Thursday, April 9, 2020

Ini Alasan Pemko Banda Aceh Larang Barongsai

Must Read

Kantor Unicef Digranat

Kantor perwakilan Unicef di Jalan Masjid Assadakah Lorong 3 Lamlagang Banda Aceh, Selasa (17/3) sekitar pukul 03.00 dinihari dilempari...

Joki Cilik Ikut Pacuan Kuda Gayo

BELANG BEBANGKA | ACEHKITA.COM -- Dua ratus ekor kuda ikut memeriahkan lomba pacuan kuda tradisional di arena pacuan kuda...

Korban Bumi Blora

Warga korban penyerobotan tanah oleh PT Bumi Flora di Aceh timur, menyampaikan tuntutan mereka pada ketua Hasbi Abdulah dan...

10 Partai Belum Daftarkan Jurkam ke KIP

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Masa kampanye Pemilihan Umum 2014 tinggal menghitung hari. Namun, belum satu pun calon anggota...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Pemerintah Kota Banda Aceh menyebutkan pelarangan pagelaran liong dan barongsai untuk memperingati tujuh tahun usia perdamian, merupakan kebijakan untuk saling menghargai kehidupan antarumat beragama di Banda Aceh. Bahkan, seni barongsai dan liong tidak tepat dipentaskan pada bulan Ramadan.

Plt Walikota Banda Aceh Teuku Saifuddin T.A., menyebutkan, keputusan untuk melarang penampilan liong dan barongsai itu diambil setelah meminta pertimbangan dari Majelis Permusyawaratan Ulama dan sejumlah pihak lainnya.

“Kami berkesimpulan bahwa kegiatan ini tidak sesuai dengan pelaksanaan syariat Islam dalam bulan Ramadan,” kata Saifuddin dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi acehkita.com, Selasa (14/8).

Menurutnya, jika pagelaran itu tetap dilaksanakan di bulan Ramadan, dikhawatirkan akan menimbulkan gelombang protes dari masyarakat. “Karena itu, kita minta untuk ditunda dulu sampai selesai Ramadan,” uja Saifuddin.

Seperti diberitakan acehkita.com, Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian memprotes keras pelarangan pementasan barongsai dan liong, dua kesenian masyarakat Tionghoa, dalam pekan peringatan tujuh tahun usia perdamaian. Selain menampilkan liong dan barongsai, kegiatan itu juga diisi dengan pasar murah, panggung perdamaian, tausiyah Ramadan, dan penyampaian harapan masyarakat Aceh (termasuk etnis Tionghoa yang berdomisili di Aceh) terhadap penguatan perdamaian.

Juru Bicara Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian Azriana menyebutkan, pelarangan itu sebagai bentuk intoleransi Pemerintah Kota Banda Aceh dan meminggirkan aspirasi etnis minoritas di Aceh. JMSP juga menyatakan telah mendapat restu dari dari Wakil Walikota Banda Aceh untuk kegiatan multikultur ini.

Teuku Saifuddin menyebutkan, ketika aktivis Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian beraudiensi dengan Wakil Walikota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal, tidak membicarakam masalah pagelaran barongsai dan liong.

“Yang dibicarakan hanya deklarasi damai saja, tidak ada pembicaraan terkait barongsai. Ibu Illiza tidak mengetahui ada materi seni tersebut,” kata Saifuddin yang juga Sekda Banda Aceh itu.

Lebih lanjut, T Saifuddin juga memaparkan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan di Banda Aceh harus mendapatkan izin dan rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama dan pertimbangan dari Dinas Syariat Islam. Selain itu, surat keterangan terdaftar dari Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Massa (Kesbangpol Linmas).

“Sementara LSM Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian ini belum memiliki SKT dari Kesbangpol Linmas,” kata Saifuddin.

Meski melarang pertunjukan barongsai dan liong, Plt Walikota menolak disebutkan Pemerintah Banda Aceh intoleran. Menurutnya, kehiduoan umat beragama di ibukota Provinsi Aceh ini berjalan cukup baik. Karenanya, ia berharap kepada semua pihak untuk tidak memperkeruh suasana, “karena toleransi kehidupan beragama sudah berjalan sangat baik di sini dan mestinya sama-sama dijaga”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Tiga Pasien Positif COVID-19 di Aceh Sembuh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Tiga pasien positif corona atau COVID-19 di Aceh dinyatakan sembuh. Mereka diperbolehkan pulang setelah...

200 Pengemudi Ojek Daring di Aceh Peroleh Bantuan Sembako

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 200 pengemudi ojek daring di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Aceh, memproleh bantuan sembako dari Forum...

Update Corona di Aceh: Sudah 37 PDP COVID-19 Pulang dari RS dan Sehat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 37 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona atau COVID-19 di Aceh dilaporkan sembuh dan telah pulang dari...

Update Corona di Aceh: ODP Bertambah Jadi 893, PDP 45, dan Hasil Swab EY Negatif

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona atau COVID-19 di Aceh kembali bertambah. Kali ini ODP bertambah 96 orang menjadi...

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis yang saat ini menjadi garda...

More Articles Like This