Seniman Teater Teliti Seni Pertunjukan Tradisi Aceh Mop-Mop

Seniman Teater Teliti Seni Pertunjukan Tradisi Aceh Mop-Mop
Seniman Teater, Tejo, tengah meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh 'Mop-Mop. (Foto: Dok. Pribadi)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Seniman teater T. Zulfajri yang akrab disapa Tejo meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh ‘Mop-Mop’. Fokus penelitian dilakukan Tejo di Kabupetan Aceh Utara dan Bireuen, bertujuan untuk pelestarian seni lakon yang diambang kepunahan.

Tejo menyebut, Mop-Mop merupakan seni pertunjukan tradisi aceh yang dimainkan oleh tiga orang, menampilkan bermacam kisah seputar persoalam keluarga dengan gaya kocak dan beda dengan seni pertunjukan lainnya yang ada di Indonesia. Si sebagian wilayah lain di Aceh, kesenian ini memiliki sebutan yang berbeda yaitu, Biola Aceh atau Apa Raoh.

Seniman yang juga alumni UIN Ar-Raniry itu menjelaskan, seorang pemain memerankan sosok ayah sekaligus sebagai syech juga bertugas mengatur/mengontrol alur cerita sambil memainkan biola. Dua orang lain berperan sebagai dara baro dan linto baro (pengantin baru). Keunikan Mop-mop melibatkan banyak unsur seni yang harus dipahami seluruh pemain, seperti syair Aceh, pantun, hiem, gerak tari, musik dan lainnya. Semuanya dipadukan dalam satu pertunjukan.

“Generasi saat ini tidak ada lagi yang tahu tentang Mop-mop, beda dengan sandiwara Aceh atau Dalupa yang sebagian kecil masih diketahui, walau memang sudah benar-benar tidak ada lagi komunitasnya. Jadi ini yang akan kita orbit ke permukaan agar masyarakat paham,” ujar Tejo dalam keterangannya, Selasa (20/10).

Sedangkan sejarahnya, sambung Tejo, belum diketahui pasti kapan awal muncul Mop-mop, namun dipastikan sudah sudah ada sebelum Indonesia merdeka, kemudian jaya di era 60 hingga 80-an. Menurutnya, pertunjukan ini biasa ditampilkan saat hari-hari besar, hajatan rakyat, pesta pernikahan, bahkan juga ditampilkan di lokasi pasar rakyat dan lain.

“Kemudian meredup seiring masuknya teknologi hiburan ke tengah-tengah masyarakat Aceh, seperti televsi, radio dan yang banyak menampilkan seni peran secara praktis kepada masyarakat,” jelasnya.

Lulusan S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta menyampaikan, penelitian yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kebudayaan) RI dilakukannya di beberapa tempat di Aceh Utara, yaitu di Gampong Paloh Raya dan Gampong Kambam d Kecamatan Muara Batu, karena di sana masih tersisa denyut seni Mop-mop. Kemudian dilakukan juga di Bireuen tepatnya di Gampong Matang Pasie, Kecamatan Peudada.

“Penelitian ini nantinya akan melahirkan semacam buku panduan dan dokumentasi pertunjukan khas ini. Kemudian menjadi referensi dan informasi seni Mop-mop secara detail, terutama bagi generasi muda, mahasiswa dan pelajar yang perhatian terhadap seni Aceh,” kata Tejo.

Lebih lanjut, Tejo berharap, pemerintah dan para pemangku kebijakan dan masyarakat tidak lupa dengan seni tradisi seperti ini. “Karena Mop-mop adalah aset seni yang harus dimunculkan kembali, sebagai identitas seni pertunjukan khas masyarakat Aceh di pesisir pantai timur,” ujarnya.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.