SAG: Virus Corona Nyata, Bukan Hoaks! Kasus Meninggal di Aceh Sudah 13 Orang

0
193
Sehari Bertambah 10, Kasus Positif Corona di Aceh Melonjak Jadi 37
Pemakaman pasien positif COVID-19 di Aceh, Rabu 17 Juni 2020. (Foto: Ucok Parta/acehkita.com)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani yang akrab disapa SAG, menyatakan ada banyak informasi palsu (hoaks) di seputar virus corona yang beredar masif di tengah masyarakat. Hoaks dibagi secara berantai dan melampaui kuantitas informasi dari otoritas resmi.

“Masyarakat yang termakan hoaks cenderung abai pada protokol kesehatan yang dianjurkan. Akibatnya, korban virus asal Tiongkok itu terus berjatuhan,” ujar SAG kepada awak media menyikapi situasi terakhir, pada Sabtu (1/8) malam.

Ia menegaskan, korban virus corona (COVID-19) kian banyak di Aceh. Kasus COVID-19 sudah mencapai 410 orang, dan 13 orang di antaranya meninggal dunia, per 1 Agustus 2020.

“Pada 14 Juli lalu, 110 orang COVID-19 di Aceh, kini 410 orang umumnya Orang Tanpa Gejala (OTG), dan 13 orang dilaporkan meninggal dunia,” kata SAG. Ada perbedaan data dengan yang disampaikan laman www.covid19.go.id, sebagai situs resmi Pemerintah Indonesia untuk penanganan COVID-19, menyebutkan sebanyak 415 kasus positif di Aceh.

SAG menjelaskan, kasus meninggal terakhir laki-laki umur 53 tahun. Warga Aceh Besar ini dirawat di RSUD Meuraxa, Banda Aceh, karena sesak nafas. Hasil foto thorak menunjukkan pneumonia, dan hasil pemeriksaan swab nasofaring dan orofaring terkonfirmasi positif COVID-19.

“Almarhum meninggal dunia, Jumat (31/7) malam, sekira pukul 21.00 WIB, setelah tiga hari dirawat,” ujar SAG.

Keluarga Almarhum, lanjut SAG, sangat tabah dan tawakal, serta menunjukkan keteladanan dalam penanganan jenazah, sesuai protokol kesehatan.

“Koordinator Tim Penyakit Infeksi Emerging RSUZA, Banda Aceh, dr Novina Rahmawati, melaporkan jenazah almarhum difardukifayahkan oleh ustaz pemulasaraan jenazah RSUDZA sesuai protokol COVID-19 dan tentu saja sesuai Syariah Islam,” sebut SAG.

Lebih lanjut, SAG menambahkan, virus corona nyata dan korbannya sudah di depan mata, baik yang sembuh, sedang dirawat, maupun meninggal dunia. COVID-19 bukan hoaks dan korbannya dari semua umur dan unsur. Bahkan ada puskesmas dan rumah sakit yang terpaksa tutup sementara karena petugasnya terinfeksi virus corona.

“Ruang perawatan pasien COVID-19 di Respiratory Intensive Care Unit (RICU) dan Poliklinik Penyakit Infeksi New Emergeng and Reemerging (Pinere) RSUDZA Banda Aceh, dilaporkan sudah penuh, dan sebagian pasien infeksi virus corona terpaksa di alihkan perawatannya di Asrama Haji, Banda Aceh,” ujarnya.

Jubir SAG berharap bupati/walikota dapat mempersiapkan RSUD sebagai tempat perawatan maupun isolasi OTG positif COVID-19, namun tidak perlu dirawat.

Ia menjelaskan hal tersebut seperti yang dilakukan Pemkab Bireuen memiliki tempat isolasi khusus tersebut di Cot Batee Gelungku. Begitu juga Pemkab Gayo Lues yang memanfaatkan Balai Latihan Kerja (BTK).

“Apabila semua OTG COVID-19 dirujuk untuk isolasi di Banda Aceh tidak akan cukup tempat, dan sangat tidak efisien,” sebutnya.

Perawatan di rumah sakit, lanjut SAG, maupun tempat isolasi dibutuhkan jika upaya pencegahannya gagal. Tindakan preventif jauh lebih murah dan mudah dilakukan. Yang dibutuhkan hanya komitmen menjalankan kebijakan dan disiplin protokol kesehatan setiap stakeholder di seluruh Aceh.

Menurutnya, bupati/wali kota seyogyanya mereview kembali pelbagai kebijakan penanganan COVID-19 dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, Forkopimda, Majelis Permusyawaratan Ulama, maupun kebijakan bupati/walikota sendiri untuk diimplementasikan lebih baik lagi.

Penjagaan perbatasan diperketat. Setiap orang masuk ke Aceh harus dapat menunjukkan surat bebas virus corona, minimal Surat Keterangan Hasil Rapid Test Non Reaktif dari institusi yang berwenang.

Penertiban pasar dan tempat umum. Selain mengatur jarak antar pedagang dengan pembeli, juga menyediakan fasilitas cuci tangan yang mudah dijangkau masyarakat.

“Bila masih ada korban hoax dan meremehkan virus corona, pemerintah kabupaten/kota, sesuai kewenangannya, dapat menertibkannya supaya protokol kesehatan dijalankan di segala sektor kehidupan masyarakat,” ujar SAG.

Berikutnya, SAG melaporkan jumlah kasus COVID-19 berdasarkan data yang diterima per tanggal 1 Agustus 2020, hingga sekitar pukul 17.00 WIB.

SAG menyebut, kasus positif COVID-19 secara akumulatif kasus COVID-19 di Aceh sudah mencapai 410 orang, dengan rincian; 304 orang dirawat, 94 orang sudah sembuh, dan 12 orang meninggal dunia—tambah 1 orang meninggal di RSUD Meuraxa, Jumat (31/7)

Sejak pertama kali ditemukan di Aceh pada 26 Maret lalu, kasus COVID-19 hampir menyebar ke seluruh kabupaten/kota. Setidaknya saat ini hanya tersisa tiga kabupaten/kota yang belum terpapar corona atau nol kasus positif COVID-19: Pidie Jaya, Nagan Raya dan Aceh Singkil.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.