Friday, June 21, 2024
spot_img

Migran Minta Kapal, DPR: Tidak Masuk Akal

LHOKNGA | ACEHKITA.COM — Para migran Tamil, Srilanka, meminta agar pihak berwenang Indonesia untuk memberikan kapal baru. Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil menyatakan permintaan itu tidak realistis.

Pada Sabtu subuh, 44 migran yang selama sepekan ini berada di kapal kandas, diturunkan ke daratan karena alasan keselamatan. Kapal mereka sudah dalam posisi miring karena diterpa ombak dan angin badai sepanjang Jumat malam hingga Sabtu subuh. Saat ini mereka ditampung di tenda darurat di dekat kapal.

Kapal migran Tamil mengalami kerusakan mesin dan dinamo serta bolong di beberapa bagian. Kerusakan ini telah diperbaiki. Badan kapal yang bolonh sudah ditambal.

Kondisi kapal membuat para migran khawatir dengan keselamatan saat kembali berlayar di laut. Pemerintah Indonesia berencana menghalau mereka kembali ke perairan internasional.

Saat bertemu dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Jumat kemarin, suara permintaan kapal sudah didengungkan. “Kami mohon diganti kapal baru,” kata seorang migran, Artika. “Kami takut berada di kapal ini.”

Zaini hanya tersenyum, tak merespons lebih jauh permintaan ini. Permintaan serupa kembali diutarakan migran kepada Nasir Djamil, anggota DPR RI.

Fakky Sharen, seorang migran, juga memohon agar diberikan boat pengganti. “Kondisi kapal kami sangat berbahaya, tidak ada nakhoda, mesin rusak,” kata Fakky yang menempuh perjalanan bersama istri dan anak bayinya berusia 18 bulan.

Sejurus kemudian, Fakky sujud bersimpuh di kaki Nasir Djamil. “Mohon, bantu kami,” kata dia, “kami akan mati.”

Ia berkali-kali memohon. “Please, the ship runniny to dead, no driver.”

Lantas, bagaimana respons politikus PKS itu? Menurut Nasir, permintaan itu sama sekali tidak logis.

“Soal permintaan kapal baru, saya rasa tidak masuk akal,” kata Nasir Djamil usai bertemu para migran Tamil yang sudah diturunkan ke daratan, Sabtu.

Nasir meminta pemerintah untuk berkomunikasi dengan pemerintah Srilanka untuk mencari solusi terkait keberadaan migran ini.

Sayangnya, Srilanka seperti buang badan. Pejabat Kanwil Kemenkumham Aceh Ahmad Samadan menyebutkan bahwa komunikasi antarnegara itu telah dibangun. Hanya saja, Kedutaan Besar Srilanka belum bisa menentukan soal kewarganegaraan para migran. Mereka meminta data valid. Belum diketahui apakah pihak berwenang Srilanka akan menurunkan tim untuk memverifikasi.

Para migran mengaku datang dari Tamil Elam, sebuah etnis minoritas di Srilanka. Amnesty International menyebutkan mereka mengalami kekerasan dari negara.

Para migran berangkat menuju Chrismas Island di Australia sebulan lalu melalui India. Sudha, 25 tahun, menyebutkan, status mereka pengungsi, yang sudah menetap di India sejak 26 tahun terakhir.

Keberangkatan mereka ke Chrismas Island untuk mencari penghidupan yang lebih baik. “Kami mau hidup yang lebih layak,” kata Sudha.

Mereka mau dikembalikan ke laut agar bisa melanjutkan perjalanan ke tanah harapan di Chrismas Island. “Kami tidak mau kembali ke India atau Srilanka,” kata Sudha. “Kalau kembali ke sana kami akan mati.”

Agar bisa menjejakkan kaki di tanah harapan, setiap orang harus membayar seribu lakh kepada kapten kapal atau agen. Satu lakh sama dengan 50 ribu Rupee. “Ini uang yang banyak,” ujar Sudha.

Mereka tidak berharap terdampar di Aceh, Indonesia. “Kami hanya ingin menuju Australia,” sebut perempuan yang tengah hamil enam bulan ini. []

Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU