Thursday, April 18, 2024
spot_img

Simah Bengi dan Asa yang Terpenggal

Sepasang mata itu menatap nanar ke arah bangunan berlantai empat yang sudah ambuk sebagiannya. Mata gadis bercadar itu nampak berkaca-kaca.

Namanya Simah Bengi (19) salah seorang mahasiswi IAI Al-Aziziyah Samalanga, Bireuen. Bersama beberapa anggota keluarga yang datang menjemputnya dari Aceh Tengah, Simah masih tercenung. Di depannya—yang berjarak sekitar 15 meter, bangunan induk kampus IAI Al-Aziziyah, tempat ia menimba ilmu selama ini, hanya menyisakan kenangan.

Ada ratusan, atau bahkan mungkin ribuan pasang mata lainnya yang berkerumun di sana, juga mengarahkan pandangan yang sama ke arah venue tersebut. Mungkin kecamuk di hati mereka berbeda-beda. Tetapi tidak bagi Simah Bengi. Sesekali ia menghembuskan napas panjang. Titik-titik keringat menghiasi wajahnya dari balik cadar.

Tadi, sebelum ia pamit untuk pulang ke Tanah Gayo, salah seorang guru santri melepasnya dengan peluk cium, dibarengi beberapa teman sekamar lainnya yang berasal dari sejumlah kabupaten dan kota lainnya di Aceh, bahkan ada yang dari luar Aceh. Salain tercatat sebagai mahasiswi jurusan Dakwah, Simah juga seorang santri di Dayah (pesantren) MUDI MESRA Samalanga. Sesaat, mereka saling berbagi pilu dan gelisah, juga isakan tangis yang tertahan.

“Mudah-mudahan kita bisa bersama lagi nantinya!” tukas seorang guru santri ke telinganya. Simah dengan ragu mengangguk. “Jangan terlalu baper (bawa perasaan-red) gitu, ah. Nggak bagus bagi seorang mahasiswi dan santri. Kita semua harus teguh dan tawakal kepada Allah!” celetuk salah seorang temannya mencoba menghibur.

“Kita masih beruntung, hanya kehilangan sedikit, tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita lainnya yang kehilangan rumah, tempat usaha, bahkan ada yang kehilangan nyawa mereka?” lanjut sang guru santri. “Ayo, semangat semuanya!”

Yang dimaksud “kehilangan sedikit” adalah kampus mereka yang ambruk.

Bangunan bilik asrama santri yang rawan untuk ditempati kembali karena sebagian besar sudah retak-retak akibat digoyang ayunan gempa berkukuatan 6,5 SR pada Rabu (7/12) subuh.

“Ayolah, Simah, kita sudah ditunggu Pakcik di mobil!” ingat salah seorang keponakannya sambil mencolek lengannya. Tersadar, Simah tergesa merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponselnya.

“Tunggu, sebentar!”

Simah kemudian mengarahkan ponsel ke arah bangunan kampusnya. Beberapa gambar kemudian telah terekam di ponselnya.

Pengumuman dari akademik dan pesantren hanya menyebutkan, jika segala sarana dan prasana belajar mengajar baik di kampus dan pesantren sudah memungkinkan, maka mereka nantinya akan dihubungi kembali.[]

HALIM MUBARY

Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU