Suriah, Ahlu Syam yang Terpinggirkan

Oleh Cut Endang Puspa Sari, Lc, M.Ag
(Anggota Muslimah IKAT Aceh, melaporkan dari Jordania)

Bulan Februari 2020 lalu, saat kaki ini pertama kali menginjakkan di Jordania, yaitu salah satu negeri pecahan bumi Syam untuk mendampingi suami melanjutkan studi doktoralnya, saya bisa melihat dari dekat apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi Syam. Bukan hanya hasil propaganda media yang terkadang cenderung subjektif serta mendeskreditkan Islam dan kaum muslimin.

Syam adalah sebuah negeri di Semenanjung Arab yang berbatasan dengan Saudi Arabia dan Irak di bagian baratnya. Dulu, Syam merupakan gabungan beberapa negara yang dipecah saat Inggris membagi-bagikan daerah kekuasaan setelah runtuhnya Khilafah Utsmani.

Palestina, Suriah, Jordania, dan Lebanon; keempat negara pecahan Syam yang kemudian memerdekakan diri dari Commonwealth Britain. Sebagai negeri yang terberkati bahkan Nabi SAW menjadikan Syam dan Ahlul Syam sebagai barometer keimanan, apabila rusak keimanan ahlu Syam maka akan rusak keimanan seluruh mukmin.

Negeri jihad dan ribath, yang mempersatukan kekuatan dan kejayaan Islam masa lampau. Negeri dimana penduduknya dikenal dengan orang-orang yang paling gigih dalam berjuang, dan negeri dimana peristiwa tanda akhir-akhir zaman nantinya akan bermunculan.

Kini Syam tinggal nama. Damaskus sebagai Ibukota sekaligus pusat peradaban Islam ketika Dinasti Umayyah bertahta, kini hancur berkeping-keping. Hujan molotov membanjiri langit Suriah secara berkala, campur tangan asing dalam huru-hara Suriah menambah runyam suasana. Bukan hanya kehancuran fisik yang diderita, mereka lagi-lagi harus rela kehilangan sumber peradaban Islam dan tanah air yang mereka cintai.

Perang berkelanjutan membuat sebagian penduduk Suriah terpaksa meninggalkan tanah air untuk menyelamatkan nyawa dan mencari kehidupan yang lebih baik. Sebagian mereka pindah ke negara-negara tetangga, tapi layaknya kehidupan pengungsi. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan, mereka harus rela hidup di kamp-kamp penampungan dengan fasilitas menyedihkan. Tak tau sampai kapan mereka terus dapat bertahan dan melanjutkan kehidupan di sana.

Malam itu, saya bersama suami dan anak-anak keluar dari rumah untuk menyegarkan pikiran setelah seharian menetap di rumah. Di persimpangan jalan terlihat ada beberapa orang pengemis yang datang menghampiri sembari mengadahkan tangannya mengharap belas kasih orang. Dari kejauhan kami sudah memperhatikan gelagat anak-anak pengemis itu yang harus putus asa ketika diabaikan orang-orang sekitar. Tak pelak hal itu membuat kami iba, lantas kami memberikan beberapa lembar uang dinar untuk mengobati kekecewaan mereka. Mata mereka sangat berbinar ketika uang dinar itu berpindah ke tangan mereka, senyum kebahagiaan itu seketika menyapa tulus di raut wajah mereka.

Kami melanjutkan perjalanan, melewati beberapa flat di daerah Hijazi untuk membeli cabe merah di toko kelontong yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki dari kediaman kami. Di dalam kegelapan kami melihat di seberang jalan ada beberapa tong sampah berwarna hijau dengan posisi yang berantakan. Tetapi ada yang aneh dengan tong sampah ini, tong sampahnya bergerak-gerak. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh penampakan seorang anak bertopi merah, sedang memungut sisa-sisa makanan. Kami lebih menajamkan penglihatan untuk lebih mawas dengan keadaan sekitar. Ternyata sosok yang muncul adalah sosok anak yang sama yang kami temui di persimpangan sebelumnya. Si kribo begitu kami memangilnya karena rambutnya yang keriting brokoli, dengan senyum bahagia ia menyapa kami dengan salam.

