PM Pakistan: India Sponsori Islamophobia

0
196

ISLAMABAD | ACEHKITA.COM – Dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan menyebut pemerintah Hindu-nasionalis India sebagai sponsor kebencian dan diskriminasi terhadap Islam, sambil mengecam langkah New Delhi itu untuk memperkuat kendali atas Kashmir yang mayoritas Muslim.

Berbicara di depan sidang Majelis Umum PBB, hari Jumat waktu New York (Sabtu dini hari WIB), Khan mengatakan Islamofobia berlaku di India hari ini dan mengancam hampir 200 juta Muslim yang tinggal di sana.

“Satu-satunya negara di dunia saat ini di mana, dengan sedih saya katakan, negara mensponsori Islamofobia, adalah India. Alasan di balik ini adalah ideologi RSS yang sayangnya menguasai India saat ini, ” ujar Khan dalam rekaman pidatonya di PBB, yang digelar secara virtual di tengah pandemi virus corona.

“Mereka percaya bahwa India eksklusif untuk umat Hindu dan lainnya bukan warga negara yang setara.”

PM Pakistan sering mengkritik keputusan pemerintah PM Narendra Modi yang pada Agustus lalu mencabut status kenegaraan Jammu dan Kashmir, membatalkan konstitusi terpisah dan menghapus perlindungan warisan atas tanah dan pekerjaan.

Tindakan keras aparat keamanan India memicu protes, dan ahli independen yang ditunjuk PBB telah meminta pemerintah India untuk mengambil tindakan segera.

India menuduh Pakistan mempersenjatai dan melatih pemberontak yang berjuang untuk kemerdekaan Kashmir dari India. Namun, Pakistan membantah tuduhan itu dan mengatakan hanya menawarkan dukungan diplomatik dan moral kepada gerilyawan.

Wilayah Kashmir terbagi antara India dan Pakistan, yang telah berperang dua kali untuk memperebutkan wilayah itu sambil mengklaim kawasan tersebut secara keseluruhan.

“Tidak akan ada perdamaian dan stabilitas yang bertahan lama di Asia Selatan sampai sengketa Jammu dan Kashmir diselesaikan berdasarkan legitimasi internasional,” kata Khan, menyerukan solusi damai dan pencabutan langkah India pada 5 Agustus.

Warga Kashmir yang sangat termiliterisasi di bawah pemerintahan India mengatakan pasukan keamanan telah menangkap ribuan pemuda Muslim, menggerebek rumah orang, melakukan pemukulan dan sengatan listrik, sambil mengancam akan mengambil dan menikahi kerabat perempuan mereka.

Ribuan pengunjuk rasa selama setahun terakhir telah terluka dalam serangan senjata api, termasuk ratusan orang yang dibutakan di satu atau kedua matanya.

Selama tujuh bulan, hingga Maret, daerah itu di bawah pemadaman komunikasi dengan media sosial dan akses internet dilarang.

“Komunitas internasional harus menyelidiki pelanggaran berat ini dan menuntut personel sipil dan militer India yang terlibat dalam terorisme negara dan kejahatan serius terhadap kemanusiaan,” ujar Khan.

Khan, seperti yang dilakukannya dalam pidatonya di hadapan badan dunia itu pada tahun lalu, juga mengutuk penargetan Muslim di banyak negara dan provokasi dan hasutan “atas nama kebebasan berbicara”.

“Insiden di Eropa, termasuk penerbitan ulang sketsa penghujatan oleh Charlie Hebdo, adalah contoh terbaru,” katanya.

Majalah satir Prancis, Charlie Hebdo mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad pada bulan ini, yang pertama kali diterbitkan tahun 2015.[]

AL-JAZEERA

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.