Gravitas

0
153
Ruas Tol Sibanceh Seksi 4 Diharap Segera Dibuka untuk Umum
Ruas Tol Sibanceh Seksi 4 Diharap Segera Dibuka untuk Umum

Sebagian jalan tol di Aceh sudah mulai fungsional. Paling tidak sebagian dari ruas tol Sigli – Banda Aceh  (Sibanceh). Beberapa awak media dan masyarakat umum sudah ada yang mencoba jalur 14 km yang sudah fungsional antara Indrapuri-Blangbintang. Kabarnya akhir Juni ini, jalur ini akan diresmikan.

Video dan foto jalan tol pertama di Aceh itu bermunculan di sosial media. Sebagian menyambutnya dengan gembira penuh harap. Sebagian mencibir karena jalan tol yang sudah fungsional masih sangat pendek, 14 km dari 74 km tol Sibanceh.

Sebagian yang lain mulai mendiskusikan manfaat jalan tol itu untuk Aceh dan masyarakatnya. Yang lebih kritis mulai mendiskusikan apa dampak jalan tol tersebut pada masyarakat, kota, dan wilayah yang dilaluinya nanti seperti Seulimuem, Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Lhoksukon, hingga Peurulak, Langsa, Kuala Simpang, hingga ke perbatasan dengan Sumatera Utara menuju Medan.

Pembangunan infrastruktur berskala besar seperti jalan tol punya pengaruh besar dan sangat signifikan. Bukan hanya karena besarnya perubahan lanskap: tanah dikeruk, hutan ditebang, sawah beralih fungsi, dan sebagainya, tapi juga akan terjadi pergeseran dan tarik-menarik antar kota dan wilayah yang menjadi bagian atau dilalui proyek infrastruktur tersebut. Yang terakhir ini sepertinya tidak banyak dibahas, apalagi oleh masyarakat awam.

Padahal sejarah telah begitu gamblang memberi catatan dan pelajaran. Bagaimana jalur sutera, misalnya, mengubah lanskap, tata kota, kebudayaan, hingga peradaban wilayah-wilayah yang pernah dilaluinya. Kemudian apa yang terjadi ketika jalur sutera itu meredup atau berpindah. Struktur geo-politik berubah karena jalur-jalur perdagangan.

Saat Jalan Lintas Sumatra (JLS) selesai di masa Orba, pusat-pusat pertumbuhan baru di Sumatera bermunculan. Namun sejumlah pusat pertumbuhan lama telah mati karena tidak dilalui JLS lagi.

Untuk wilayah Aceh, kita belajar secara pahit bagaimana pelabuhan Sabang yang begitu dinamis sejak masa Nusantara Maritim, masa kolonial, hingga tahun 80-an dengan “jengek”, jenggo ekonominya, tiba-tiba mati saat Soeharto dan rejim Orba-nya membuka Batam untuk menampung spillover dari Singapura dan mematikan status Sabang sebagai pelabuhan bebas. Saat status pelabuhan bebas dikembalikan pada Sabang, setelah perjuangan penuh “darah dan airmata”, kota di Pulau Weh itu tak kunjung jaya kembali seperti dulu kecuali untuk pariwisatanya.

Di daratan Aceh, tidakkah kita belajar dari bagaimana Kota Sigli pernah sangat ramai kemudian redup dan sebaliknya Matang Glumpang Dua jadi kota 24 jam seperti Sigli dulu?

Semua contoh di atas menunjukkan “ilmu pengetahuan dan teknologi” yang terus mengubah kehidupan.

Saat jalan masih belum bagus, bus masih sederhana, dari Banda Aceh ke Sigli perlu 4-5 jam, sehingga Sigli adalah tempat ideal untuk “next meal“, makan berikutnya, saat melakukan perjalanan sepanjang jalur tsb. Kemudian jalan makin baik dan bus makin nyaman. Banda Aceh – Sigli kini bisa ditempuh hanya sekitar 2,5-3 jam.

Saat ini, paling orang hanya mampir untuk ngopi saja di Sigli dalam perjalanannya ke Timur. Karena “next meal” lebih pas di Matang, yang dicapai dalam hitungan 5-6 jam dari Banda Aceh. Bukan hanya karena waktu makan yang pas, di Matang juga ada “Sate Matang” yang terkenal lezatnya.

Dengan jalan tol baru nanti, sepertinya “next meal” untuk pelaku perjalanan dari Banda Aceh akan berada sekitar Lhoksukon.

Sain dan teknologi berkembang dan semua bisnis akan pasang surut sesuai perkembangan itu. Tapi bisnis kuliner akan tetap karena manusia tetap perlu makan. Dan jam biologis makan manusia masih sekitar 5-6 jam!

Tinggal kita lihat nanti bagaimana tiap-tiap kota dan warganya menyesuaikan diri.

Para ahli perencanaan wilayah mengamati perubahan antar wilayah itu dengan salah satu model sederhana: Model Gravitas (Gravity Model).

Gravitas atau ‘gravitasi’ adalah daya tarik-menarik universal antar semua material di alam. Dalam mekanika, gravitasi didefinisikan berbanding lurus dengan suatu konstanta dan besarnya massa dua material yang saling Tarik-menarik. Dalam definisi yang sama, gravitas juga berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua material tersebut.

Artinya, makin besar massa material, makin kuat daya tariknya. Sebaliknya, makin jauh jarak sebuah material, makin lemah daya tariknya.

Teori ‘gravitasi’ dalam fisika dasar ini kemudian juga menjadi dasar bagi berkembangnya sejumlah konsep baru. Salah satunya adalah Model Gravitas yang berkembang dalam Ilmu Geografi, Perencanaan Wilayah, dan Ekonomi Regional.

Kota mana yang akan makin berkembang dan wilayah mana yang akan meredup sepanjang jalan tol Banda Aceh hingga Medan, bahkan nanti hingga Lampung di ujung Selatan Sumatera, akan ditentukan besarnya jumlah penduduk/ekonomi kota atau wilayah itu dan jarak relatifnya dengan kota dan wilayah lain.

Kota-kota sepanjang jalur tol yang secara relatif diuntungkan oleh jam biologis manusia untuk rehat atau makan tiga kali sehari akan secara alami menjadi lebih ramai. Bagi yang tidak, maka kreativitas untuk menawarkan daya tarik dan atraksi akan menentukan.

Jadi, setiap kota dan wilayah harus berpikir sejak sekarang bagaimana agar pelintas Tol Trans Sumatera mau keluar pintu tol dan mampir ke kota dan wilayahnya.

Dengan tol, jarak Banda Aceh – Sigli hanya perlu perlu 1 jam, Banda Aceh – Matang Glp Dua mungkin sekitar 3 jam? Makan berikutnya di Lhoksukon? Terus apa alasan untuk berhenti di Sigli, Bireuen, Matang, Lhokseumawe?

*Saiful Mahdi, dosen di Jurusan Statistika, FMIPA Unsyiah. Isi tulisan adalah pandangan pribadi.

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.