Wednesday, October 27, 2021
spot_img

Kenangan Ketua Juru Runding GAM tentang Tgk Hasan Tiro

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dalam lintas sejarah, Aceh banyak melahirkan tokoh besar. Berkiprah bukan hanya di kampung halaman, tetapi menembus batas negara.

Salah satunya adalah Tengku Hasan Muhammad di Tiro, Wali Negara Aceh.

Seorang yang cerdas, memiliki ide yang brilian, mempunyai kemampuan dalam berbagai bidang pengetahuan, sehingga mampu menggagas sebuah perjuangan yang luar biasa.

Dikagumi oleh khalayak, tua dan muda, khususnya oleh para pejuang. “Papa kami, termasuk salah seorang pengagum beliau”, demikian dikisahkan oleh Yanti Sofyan, putri dari Ketua Tim perunding GAM di Jenewa, Tengku Sofyan Ibrahim Tiba, Sabtu (23/9/2021)

Yanti mengingat kembali hubungan ayahnya dengan Tgk Hasan Tiro tepat di hari lahir Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu, 25 September. Hari miladnya perlu diingat dengan mengenang kisah perjuangan almarhum.

Tengku Sofyan Ibrahim Tiba ditangkap pada tahun 2003 saat berangkat untuk menghadiri undangan mengikuti perundingan antara GAM dan RI di Tokyo. Kemudian ditahan di penjara Kedah dengan hukuman 15 tahun, dan meninggal dalam penjara ketika tsunami meluluh-lantakkan Aceh pada tahun 2004.

“Dari sebelum bertemu muka, Papa sangat menghormati Wali, karena perjuangan beliau beserta keluarga Tiro lainnya,” tambah Yanti.

Yanti mengenang, pertemuan paling berkesan dengan Wali, waktu rapat di Stavanger, Norwegia dan selama perundingan di Jenewa. “Papa sangat terkesan dengan Wali, pemikirannya masih sangat kuat. Wali sangat antusias mendengar ide-ide tentang Aceh. Kami mendengar cerita Papa betapa Wali bersemangat saat mendengar apa saja tentang tanah kelahirannya, apalagi Papa hadir ke sana langsung dari Aceh di tengah konflik yang sedang panas-panasnya,” kisah Yanti.

Mengenang almarhum ayahnya, menyisakan kesedihan bagi Yanti. Apalagi mengingat akhir hidup di dalam penjara. “Namun selalu dipenuhi kebanggaan bila mengingat keberanian almarhum mempertahankan apa yang Beliau yakini benar”. Demikian Yanti menuturkan.

Para “Teuntra Wali” alumnus pelatihan militer di camp Tajura dekat Tripoli, Libya, juga mempunyai banyak kenangan tentang Wali.

Banyak petuah-petuah yang diturunkan kepada mereka saat pelatihan, baik tentang ke-Acehan, ilmu diplomasi dan berbagai resam pergaulan internasional.

Salah seorang Teuntra Wali yang bermukim di Malaysia, pernah ditanya, apa yang paling diingat dari Wali Tengku Hasan Tiro.

Tanpa pikir panjang, langsung dijawab, Wali adalah sosok yang berkarisma tinggi dan sangat berwibawa. Semua patuh kepada Wali. Disiplin sangat kuat diajarkan kepada semua.

Yang paling diingat, Wali pernah berpesan, “Seumikee lagee indatu, gutee pingkom bek ta peularha,” (Kita harus berpikir seperti orang dahulu, kutu itu di jangan dipelihara),” kisah teuntra itu.

Maknanya, setiap permasalahan harus dicari puncanya, harus diselesaikan. Setiap halangan dalam perjuangan harus dilewati. Yang menjadi penyakit agar diobati, jangan dibiarkan. Yang bertabiat buruk, tidak diberikan amanah untuk mengurus perjuangan.

Itulah beberapa kenangan tentang Wali, Teungku Hasan Di Tiro, yang lahir pada 25 September 1925. Hari milad Tengku Hasan di Tiro, perlu diingat dengan mengenang kisah perjuangan almarhum.

Semoga Allah melapangkan kubur almarhum Wali dan seluruh yang telah berkorban untuk perjuangan Aceh, semoga mereka semua dikumpulkan bersama para aulia dan syuhada. [Munawar LZ]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
20,864FollowersFollow
22,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU