Tuesday, October 26, 2021
spot_img

OPINI | Syekh Ali Jaber, Ulama Teladan dengan Dakwah yang Menyejukkan

Kabar duka menyelimuti umat Islam di Indonesia, Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau akrab disapa Syekh Ali Jaber meninggal dunia pada Kamis (14/1/2021) pagi di Rumah Sakit Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kabar duka tersebut begitu cepat menyebar luas hingga ke pelosok negeri. Awalnya banyak orang yang terkejut dan tak percaya bahwa ustaz yang dikagumi telah tiada.

Syekh Ali Jaber lahir di Madinah pada 23 Februari 1976. Ia lahir dengan nama Ali Saleh Mohammed Ali Jaber. Ia kemudian memilih Indonesia sebagai tujuan dakwahnya. Beliau baru mendapatkan kewarganegaraan Indonesia pada Januari 2020.

Dalam sebuah ceramahnya, ustaz yang juga dikenal dalam tayangan Hafiz Indonesia itu mengaku bahwa ia mencintai Indonesia. Ia mengaku punya hubungan dan kenangan dengan Indonesia, walaupun ia lahir di Arab Saudi. Kakeknya wafat di Indonesia saat berjuang melawan penjajahan Jepang di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Syekh Ali Jaber dikenal sebagai sosok penceramah yang lemah lembut dan mengajarkan agar umat Islam tidak langsung memvonis, ia menggunakan konsep dai yaitu mengajak umat kepada kebaikan.

Meskipun beliau berasal dari Madinah, Arab Saudi yang dikenal dengan ajarannya yang murni dan tegas, namun Syekh Ali Jaber memahami arti keberagaman Indonesia sehingga ia dengan mudah diterima di penjuru Nusantara.

Di atas mimbar ia pernah bercerita tatkala bertemu dengan seorang ustaz yang berbeda pendapat dengannya tentang perayaan Maulid Nabi. Menurut ustaz tersebut, maulid adalah bid’ah karena tidak dilakukan pada masa nabi.

Syekh Ali Jaber menjawab, bahwa perbedaan harus dihormati dan dilandasi dengan rasa saling menghargai dan menasehati.

“Walaupun dalam masalah maulid itu ada beda pendapat, tapi tidak salah kita saling silaturrahim, saling menasehati dan saling mengisi,” ujarnya.

Sosok yang menyejukkan itu telah tiada, namun dakwah-dakwahnya melalui berbagai media masih tersebar luas hingga saat ini.

Pesan dari nilai keagungan Al-Qur’an ia sampaikan begitu menyentuh dan penuh dengan mauidhah hasanah. Sosok Inspiratif dan solutif terhadap persoalan yang kita hadapi saat ini. Melalui dakwahnya ia mengajak umat ke arah kebaikan dan tidak memvonis kesalahan terhadap orang lain.

Masih terkenang dengan jelas pelajaran berharga bagi kita semua, saat peristiwa penusukan beliau pada Minggu, 13 September 2020 lalu. Hampir semua kita melihat bagaimana sikap dan reaksi beliau saat itu dan setelahnya, dan juga beliau sudah memaafkan pelaku dengan alasan karena meniru akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.

“Saya hanya ingin meniru Baginda Rasulullah, Muhammad SAW, sang tauladan, pemaaf, ikhlas, akhlak mulia. Baginda Rasulullah 13 tahun di Makkah, diserang, dihina, sampai dibuang kotoran unta di atas kepalanya, diancam mati,” demikian disampaikan beliau dalam sebuah program podcast.

Pada peristiwa itu beliau mengamalkan apa yang dipelajarinya, ucapan yang keluar dari mulutnya saat pertama kali mengalami musibah, adalah memuji Tuhan, alhamdulillah kemudian baru innalillah. Karena menurutnya ujian manusia datang saat dia mengalami musibah, apakah dia masih ingat untuk memuji Tuhan.

Dan beliau juga mengajarkan akhlak dalam rumah tangga, sebagai suami dan juga sebagai ayah. Bahkan beliau rela tidak menggunakan handphone selama dua tahun demi kemaslahatan bersama, dan itu bukanlah hal mudah di era serba digital sekarang ini, tapi beliau telah menjadi contoh untuk itu.

Tentu masih sangat banyak pesan dakwah dan kebaikan beliau yang masih tersimpan dalam ingatan kita dan berbagai rekam jejak digital.

Bagi masyarakat Aceh, Syekh Ali Jaber bukanlah sosok asing, selain dai nasional ia tercatat sudah pernah beberapa kali berkunjung ke Aceh untuk berdakwah. Seperti pada tahun 2012, ia menjadi imam tarawih dan penceramah Nuzulul Quran. Bahkan, saat itu Syekh Ali Jaber menginginkan Aceh menjadi Aceh Al-Qur’an. Ia akan berjuang menjadikan putra-putri Aceh penghafal Al-Qur’an.

Syekh Ali Jaber juga pernah menyampaikan ceramah pada peringatan Maulid Baginda Rasulullah SAW di Kota Banda Aceh pada 2015. Saat itu kehadirannya membawa berkah bagi tunanetra, ia membagikan mushaf Al-Qur’an braille kepada 200 tunanetra.

Sosoknya kian familiar bagi masyarakat Aceh, apalagi pada peringatan 16 tahun tsunami Aceh 26 Desember 2020, Pemerintah Aceh juga mengundang Syekh Ali Jaber untuk mengisi tausiah, namun pada saat itu beliau berhalangan hadir.

Kini, Kamis (14/1/2021), sang dai panutan almukarram Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber telah kembali ke hadirat Ilahi, sang dai pemersatu panutan dan menyejukkan.

Semoga Allah membalas kebaikan beliau, menjadi tambahan amal saleh dan jariah beliau. Indonesia kehilangan salah seorang dai pemersatu umat, kabar duka menyelimuti umat Islam di Nusantara.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah menempatkan almarhum di surga-Nya bersama dengan para syuhada dan shalihin. Alfatihah…

Penulis: Muhammad Nasril. (Dok. Pribadi)

Penulis: Muhammad Nasril, Penghulu Muda pada KUA Kuta Malaka dan Anggota IKAT Aceh

Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
20,860FollowersFollow
22,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU