Proxemics

0
509
https://itotd.com/articles/6277/proxemics/

Proxemics

Saiful Mahdi*

Menurut ahli zoologi Swiss Heini Hediger, hewan menjaga berbagai batasan jaraknya dengan yang lain. Batasan ini tergantung apakah hewan dalam posisi bersiap untuk melarikan diri, menyerang, atau berkomunikasi dengan jenis hewan lain. Batasan itu berbeda juga saat berhubungan dengan jenisnya sendiri.

Terinspirasi Hediger, antropolog Edward T. Hall memperkenalkan terma proxemics pada tahun 1966. Proxemics dipakai untuk menjelaskan studi tentang bagaimana orang mempersepsikan proximity (jauh-dekat) kepada yang lain.

Selanjutnya proxemics menjadi kajian penting dan menarik bukan hanya dalam antropologi dan sosiologi. Bidang perencanaan, desain, dan arsitektur menaruh perhatian besar pada proxemics dalam perencanan ruang dan aspek spasial lainnya. Ia juga menjadi bagian kajian ilmu komunikasi karena dianggap bagian dari komunikasi non-verbal.

Kerjasama bidang sosiologi dan statistik juga memperkenalkan sosiometrika, yang mengkaji, misalnya, pola pilihan tempat duduk siswa di kelas. Bahwa dari posisi duduk siswanya seorang guru bisa memetakan mana siswa pemimpin, populer, atau siswa pengikut.

Dalam interaksi dengan banyak orang, kita mungkin mengamati adanya kedekatan fisik yang berbeda. Saat berbicara dengan orang lain, kita sendiri menjaga jarak fisik tertentu.

Kepada yang kita kenal akrab, kita bisa berbicara dalam jarak fisik yang sangat dekat. Sebaliknya, saat berbicara dengan orang asing, atau orang yang kita hormati, kita menjaga jarak yang sesuai. Inilah proxemics.

Secara umum ada empat jenis batasan spasial: (1) Jarak intim, biasanya berada dalam radius kurang dari 1,5 kaki (45 cm), adalah untuk pasangan kekasih; (2) Ruang personal (personal space), adalah radius 4 kaki (1,2 m) dari seseorang. Biasanya kita hanya mengizinkan teman dan keluarga berada cukup dekat dengan kita; (3) Ruang sosial, radius 12 kaki (3,7 m) dari seseorang adalah untuk kenalan dan kolega; (4) Jarak publik, radius 25 kaki (7,6 m), jarak untuk berinteraksi dengan orang asing atau dalam acara pidato formal.

Kedekatan fisik menunjukkan kedekatan hubungan sosial dan emosional seseorang dengan orang lain di sekitarnya. Tapi proxemics sangat tergantung budaya dan norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat. Juga sangat dipengaruhi kepadatan.

Orang Eropah dan Amerika sering saling berdekatan saat berdiskusi dengan mitra bisnisnya. Sementara orang Jepang mengambil jarak yang lebih jauh. Dalam hal ini kita katakan personal space orang Jepang lebih lebar.

Tapi saat menggunakan transportasi publik, orang Jepang bisa mengurangi ruang personalnya menjadi sangat kecil karena kepadatan yang tinggi. Sementara, jangan heran melihat orang Amerika dan orang Eropah duduk berjauhan dalam bus atau kereta bawah tanahnya. Di dalam transportasi publik, personal space orang Amerika jauh lebih luas karena kepadatannya kurang.

Untuk memahami proxemics lebih lanjut, Hall menghubungkannya dengan budaya “kontak” dan “non-kontak”. Oang Arab, Italia, Perancis, Amerika Latin, dan  kebudayaan Timur Tengah menurut Hall adalah bagian dari budaya kontak. Mereka lebih sering bersalaman, berpelukan, dan berciuman ketimbang masyarakat dari budaya non-kontak seperti Amerika, Norwegia, Jepang, dan bangsa Asia umumnya.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Silakan amati masing-masing deh. Jelas tidak hitam putih. Sangat beragam. Mungkin di masyarakat Indonesia yang lebih feodal, personal space masih lebih lebar dan non-kontak. Tapi di masyarakat yang lebih egaliter, kontak lebih sering dan ruang pribadi jadi lebih sempit.

Saat ini banyak orang berbicara tentang new normal. Tapi seorang teman yang kritis bertanya di status media sosialnya, apakah mungkin kita memasuki new normal tanpa new moral? Atau paling tidak new norms, norma-norma baru?

Di transportasi publik jelas kita tidak bisa memelihara ruang personal yang terlalu luas. Bahkan di kampung-kampung kumuh yang padat juga nyaris tak ada ruang pribadi. Bukan hanya itu, dalam pergaulan sehari-hari kita juga tidak mementingkan ruang pribadi yang terlalu lebar.

Untuk secara masif memelihara physical distancing yang dianjurkan yaitu 1-2m masyarakat kita harus terbiasa dulu dengan norma baru ruang personal. Sepertinya kita memang harus membangun norma-norma baru sebelum sampai ke normal baru.

Selain harus rela mengurangi kontak fisik seperti bersalaman dan berpelukan yang makin populer sejak “revivalisme Islam” di Indonesia, ke-arab-arab-an bagi sebagian orang, kita juga harus tega memperluas ruang pribadi tanpa harus merasa jauh dari teman bahkan keluarga sendiri. Tapi, seperti ditulis di atas, kebiasaan bersalaman dan berpelukan itu bukan hanya kebiasaan orang Arab, tapi juga Italia, Perancis, dan Amerika Latin.

Selain itu, kita perlu belajar antri di semua kesempatan yang memerlukan antri. Kita harus rela menunggu transportasi publik yang lebih longgar ketimbang memaksa diri masuk ke dalam bus atau kereta yang sudah penuh.

Norma baru juga sepertinya diperlukan dalam kunjung-mengunjungi. Jika sebelumnya kita bisa bertandang ke rumah keluarga atau kenalan kapan saja tanpa pemberitahuan, saat ini kita harus membiasakan diri untuk menelpon atau memberitahu tuan rumah sebelum kedatangan kita.

Untuk bertemu perlu janjian (appointment) dulu. Ini adalah kebiasaan di banyak negeri Eropah, Amerika, Jepang, Singapura, dan negeri moderen yang sangat mementingkan efisiensi lainnya.

Dan jangan marah kalau tuah rumah menegakkan protokol kesehatan semacam mencuci tangan, tetap pakai masker, dan jaga jarak selama di rumah atau kantornya.

Kebiasaan mencuci tangan di rumah maupun di tempat kerja sebenarnya bukan kebiasaan baru. Bagi orang Aceh yang pernah tinggal di rumah tradisional Aceh, tentu masih ingat dengan sebuah guci yang biasanya diletakkan di anak tangga rumah.

Guci ini berisi air untuk mencuci kaki, tangan, bahkan berwudhu sebelum naik ke rumah Aceh. Kita hanya perlu membiasakan diri dengan wastafel sebagai ganti guci air. Tidak seperti di Amerika atau Jepang, mencuci tangan di wastafel belum jadi norma atau budaya kita. Bahkan mencuci tangan secara umum masih perlu dibudayakan. Paling tidak dibudayakan ulang seperti kebiasaan pengguna rumah tradisional Aceh di suatu masa yang lalu.

Dus, sebelum new normal, mari bangun new moral dan new norms. Sebelum kenormalan baru, kita perlu moralitas dan norma baru.

*Saiful Mahdi, dosen di Jurusan Statistika, FMIPA Unsyiah. Isi tulisan adalah pandangan pribadi.

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.