Komisi I DPR Aceh Didesak Pilih Komisioner KIA yang Berintegritas

Rekam Jejak 30 Calon Komisioner KIA Diserahkan ke Pansel
Pokja untuk Integritas Rekrutmen KIA saat bertemu panitia seleksi untuk menyerahkan rekam jejak 30 calon anggtoa Komisi Informasi Aceh. (Foto: Dok. MaTA)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Pokja Untuk Integritas Rekrutmen Komisi Informasi Aceh yang terdiri dari tiga lembaga yakni LSM MaTA, LBH Banda Aceh dan FLOWER Aceh, mendesak Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh memilih komisioner Komisi Informasi Aceh (KIA) yang berintegritas dan memiliki kapasitas yang baik.

“Proses seleksi Komisioner Komisi Informasi Aceh (KIA) yang saat ini sedang berlangsung menjadi salah satu sarana untuk memastikan agar kandidat Komisioner terpilih benar-benar memiliki integritas dan kapasitas untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan profesional,” ujar Hafidh, juru bicara Pokja Untuk Integritas Rekrutmen Komisi Informasi Aceh, dalam keterangannya, Selasa (13/10).

Atas dasar itu, sebut Hafidh, sebagai wujud peran serta masyarakat sipil untuk mengawal dan berpartisipasi dalam proses seleksi kandidat KIA periode 2016-2020, Pokja Untuk Integritas Rekrutmen KIA telah melakukan pemantauan proses seleksi dan rekam jejak (tracking) terhadap 30 kandidat komisioner KIA yang telah dinyatakan lulus seleksi tertulis oleh Panitia Seleksi pada 27 Juli lalu.

“Dari penelusuran yang telah dilakukan oleh tim, sebagian besar dari kandidat tersebut sama sekali belum pernah bersinggungan dengan isu-isu keterbukaan informasi. Baik dilihat dari riwayat pekerjaan, pendapat/opini yang dapat diakses oleh publik. Tentu, temuan-temuan ini seharusnya menjadi pertimbangan Komisi I DPRA untuk menentukan kandidat yang benar-benar berintegritas dan memiliki kapasitas yang baik untuk dipilih,” sebutnya.

Ia mengatakan, temuan rekam jejak yang dilakukan oleh Pokja Untuk Integritas Rekrutmen Komisi Informasi Aceh tersebut juga pernah diserahkan kepada panitia seleksi Komisioner KIA 2020-2024 pada Kamis (13/8) lalu.

Hafidh menambahkan, sebagaimana diketahui, dua hari ke depan ini, Komisi I DPRA akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap 15 orang calon Komisioner Komisi Informasi Aceh (KIA). Untuk itu, dia menyatakan ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian Komisi I DPRA.

“Pertama; Komisi I DPRA diharapkan memilih calon Komisioner yang berintegritas. Penekanan ini penting mengingat peran strategis para Komisioner periode mendatang dalam kerangka memastikan pemenuhan hak setiap warga negara dalam atas informasi publik, khususnya di Aceh. Hal ini dikarenakan perannya dalam penyelesaian sengketa informasi publik sangat memerlukan sosok komisioner yang memiliki rekam jejak yang baik dan tidak cacat moral,” ujarnya.

Selain integritas, lanjutnya, hal lainnya yang harus menjadi perhatian adalah aspek kapasitas calon komisioner KIA. Jangan sampai komisioner terpilih, sama sekali tidak punya kemampuan dan pengalaman dalam kerja-kerja mendorong keterbukaan informasi publik di Aceh.

“Kedua, meskipun kinerja KIA saat ini dinilai kurang progresif dibandingkan periode sebelumnya, tetapi dipandang penting adanya minimal satu calon yang berasal dari incumbent untuk dipilih oleh Komisi I DPRA dalam uji kelayakan dan kepatutan,” kata Hafidh.

Menurutnya, hal tersebut diperlukan mengingat pengalaman di sejumlah provinsi lainnya yang saat periode komisioner yang baru, dengan anggota komisioner yang semuanya baru, juga menimbulkan ‘kegoncangan’ dan seperti memulai dari awal kembali kerja-kerja sebagai komisioner. “Tentunya pilihan tersebut harus tetap memperhatikan kapasitas dan intergritas yang baik sebagai Komisioner,” sebutnya.

Kemudian, sambung Hafidh, Komisi I DPRA harus mempertanyakan dan mempertegas terkait degan komitmen komisioner KIA untuk bersediaan bekerja penuh waktu. Karena selama ini, ada Komisioner yang jelas tidak bekerja penuh waktu, totalitas dengan kewajibannya sebagai Komisioner.

Oleh sebab itu, menurutnya, penting untuk mempertegas hal ini sehingga tidak ada komisioner yang terpilih justru sibuk dengan ‘kerja sampingan’ atau aktivitas lainnya yang juga menyita waktu dan kosentrasinya seperti melanjutkan kuliah atau menjadi tim ahli di berbagai badan publik.

Selain itu, lanjutnya, pertimbangan keterwakilan menjadi kunci. Dari sejumlah nama calon perempuan, Komisi I DPRA harus benar-benar pula (hal yang sama juga berlaku bagi calon laki-laki) melihat kapasitas dan integritas yang baik. Diharapkan tetap ada minimal satu calon perempuan terpilih ke depan.

“Hal ini penting, selain untuk menjaga hak yang sama, namun juga bagian dari mewujudkan kelembagaan KIA periode mendatang yang lebih dinamis dan mampu membangun iklim keterbukaan informasi yang adil dan setara dalam menjalankan UU Keterbukaan Informasi Publik di Aceh,” ujar Hafidh.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.