Berlomba Menuju Kehancuran (1)

0
347
Sumber: dental-tribune.com
Sumber: dental-tribune.com

Tekad Saya menulis teratur kembali terganggu. Niat untuk menulis seminggu sekali dalam kolom ini kembali terlewati. Sudah dua minggu lebih Saya bingung. Tak yakin mau menulis apa. Berulang kali memulai, tapi terhenti. Writer block?

Ah, biasanya Saya bisa mengatasi writer block. Saya percaya kelancaran Saya menulis tergantung kelancaran dan banyaknya Saya membaca. Membaca dalam arti luas. Jikapun terhenti di tengah jalan, dengan menambah bacaan biasanya Saya bisa kembali lancar menorehkan isi pikiran. Meskipun hanya untuk torehan sederhana seperti dalam kolom ini. Tapi tidak kali ini.

Mungkin Saya dipengaruhi keadaan kita saat ini. Keadaan yang tanpa gairah. Di tengah ketidakpastian. Karena wabah covid-19, ekonomi lesu. Lesunya ekonomi ikut melesukan bagian kehidupan lainnya. Dan diperkirakan keadaan akan makin lesu. Sebentar lagi kita akan memasuki resesi.

Kota pelajar dan mahasiswa ini, Kopelma Darussalam, terasa mati. Tadi pagi, Senin pagi yang kesekian dalam masa pandemi, keadaan masih lengang. Dulu, jalanan riuh-rendah setiap pagi. Apalagi Senin pagi. Setelah sekian lama sepi, tadi pagi terasa makin sunyi. Entah suasana hati mempengaruhi projeksi ke luar diri. Atau bisa jadi suasana muram di setiap pagi makin tak terperi?

Bosan? Bisa jadi. Sekian lama menikmati work from home (WFH). Menambah quality time dengan keluarga. Mengejar ketinggalan bacaan. Menikamti jalan pagi lebih rutin. Sekali-sekali bersepeda. Bahkan ikut-ikutan berkebun. Tapi perlahan-lahan semua terasa makin hambar. Sesekali bahkan buram.

Untuk menambah variasi dan mengatasi kejenuhan, seminggu sekali kami pergi ke tempat-tempat baru. Tempat yang belum ramai. Agar tetap bisa menjaga protokol covid. Warung kopi biasa. Pantai tersembunyi. Warung nasi di perdesaan. Kedai mie Aceh yang belum terkenal.

Kadang sengaja memilih waktu sepi. Ke pantai saat matahari baru naik. Bila memungkinkan, kadang di malam hari. Belanja ke pasar pada Senin atau Selasa pagi. Sesekali masih ngopi sama teman-teman. Tidak seramai dulu. Tetap jaga jarak dan pakai masker. Dan di tempat yang lebih sepi.

Tetap saja akhirnya jenuh sendiri….

Wabah corona ini memang ujian untuk semua lini. Termasuk ujian untuk konsep diri manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Kita butuh bersosialisasi. Ada bagian kita yang suka kerumunan. Baik yang pribadi seperti keluarga atau teman-teman dari berbagai kumpulan: kolega kantor, asosiasi profesional, organisasi alumni, atau sekedar klub hobi. Tapi semua kita tahu, kerumunan harus kita hindari di masa pandemi ini. Risikonya terlalu tinggi.

Hasrat berkumpul sedikit terobati dengan teknologi telekomunikasi. Dari gawai masing-masing kita bertelekonferensi. Diskusi, webinar, atau sekedar temu kangen dan silaturrahmi. Lewat berbagai aplikasi. Tetap saja ada yang rasanya belum mencukupi?

Bahagia bersama

Jika merenung dan berpikir adalah bagian dari proses menulis, maka bisa jadi kali ini Saya “tersesat dalam perenungan”. Saya memang baru bisa menulis setelah membaca cukup banyak, mengendapkan bacaan-bacaan itu cukup lama, menghubung-hubungkan satu bacaan dengan bacaan yang lain, mencari informasi lagi, dan membaca lagi. Jika itu sudah terjadi, bisa jadi Saya menulis cukup lancar. Tapi kadang nggak juga sih.

