Monday, April 22, 2024
spot_img

Pertemuan Pemikir Muslim Dunia di Palu Hasilkan 5 Rekomendasi tentang Studi Islam dan Deradikalisasi

PALU | ACEHKITA.COM — Pertemuan para sarjana dan pemikir muslim dalam forum The 18th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, telah resmi ditutup.

Dalam edaran pers ke media, disebutkan AICIS adalah forum kajian keislaman yang diprakarsai Indonesia sejak 18 tahun lalu. Pertemuan para pemikir Islam ini menjadi barometer perkembangan kajian Islam dan tempat bertemunya para pemangku kepentingan studi Islam dunia.

Juru bicara AICIS, Noorhaidi Hasan, menyebutkan dalam penutupan sidang AICIS ke-18 forum yang dilaksanakan selama 17-20 September 2018 ini menghasilkan lima poin rekomendasi tentang Studi Islam dan deradikalisasi.

“Lima poin ini perlu dipertimbangkan pemerintah negara-negara Islam, agar radikalisme dapat dilokalisir dan dijauhkan dari generasi muda,” ujarnya.

Noorhaidi yang juga merupakan Steering Commitee (SC) AICIS mengungkapkan dalam forum yang dihadiri lebih dari seribu sarjana muslim itu, dilakukan 63 panel dan tujuh spesial panel yang menghasilkan banyak input bagi dunia Islam terkini.

Secara khusus, panel-panel tersebut menurutnya telah menyaring berbagai fenomena radikalisme di berbagai negara di dunia.

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menambahkan para panelis dalam sidang-sidang AICIS sepakat bahwa tak ada penjelasan tunggal dan sederhana pada kasus radikalisme dan berbagai masalah pelik yang dihadapi masyarakat muslim saat ini.

“Krisis dunia Islam dilatar belakangi berbagai hal yang sifatnya multidimensional,” sebutnya.

Model pokok yang dapat ditangkap secara umum, sebut Noorhaidi, adalah adanya trasformasi paham radikal kepada generasi muda, yang disuntikkan oleh para ideolog radikal melalui dialog.

Radikalisme kalangan muda, sambung Noorhaidi, juga tidak bisa dipisahkan dari perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan globalisasi.

“Paham radikal sangat cepat merasuk apabila diterima kalangan muda yang dilanda frustasi dengan berbagai fenomena sosial seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran dan berbagai macam kondisi tidak ideal lainnya,” sebutnya.

Lebih lanjut, Noorhaidi menambahkan, forum yang diparkarsai Kementerian Agama ini menghasilkan simpulan, bahwa menangani radikalisme tidak bisa dilakukan melalui satu jalur.

“Bila selama ini pemerintah negara-negara Islam cenderung berfokus pada pendekatan ideologi, kini saatnya mengambil pendekatan bidang ekonomi, budaya, dan sosial,” ujarnya.

Berikutnya Noorhaidi menyampaikan lima poin rekomendasi AICIS ini:
1.Terdapat kebutuhan untuk meninjau beberapa perspektif lama dalam studi Islam dan masyarakatnya.

2.Perspektif terbaru studi Islam perlu menilik kembali akar sejarahnya dalam membangun model Islam moderat sebagaimana yang ada di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

3.Bentuk intoleransi saat ini terwujud dalam berbagai bentuk yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor ideologis maupun instrumen lain yang semuanya memerlukan respon dan strategi lanjutan. Diperlukan koeksistensi untuk membangun toleransi dan perdamaian melalui berbagai program dan aksi yang relevan.

4.Pemahaman yang signifikan tentang radikalisme di kalangan muda akan melahirkan kemungkinan strategi dan jalan keluar yang terpadu serta langkah-langkah yang komprehensif untuk memutus rantai radikalisme dan terorisme.

5.Selain pendekatan ideologi dan program deradikalisasi, langkah-langkah dalam bidang ekonomi, budaya, dan pendekatan sosial harus segera diambil untuk mengikis pengaruh radikalisme dan terorisme.[]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU