Konflik Buaya-Manusia di Aceh Singkil, Kasus Berulang yang Terus Terjadi

Ilustrasi buaya. Foto: pixabay

SINGKIL | ACEHKITA.COM – Konflik buaya dan manusia di kawasan Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil, kerap terjadi. Banyak titik di wilayah itu, terutama beberapa pulau tanpa penduduk, disebut menjadi habitat buaya.

“Pernah dulu ada beberapa kali (buaya terkam penduduk),” kata Camat Pulau Banyak Barat Mawardi, dilansir acehkini, Jumat (19/2).

Kasus terbaru menimpa seorang nelayan Sojinema Zega (36 tahun). Ia diterkam buaya ketika menangkap ikan di perairan Pulau Banda, Pulau Banyak Barat, pada Rabu (17/2) malam. Akibatnya, Zega meninggal dunia.

Pertengahan Januari 2020, nelayan lain bernama Antonius (28) juga menjadi korban gigitan buaya di kepala. Ia diterkam hewan jenis reptilia itu ketika menyelam mencari ikan di perairan Pulau Busung, Kecamatan Pulau Banyak Barat. Meski mengalami luka-luka di kepala, kala itu, Antonius selamat dan mendapat perawatan medis.

Mawardi menyebut, setiap muara di Pulau Banyak Barat terdapat buaya. “Buaya itu relatif, di setiap muara-muara itu ada dia. Kita bilang banyak, enggak tahu persis banyaknya (berapa),” tuturnya.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyatakan beberapa pulau tanpa penduduk di Aceh Singkil menjadi habitat buaya. Masyarakat diminta berhati-hati bila beraktivitas di sana.

“Sebetulnya (kawasan) itu kan habitatnya. Kami sudah menyosialisasikan ke masyarakat untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas karena di situ memang habitat buaya,” kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto.

Selama ini BKSDA Aceh mengaku melakukan penjagaan rutin di kawasan habitat buaya dan menyosialisasi perihal itu masyarakat. Setelah kasus penerkaman seorang nelayan sehingga meninggal, Agus menyatakan tak mengambil langkah khusus.

Ditanya kemungkinan BKSDA Aceh menangkap buaya yang menerkam nelayan, Agus menyebut hal tersebut tak mungkin dilakukan. “Karena itu habitatnya,” jawabnya.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.