Saya tidak tahu perasaan para pembaca. Tapi Saya memang merasa hidup makin buram di sekeliling Saya. Dan setelah Saya renung-renungkan, setelah mencoba berbagai cara untuk tetap memelihara gairah, optimisme, dan keceriaan seperti ditulis di atas, Saya pikir suasana buram itu sama sekali bukan salah Saya. Bukan kesalahan pembaca yang kebetulan merasakan keburaman seperti saya. Bukan kesalahan siapapun kita secara sendiri-sendiri.

Bagi yang merasa buram, seperti perasaan Saya sebelum menuliskan ini,  percayalah hanya ada satu cara agar bisa tetap optimis dan bahagia. Satu-satunya cara itu adalah “bahagia bersama”. Ya, kita hanya bisa bahagia dan ceria jika kita bahagia bersama!

Dan karena kita kurang bisa bahagia bersama selama pandemi, maka kebahagiaan kita makin berkurang. Mungkin karena itu ada orang bijak yang bilang “Kebahagiaan hakiki adalah saat Anda membahagiakan orang lain”? Saat mobilitas kita makin terbatas, ternyata kesempatan membahagiakan orang lain juga makin terbatas?

Bisa jadi. Tapi yang membuat suasana makin buram di tengah segala ketidakpastian ini adalah karena “kebahagiaan bersama” makin langka. Beberapa saat di awal pandemi, kita ikut bahagia membaca para tentangga satu desa saling membantu. Sayur-manyur yang dibagikan gratis. Para artis dan seleberitis menbuat penggalangan dana. Lembaga sosial menyalurkan aneka bantuan. Anak-anak mengumpulkan tabungannya untuk membantu mereka yang kehilangan pekerjaan.

Sampai kemudian pemerintah turun tangan dengan aneka program bantuan sosial. Setelah itu, yang kita tonton di tv dan baca dalam berita adalah hingar-bingar debat tentang bantuan sosial itu sendiri. Sisi human interest nya makin kabur. Apalagi setelah debat mana dulu yang harus diprioritaskan: kesehatan atau ekonomi. Debatnya terasa makin dangkal.

Pada level lebih kecil, kita di Aceh juga mengalami hal yang sama. Di awal pandemi, ada berita saling bantu dan gotong-royong antar penduduk di sebuah gampong yang melakukan “lockdown terbatas” atau “isolasi mandiri”. Bahkan antar gampong.

Kita bekerjasama. Karena itu kita bahagia bersama. Begitu ada bantuan sosial, termasuk lewat dana desa, kita mulai mendengar masyarakat yang kebali nafsi-nafsi, bahkan sampai berita korupsi atau salah administrasi. Kebahagiaan bersama tereduksi.

Sepertinya, makin makro dan top-down sebuah program, termasuk program bantuan sosial, makin tidak membuat bahagia. Sebaliknya, makin lokal, makin mikro, makin bottom up makin terdistribusi kebahagiaan itu. Makin banyak kesempatan kita “bahagia bersama”.

Tetapi kenapa kita tetap memilih untuk tidak bahagia? Karena sistim kapitalis-individualistik memang selalu bisa memberi fatamorgana kebahagiaan pada penguasa dan sebagian elit dalam masyarakat. Yang namanya fatamorgana kebahagiaan adalah kebahagiaan yang semu. Paling banter cuma kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan jangka pendek. Dan hanya untuk sebagian kecil orang.

Kenapa begitu? Karena dalam sistim kapitalis-individualistik melekat “perlombaan menuju kehancuran”. (Bersambung).

Darussalam, 7 September 2020

*Peneliti di ICAIOS. Email: [email protected]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.