Gubernur Aceh dari Masa ke Masa

Design: Habil Razali/acehkini

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah resmi dilantik sebagai Gubenur Aceh (definitif) oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian pada 5 November 2020. Dia menggantikan Gubernur Irwandi Yusuf, yang tersandung kasus korupsi. Nova tercatat sebagai Gubernur Aceh ke-27, sepanjang sejarah provinsi paling ujung Sumatera.

Setelah merdeka bersama Indonesia, 17 Agustus 1945, Sumatera dan Aceh masih tergabung dalam satu provinsi di bawah pemerintahan republik yang telah didirikan. Gubernur pertama Sumatera dan Aceh adalah Mr. Muhammad Hasan, putra Aceh asli kelahiran Pidie. Tak lama kemudian, Aceh menjadi provinsi dan Teuku Nyak Arief dipilih sebagai gubernurnya.

Sepanjang sejarah usai kemerdekaan republik, Aceh telah mempunyai 27 orang gubernur. Paling dikenal, setidaknya yang paling banyak tercatat sejarah adalah Tgk Daud Beureueh, Gubernur yang memimpin sendiri pemberontakan karena kekecewaan terhadap Jakarta.

Tgk Daud menilai Jakarta mengkhianati perjuangan Aceh, dengan melakukan beberapa tindakan politik. Antaranya, membubarkan Divisi X TNI di Aceh yang terkenal. Lalu, pada 23 Januari 1951, status Provinsi Aceh dicabut oleh kabinet Natsir. Aceh dipaksa lebur dalam Provinsi Sumatera Utara.

Beberapa kali setelah kuasanya hilang, Daud Beureueh, sang pemimpin Aceh masih sempat menghadap Soekarno, tapi patah arang. 21 September 1953, Daud Beureueh pun memukul gong pemberontakan, setelah kongres ulama di Titeue, satu kecamatan di Pidie. Di sana dia menyatakan Aceh menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia, mengikuti jejak Kartosoewirjo di Jawa Barat. Perlawanan bersenjata dimulai. Bersama Beureueh, sejumlah pasukan TNI pun bergabung menjadi Tentara Islam Indonesia (TII). Sehari setelah proklamasi itu, mereka menguasai sebagian besar daerah Pidie, dan bertahan di Garot.

Dalam masa pemberontakan DI/TII di Aceh, empat orang gubernur silih berganti memimpin Aceh, dari Danu Broto, Teuku Sulaiman Daud, Abdul Wahab, Abdul Razak, sampai Ali Hasjmy.

Pemberontakan Daud Beureueh berakhir lewat berbagai upaya perdamaian yang bermartabat. Beliau luluh, bersedia turun gunung berserta pasukan setianya, pada 9 Mei 1962. Daerah Aceh kemudian berstatus Istimewa.

Ali Hasjmy yang memimpin Aceh kala itu, sangat menghormati Tgk Daud Beureueh. Gubernur Ali juga banyak tercatat dalak literatur Aceh, sebagai sosok cinta budaya dan adat istiadat. Dia kerap keliling Aceh untuk mengumpulkan kitab-kitab lama sejarah Aceh. sebagian masih tersimpan rapi di museumnya, Jalan Sudirman, Banda Aceh.

Para gubernur terus berganti, seiring konflik Aceh yang tumbuh setelah Tgk Hasan Muhammad Di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976, di Pidie. Sepanjang 29 tahun konflik terjadi lagi di Aceh, tercatat 9 gubernur memimpin Aceh, dari A Muzakkir Walad sampai Azwar Abubakar.

Bencana besar tsunami melanda Aceh pada 24 Desember 2004, menyebabkan 200 ribu lebih warga menjadi korban, setengah juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Sebagian besar wilayah pesisir Aceh hancur lebur.

Bencana menjadi salah satu pemicu upaya perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang selanjutnya diinisisi oleh Crisis Management Initiative (CMI) sebuah lembaga asal Finlandia. Pada 15 Agustus 2005, konflik berakhir setelah damai disepakati lewat perundingan di Helsinki, Finlandia. Kesepakatan damai itu dikenal sebagai MoU Helsinki.

Setelah damai, tercatat 2 mantan petinggi GAM dipercaya masyarakat untuk menjadi Gubernur Aceh dalam pemilihan yang telah digelar secara langsung. Mereka adalah Irwandi Yusuf, selanjutnya Zaini Abdullah.

Berikut adalah para Gubernur Aceh dari masa ke masa:

  1. Mr Mohammad Hasan, berkuasa di Sumatera dan Aceh (1945)
  2. Teuku Nyak Arief (1945-1946)
  3. Teuku Daud Syah (1947-1948)
  4. Daud Beureueh (1948-1951)
  5. Danu Broto (1951-1952)
  6. Teuku Sulaiman Daud (1952-1953)
  7. Abdul Wahab (1953-1955)
  8. Abdul Razak (1955-1956)
  9. Ali Hasjmy (1957-1964)
  10. Nyak Adam Kamil (1964-1966)
  11. Hasbi Wahidi (1966-1967)
  12. Muzakkir Walad (1967-1978)
  13. Dr. A. Madjid Ibrahim (1978-1981)
  14. Eddy Sabhara (Pjs) (1981)
  15. Hadi Thayeb (1981-1986)
  16. Dr. Ibrahim Hasan (1986-1993)
  17. Dr. Syamsudin Mahmud (1993-21 Juni 2000)
  18. Ramli Ridwan (Pj. 21 Juni 2000-November 2000)
  19. Abdullah Puteh (November 2000-19 Juli 2004)
  20. Azwar Abubakar (Pj. 19 Juli 2004-30 Desember 2005)
  21. Mustafa Abubakar (Pj. 30 Desember 2005-8 Februari 2007)
  22. Irwandi Yusuf (8 Februari 2007-2012)
  23. Tarmizi Karim (Pj 2012)
  24. Zaini Abdullah (2012-2017)
  25. Soedarmo (Pj. 2017)
  26. Irwandi Yusuf (2017-2018)
  27. Nova Iriansyah (Plt 2018-2020, 2020 – sekarang)

[acehkini]

 

 

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.