang kepok bertandan-tandan. Pisang dan hasil bumi Nias lainnya itu untuk konsumsi penduduk di Aceh dan Sumatra Utara. Pelabuhan Singkil adalah pintu masuk paling dekat buat hasil bumi Nias mencapai daratan Sumatra terutama untuk menuju Medan dan Banda Aceh. Sungguh sebuah cahaya kemakmuran.

Tapi wilayah Singkil yang dipenuhi rawa-rawa penuh keragaman hayati itu belum kunjung memakmurkan penduduknya. Singkil masih mencatat persentase penduduk miskin tertinggi di Aceh. Fasilitas publiknya masih terbatas. Perdagangan berpusat di Rimo, Gunung Meriah, wilayah perbatasan kawasan rawa dan kawasan perkebunan sawit yang lebih tinggi dan cukup ramai.

Potensi terbesar Singkil adalah sektor pariwisata. Selain wisata bahari dan resor di Pulau Banyak, wisata keanekaragaman hayati cukup banyak dimiliki Singkil. Buaya-buaya Singkil yang terkenal bisa dijadikan atraksi yang menarik. Baik lewat penangkaran atau petualangan di alam lepas. Rawa Singkil adalah lahan basah yang menjadi kawasan kunci kehidupan manusia dan makhluk lain di dalam dan di sekitarnya. Produk-produk non-kayu nya seperti madu hingga lokan (kerang khas Singkil) banyak diminati konsumen dari berbagai daerah.

Rakyat Singkil tak perlu menunggu durian runtuh atau angin surga dari ditemukannya blok minyak dan gas Singkil yang konon sangat besar kandungannya itu. Belakangan sedang heboh karena sudah mulai kontrak eksplorasi. Padahal belum lagi eksploitasi. Cukup kita menarik pengalaman industri migas di sekitar Lhokseumawe dan Aceh Utara yang tak juga menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Dalam perjalanan pulang, mobil kami ketambahan satu penumpang baru. Seorang laki-laki berusia 55 tahun. Tapi wajahnya terlihat lebih tua. Cerita “kelangkaan BBM” mau tak mau kembali terulang saat kami mencari BBM untuk perjalanan pulang.

Si lelaki ternyata pernah menjadi sopir tangki BBM yang biasanya berlogo Pertamina itu. “Bisnis BBM itu banyak permainannya bahkan saat pasokan cukup sekalipun!” sergahnya saat kami tanya apa BBM pernah langka dulu di masa mudanya.

“Kalian mungkin tidak tahu, tapi masa saya dulu kami membaca skandal korupsi terbesar di Indonesia itu ya di Pertamina! Ibnu Sutowo itu koruptor terbesar. Mungkin hanya kalah dari Suharto!” lanjut si laki-laki itu. Ibnu Sutowo adalah direktur utama Pertamina, sejak masih bernama Permina. Mega korupsi sosok militer berpangkat letnan jendral ini nyaris membangkrutkan Indonesia di tahun 70-an.

“Sopir truk tangki BBM dan petugas SPBU juga tak ketinggalan. Mereka pun bisa bermain mata dengan pedagang eceran di bawah perlindungan oknum-oknum aparat!” lanjutnya tambah bersemangat.

“Waktu saya jadi sopir truk tangki, kami sering jual isi tangki di tengah hari panas…”

“Kenapa tengah hari?”

“Karena saat itu kita bisa sedot banyak isi tangki dan jual ke pengecer tapi tidak ketahuan. Meteran tangkinya akan tetap terlihat penuh…” Si laki-laki menjelaskan bagaimana dia memanfaatkan panas siang hari dan pemuaian bahan bakar untuk mencuri dan tidak ketahuan. Canggih!

“Nggak pernah ketahuan?” tanya kami.

“Tidak pernah. Kalaupun ada yang tahu, hasilnya kami bagi-bagi jadi semua diam. Aparat pun sering minta bagian. Paling enak jadi aparat. Dia dapat dari semua. Dari truk tangki, dari SPBU, sampai dari pedagang BBM eceran!” lanjut si lelaki bersungut.

Lantas saya teringat informasi yang berseliweran di Banda Aceh. Ada pemilik usaha cukup besar, rela membeli truk baru yang dikhususkan untuk mengantri solar di SPBU-SPBU dan menyedotnya untuk dijual dengan harga lebih tinggi ke industri atau pembeli lainnya. Saat mendengar itu pertama kali saya sulit percaya. Setelah mendengar pengalaman langsung dari si sopir truk tangki bahan bakar itu, saya terpaksa percaya. Konon, si pemilik truk itu sekarang paling keras dalam memprotes pengaturan BBM bersubsidi seperti yang dilakukan pemerintah Aceh lewat surat edaran Pj. Gubernur Aceh itu.

“Dan semua itu hanya mungkin dengan bermaiannya aparat!” tegasnya lagi. “Apa mungkin aparat tangkap aparat? Ya ikut main aja semua mereka!”

Melihat sejarah Pertamina dan bagaimana negara ini dikelola, masalah BBM bersubsidi ini memang sangat kompleks tapi sebenarnya jelas. Diperlukan penegakan hukum dan aparat hukum yang bersih. Tapi bukan untuk menghukum para penjual BBM eceran yang hanya mengambil untung seribu-duaribu rupiah dari disparitas harga. Bersih-bersih harus dimulai dari hulu minyak dan gas Indonesia.

Saat mega-korupsi sektor migas bisa dan mungkin masih terus terjadi di hulu sampai distribusi, nilai kerugian negara masih jauh lebih besar dari yang beredar di tengah ribuan penjual BBM eceran botolan di seluruh pelosok negeri ini. Sebagian besar mungkin melakukannya dengan terpaksa karena kesulitan ekonomi yang makin terasa. Daripada menganggur, mendingan menjual BBM botolan di depan rumah di tepi jalan.

Sambil menunggu konstitusi negara ditegakkan. Seperti kata Pasal 33 Ayat 3: “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”

Atau, menjual BBM bersubsidi dan menjualnya dengan harga sedikit lebih mahal kita anggap saja bagian dari “menggunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”? Haloooo???

Yang jelas, kelangkaan BBM bersubsidi sangat disayangkan. Apalagi jika kelangkaan itu terjadi karena adanya korupsi dan penyelewengan, dan penggunaan BBM bersubsidi yang tidak tepat. Di sisi lain, kita pun perlu bersiap-siap mengurangi konsumsi BBM, bahkan yang non-subsidi. Bumi makin tua, alam makin rapuh. Belum terlambat untuk hidup lebih hijau dan berkelanjutan!

 

 

 

 

 

 

Saiful Mahdi
Saiful Mahdihttp://semuabisakena.jaring.id
Pembelajar di Jurusan Statistika FMIPA Unsyiah, ICAIOS, dan The Aceh Institiute. Pernah jadi kerani di PPISB Unsyiah. Belajar banyak di Phi-Beta Group dan pengagum AcehKita.com. A Fulbright Scholar, an ITS, UVM, and Cornell alumn.

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,719FollowersFollow
23,800SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU