Monday, November 29, 2021
spot_img

Warkop Rasa Universitas

Usai shalat subuh, saya mendapatkan telpon via WhatsApp dari Cek Pan. Dia paham perbedaan waktu antara Inggris dan Indonesia, dan dia paham betul usai subuh adalah waktu saya berkomunikasi dengan sodara atau sahabat di Indonesia. Tapi kali ini Cek Pan bikin statement yang sempat bikin kuping saya panas.

“Pak Dos, sebaiknya universitas di nanggroe ditutup aja. Ganti dengan warkop!”

Suhu 12 derajat celcius kota Sheffield saat subuh itu serasa mendadak panas mendengar komentar pembuka Cek Pan. Sebagai seorang dosen, emosi saya naik ke puncak yang tinggi saat ia menyepelekan institusi perguruan tinggi. Pagi-pagi udah ajak berkelahi, ujar saya dalam hati.

Pakon Cek Pan? Kenapa pulak kampus harus diubah jadi keudee kupi?” Saya tetap berusaha bertanya dengan kalem, sambil menenangkan diri.

Ia menjawab, “Karena, di kampus sudah tidak lagi menjamin kebebasan berpendapat. Orang-orang kritis dimasukkan penjara”.

Saya mulai paham arah pembicaraannya.

“Lebih baik universitas mengubah status menjadi warkop. Karena di warkop kebebasan pendapat tetap dijamin dan dijunjung tinggi. Contohnya, liat saja warkop saya. Setiap hari orang ke sini berbicara apa aja secara bebas. Mau kritik penguasa, pejabat, anggota dewan, tetangga, sodara, siapa saja. Bahkan saya sendiri sering mendapat kritik dari pembeli. Gak pernah tuh saya marah atau menuntut para pengkritik itu ke pengadilan. Han tom ta kalon lagee nyan.”

Saya mulai paham arah pembicaraan Cek Pan pagi ini. Ia sedang membahas tentang hukuman penjara yang menimpa seorang dosen Universitas Syiah Kuala, Dr Saiful Mahdi (SM). Ini berawal dari komentar SM yang mengkritisi proses rekrutmen PNS di institusi tempat ia bekerja. Kritikan itu disampaikan melalui grup WhatsApp terbatas. Tapi, tak terima dengan kritikan pedas SM, salah seorang pemimpin kampus melaporkan kritikan itu ke penegak hukum. Ia dituduh melakukan pencemaran nama baik yang berlindung di bawah Undang-undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE).

“Di warkop gak berlaku UU ITE itu. Di sini yang ada bu si itek (nasi gulai bebek)” tambah Cek Pan sambil tertawa kecil.

Konsentrasi saya sejenak terganggu ketika Cek Pan mengingatkan bu si itek. Dia tahu betapa rindu dan tergila-gilanya saya pada kuliner khas Aceh ini.

Kembali ke pokok permasalahan, tentang tanggung jawab universitas atau kampus yang seharusnya menciptakan dan mempertahankan ruang-ruang kebebasan berpendapat, seperti disampaikan Cek Pan. Universitas seharusnya ikut melahirkan para intelektual yang mampu berfikir kritis dan bergerak dinamis dalam berkontribusi mengatasi permasalahan masyarakat dan bangsa.

Mampu berfikir secara kritis bukanlah perkara mudah. Ia butuh kejernihan berfikir, daya analisis dan berani mengungkapkannya. Bagi orang yang tidak paham, mereka sering mencibir sikap kritis yang sebagai tindakan sia-sia bahkan dianggap sebelah mata. Terkadang kita mendengar, “Jangan hanya bisa mengkritisi, coba kasih solusi”.

Orang-orang tersebut saya yakin belum paham perbedaan antara mengkritisi dan memberi solusi. Itu dua hal yang berbeda, yang dapat dilakukan salah satu, atau juga bisa keduanya. Tapi antara kritis dan solusi bukan satu kesatuan. Artinya, kritik bisa disampaikan tanpa perlu mengajukan solusi. Karena berfikir kritis, sekali lagi, bukan perkara mudah dan butuh keberanian.

Track record seorang SM menjelaskan ia bukan sekadar seorang akademisi, namun juga intelektual yang kritis, serta mampu berkontribusi memberi solusi. Saya tahu betul bagaimana kritik dan gagasannya dalam mengatasi permasalah sosial ekonomi di Aceh, seperti tingginya angka stunting, kemiskinan dan pengangguran.

Saat membaca kembali pesan WA yang berakhir penjara itu (yang juga banyak beredar di media massa), saya melihat itu sebagai bentuk ekspresi dari kekecewaannya terhadap kebijakan kampus dan upaya-upaya mengajak pihak-pihak yang terlibat untuk berdiskusi dan berfikir kritis. Saya yakin, ia sedang menjalankan “amanah” Noam Chomsky, dalam essay berjudul The Responsibility of Intellectuals (1967), yang menjelaskan bahwa “tanggungjawab para intelektual adalah mengatakan kebenaran dan mengungkap kebohongan”. Kritikan tajam SM melalui grup WhatsApp menurut saya adalah upaya mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi yang dikemas dalam kata-kata tajam. Salah satunya dengan menggunakan istilah “matinya akal sehat”.

Dan untuk menjawab soalan tentang “masih hidup atau sudah matinya akal sehat” pun sebenarnya cukup sederhana, tak perlu baper. Jika pernyataan SM itu salah, cukup dengan memberikan bukti-bukti yang kuat bahwa yang disampaikannya itu tidak terbukti. Alih-alih memberi argumentasi dan mengajukan bukti, pihak yang tertuduh malah mengadukan SM ke polisi.

Cek Pan masih terdiam sejenak mencerna penjelasan saya yang panjang lebar. Tapi, ia sepertinya masih belum puas dan tetap mempromosikan gagasan uniknya tentang kehebatan warkop sebagai alternatif pengganti universitas.

“Tapi, lihat saja selama pandemi, orang-orang sering belajar, kuliah, atau ikut kursus melalui warkop. Yang penting ada koneksi internet atau wi-fi, orang-orang tak perlu lagi kuliah ke kampus. Ada banyak tersedia seminar, pelatihan, kursus dan bersertifikat pula. Jadi, untuk apa lagi ke kampus?”

Pertanyaan Cek Pan semakin memprovokasi. Tapi, saya kira ia ada benarnya. Tapi itu bukan berarti dengan serta-merta saya sepakat untuk mengubah fungsi warkop menjadi universitas. Warkop sebagai ruang publik tentu memiliki kelebihan namun juga kelemahan. Sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, atau hiburan warkop adalah tempat yang paling tepat. Tapi untuk menuntut ilmu secara serius tentu tidak semudah itu.

Sambil tersenyum saya balik ke Cek Pan dengan pertanyaan sederhana. Karena saya tahu, terkadang tak perlu terlalu serius menanggapi sahabat satu itu.

Okelah, kalo nanti kuliah di warkop, bagaimana nanti mahasiswa kedokteran yang mau praktek otopsi jenazah, apa warkop bersedia kasih tempat”

Kali ini Cek Pan terdiam. Sayup-sayup terdengar orang-orang memanggil namanya. Mungkin ada yang mau pesan kopi atau mau tanya berapa tagihan mereka. Lalu tanpa basa-basi ia menyudahi percakapan tanpa menjawab pertanyaan saya tadi. []

Penulis adalah Dosen FEBI UIN Ar Raniry & kandidat PhD pada Universitas Sheffield, Inggris

Fahmi Yunushttp://ACEHKITA.com
Fahmi Yunus adalah periset komunikasi massa dan studi pembangunan.

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
20,956FollowersFollow
22,600SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU