Saturday, May 30, 2020

Pertama Kali, Pasangan Gay Dicambuk di Aceh

Must Read

PLN Kebut Pemasangan Tower Darurat

ACEH UTARA | ACEHKITA.COM -- Petugas PLN terus mengebut pembangunan tower darurat di Desa Matang Sijuek Barat, Kecamatan Baktiya,...

Pemerintah Aceh Diminta Jamin Kebebasan Pers

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Pemerintah Aceh diminta membuka akses seluas-luasnya bagi insan pers untuk mendapatkan informasi apapun dan...

Ismed Sofyan Perkuat Red Team Indonesia

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Mantan Pemain Timnas Indonesia Ismed Sofyan ikut memperkuat Red Team Indonesia di laga Starbol...

“Pemerintah Harus Konsisten dengan UUPA”

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Para pengunjukrasa yang menentang calon independen menyebutkan bahwa mereka rela berkorban untuk mengawal Undang-Undang...

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Kejaksaan Negeri Banda Aceh melaksanakan hukuman cambuk terhadap pasangan liwath (homoseksual), MT dan MH, di halaman Masjid Syuhada Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (23/5/2017). Eksekusi cambuk terhadap pasangan gay ini merupakan yang pertama di Aceh sejak hukum pidana Syariat Islam diberlakukan secara formal. [Baca juga: Cambuk untuk Pasangan Liwath]

Eksekusi pertama ini menjadi tontonan bagi warga. Ratusan orang—terutama anak muda—sudah memadati halaman masjid sejak pukul 10.00 WIB. Eksekusi itu sendiri baru dimulai sekitar pukul 11.20 WIB. Beberapa remaja dengan baju sekolah juga tampak dalam kerumunan massa. Karena ramainya penonton yang datang, kemacetan tak terhindarkan di jalan depan masjid. Tidak ada polisi yang mengatur lalu lintas.

Beberapa spanduk dukungan terhadap eksekusi cambuk tampak di halaman masjid. Satu spanduk dari Front Pembela Islam (FPI) Aceh yang ditulis dengan cat semprot warna merah, terpampang di pintu masuk halaman masjid. Beberapa orang dengan peci FPI juga tampak mengatur para warga, mereka mencoba memisahkan laki-laki dengan perempuan agar tidak berbaur. Para wanita, mereka arahkan ke dekat masjid, tidak di depan panggung yang sudah dipenuhi laki-laki. Beberapa orang mematuhi arahan itu, beberapa lainnya tidak peduli.

Satu spanduk lainnya yang berisi penolakan terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender, red) juga tampak di tengah kerumunan massa. Spanduk itu dari Pemuda Dewan Dakwah Aceh (PDDA), yang dipegang oleh beberapa anak muda usia 20-an, laki-laki dan perempuan.

Mereka juga membagikan selebaran yang berisi wajah Har Toyo, salah seorang tokoh LGBT nasional di Jakarta. Ada 4 foto wajah Har Toyo di selebaran itu, di antaranya foto dia ketika sedang mengikuti demo tolak FPI dan foto dia di depan banner Teman Ahok. Di atas keempat gambar itu tertulis: “DPO RAKYAT ACEH”.

Salah seorang dari mereka mengatakan mereka mendapat kabar Har Toyo datang ke lokasi eksekusi cambuk. “Kita bagikan ini agar orang-orang tahu. Siapa tau dia ada di sini,” katanya.

Beberapa hari yang lalu, sempat beredar screenshot status Facebook Har Toyo, yang menyatakan dia akan ke Aceh untuk “menemani” MT dan MH yang akan menghadapi eksekusi cambuk. Namun, tidak jelas apakah Har Toyo hadir di halaman Masjid Syuhada atau tidak.

Eksekusi cambuk ini memang menjadi sorotan. Selain warga, para wartawan media lokal, nasional, dan internasional juga tampak di sekitar panggung eksekusi.

Ketika mobil tahanan Kejaksaan Negeri Banda Aceh—yang membawa MT dan MH serta beberapa tahanan lainnya—memasuki halaman masjid, warga yang hadir bersorak. Kepala Kepolisian Resort Kota (Kapolresta) Banda Aceh Komisaris Besar T Saladin tampak naik ke atas panggung menenangkan warga yang hadir.

Melalui pengeras suara, dia meminta kepada warga yang memadati area depan panggung untuk memberi jalan dan menjaga keamanan. “Ini hanya proses penegakan hukum. Mereka juga manusia,” kata Saladin.

Akhirnya, eksekusi dilakukan. Jaksa membacakan nama, alamat dan juga jumlah cambukan terhadap tahanan. Selain MT dan MH, ada delapan tahanan lainnya yang menjalani hukuman. Mereka dihukum bukan karena liwath, melainkan karena kasus ikhtilat (mesum). Delapan tahanan tersebut dicambuk lebih dulu, sebelum MT dan MH yang dicambuk terakhir.

Para penonton bersorak ketika algojo yang wajahnya tertutup cadar mengayunkan rotan ke tubuh tahanan. Ketika jaksa memberi perintah “siap” kepada algojo, para penonton juga bersorak: “siap!”.

Beberapa kali, penonton yang berdiri di atas pagar masjid bahkan mengkritik algojo yang mereka nilai terlalu lemah mengayunkan rotan. “Bek leumoh that, beu teuga! (Jangan lemah kali, yang kuat!).”

Ketika jaksa membacakan nama MT yang akan dicambuk, penonton kembali bersorak. Bahkan, yang berada di belakang merapatkan dirinya ke depan panggung. MT dan MH dicambuk 83 kali—setelah sebelumnya divonis 85 kali cambukan oleh Mahkamah Syariah. Tiga algojo bergantian mengayunkan rotan ke tubuh MT.

Yang terakhir dicambuk adalah MH. Wajahnya berubah seperti ingin berteriak karena menahan rasa sakit. Beberapa kali algojo berhenti mengayunkan rotan dan tim dokter menghampiri MH untuk menanyakan kondisi. Eksekusi dilanjutkan lagi setelah dokter memutuskan MH masih bertahan hingga berakhir cambukan ke-83. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Gugus Tugas Aceh: OTG Covid-19 Perlu Diwaspadai, tapi Tidak Dikucilkan

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Dari total 20 kasus positif Covid-19 di Aceh sampai saat ini, sudah ada dua...

AJI Desak Politikus PSI Cabut Laporan terhadap Jurnalis Senior Farid Gaban

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengecam tindakan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Muannas Alaidid yang melaporkan jurnalis senior Farid Gaban ke Polda Metro Jaya....

Martabat dan Gengsi di tengah Pandemi

Martabat dan Gengsi di tengah Pandemi Saiful Mahdi* Saya hanya mengikuti selintas heboh "nasi anjing". Nasi bungkus ini dibagikan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta pada akhir...

Soal Larangan Mudik, Kankemenag Kabupaten/Kota se-Aceh Diminta Pantau ASN

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Djulaidi, kembali mempertegas larangan mudik Idul Fitri 1441 H bagi...

17 Tahun Darurat Militer Aceh: Merawat Ingatan Kolektif Dampak Kekerasan

KontraS Aceh menggelar diskusi publik via online Zoom Meeting, Selasa (19/5/2020). Pertemuan ini menguak pengalaman dari sudut pandang pembicara, yakni; Faisal Hadi (Manajer Program...

More Articles Like This