”Salam ya Shadiq” sapanya dari kegelapan.

Ironi sekali, sedangkan di negeri kita Indonesia begitu banyak makanan terbuang sia-sia, hidup konsumtif, hedonis yang selalu mengedepankan keinginan bukan kebutuhan, sementara mereka harus puas memakan sisa-sisa makanan yang terbuang.

Kepedihan hidup yang ia alami mendetakkan kesedihan dan perenungan mendalam bagi kami. Betapa tidak, masa kecil yang seharusnya dihabiskan dengan bermain dengan susunan lego, tetapi kenyataannya harus bermain di tengah-tengah tumpukan sampah yang bau dan menjijikkan. Mengais-ngais sisa makanan sebagai pengganjal perut, tak banyak sisa harapan kecuali dapat bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup yang harus dilewati.

Terusir dari bumi kelahirannya, menjadi gelandangan di negeri orang yang tak tentu arah. Begitulah salah satu keadaan dari jutaan pengungsi Suriah yang ditampung di Jordania saat ini. Tercatat negara King Abdullah ini sekarang menampung lebih dari tiga juta pengungsi yang mayoritas berasal dari belahan bumi Syam lainnya, Suriah dan Palestina.

Biaya kehidupan di Jordania yang sangat tinggi dengan kurs Dinar hampir senilai Rp. 21.000,- tentunya sangat mencekik bagi para pengungsi yang datang dengan bekal seadanya. Ketika uang senilai Rp5000,- di Indonesia dapat dibelanjakan untuk membeli sebuah jus atau sebungkus nasi gurih, sedangkan di sini hanya cukup untuk membeli 2 buah permen lollipop.

Mereka ditampung di 10 titik penampungan yang berada di perbatasan Jordania. Suriah letaknya sangat dekat dengan Jordania, bahkan dapat dijangkau dengan pandangan mata. Di lembah Yarmouk contohnya, tempat di mana peperangan Yarmouk terjadi, Jordania hanya berbatasan dengan sebuah hamparan lembah yang di balik bukit, yang langsung bertepian dengan Suriah. Dekatnya lokasi ini menjadikan Jordania sebagai pilihan warga Suriah untuk mengungsi.

Pengemis di sebahagian besar wilayah Jordania, hampir rata-rata berkewarganegaraan Suriah. Terkadang mereka datang ke rumah-rumah warga untuk meminta bantuan pangan dan sandang. Keadaan semakin buruk ketika musim dingin tiba. Jordania salah satu daerah di Timur tengah yang memiliki suhu ekstrim kala musim dingin tiba bahkan terkadang salju pun ikut turun di beberapa daerah ke tertentu. Di tengah kedinginan yang menusuk ke dalam tulang, sebagian mereka harus hidup menggigil tanpa atap di pinggir-pinggir jalan. Pipi serta hidung yang memerah menahan hawa dingin yang menusuk dengan bekal pakaian seadanya.

Anak-anak yang kehilangan masa kecil sekaligus harapan masa depan, banyak dari mereka tak mampu membaca atau menulis. Terpuruk dalam kejamnya peperangan yang diciptakan oleh keegoisan dan ketamakan beberapa negara penjajah demi meraup keuntungan dibalik Minyak bumi yang tertanam di dasar tanah Suriah.

Pengungsi Suriah, mengetuk nurani Muslim dunia bahwa saudara kita masih menanti do’a dan uluran tangan saudaranya. Mereka tidak pernah berhenti berjuang dan bersabar atas takdir mereka. Memupuk kersyukuran dengan nikmat yang ada bahwa setidaknya kita masih bisa tidur beratapkan rumbia, masih memiliki segengam beras untuk menganjal perut bukan makanan sisa

Di masa pandemi Covid-19, keadaan ekonomi terguncang, ikut pula menguncang mereka. Kalau biasanya mereka berkeliaran berjualan di pinggir jalan atau mengemis, kini mereka tak lagi terlihat. Mungkinkah mereka dilarang keluar dari kamp untuk mencegah penularan Covid-19? Semoga Allah selalu mengalirkan rezeki bagi saudara seiman kami Ahlu Syam dan menguatkan langkah mereka dalam menapaki kerasnya kenyataan hidup. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.[]?

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.