Wednesday, May 27, 2020

Migran Minta Kapal, DPR: Tidak Masuk Akal

Must Read

Tim Belum Terbentuk, Persiraja Dilanda Kisruh Internal

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM --Polemik di media massa yang mengangkat isu keberatan klub-klub anggota Persiraja terhadap keabsahan Ari Wibowo...

1.500 Calon Tenaga Kontrak Banda Aceh Ikut Ujian Tulis

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Pemerintah Kota Banda Aceh menyelenggarakan tes tertulis bagi 1.520 calon tenaga kontrak di Stadion...

Diduga Bandar Narkoba, Dua Warga Aceh Ditembak Mati

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Selatan dan Bea Cukai Palembang menembak mati dua...

Gua Perekam Jejak Tsunami Ditemukan di Aceh

SAN FRANSISCO -- Ini merupakan penemuan yang mencengangkan. Ilmuan dan peneliti Amerika Serikat menemukan sebuah gua yang merekam jejak...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

LHOKNGA | ACEHKITA.COM — Para migran Tamil, Srilanka, meminta agar pihak berwenang Indonesia untuk memberikan kapal baru. Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil menyatakan permintaan itu tidak realistis.

Pada Sabtu subuh, 44 migran yang selama sepekan ini berada di kapal kandas, diturunkan ke daratan karena alasan keselamatan. Kapal mereka sudah dalam posisi miring karena diterpa ombak dan angin badai sepanjang Jumat malam hingga Sabtu subuh. Saat ini mereka ditampung di tenda darurat di dekat kapal.

Kapal migran Tamil mengalami kerusakan mesin dan dinamo serta bolong di beberapa bagian. Kerusakan ini telah diperbaiki. Badan kapal yang bolonh sudah ditambal.

Kondisi kapal membuat para migran khawatir dengan keselamatan saat kembali berlayar di laut. Pemerintah Indonesia berencana menghalau mereka kembali ke perairan internasional.

Saat bertemu dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Jumat kemarin, suara permintaan kapal sudah didengungkan. “Kami mohon diganti kapal baru,” kata seorang migran, Artika. “Kami takut berada di kapal ini.”

Zaini hanya tersenyum, tak merespons lebih jauh permintaan ini. Permintaan serupa kembali diutarakan migran kepada Nasir Djamil, anggota DPR RI.

Fakky Sharen, seorang migran, juga memohon agar diberikan boat pengganti. “Kondisi kapal kami sangat berbahaya, tidak ada nakhoda, mesin rusak,” kata Fakky yang menempuh perjalanan bersama istri dan anak bayinya berusia 18 bulan.

Sejurus kemudian, Fakky sujud bersimpuh di kaki Nasir Djamil. “Mohon, bantu kami,” kata dia, “kami akan mati.”

Ia berkali-kali memohon. “Please, the ship runniny to dead, no driver.”

Lantas, bagaimana respons politikus PKS itu? Menurut Nasir, permintaan itu sama sekali tidak logis.

“Soal permintaan kapal baru, saya rasa tidak masuk akal,” kata Nasir Djamil usai bertemu para migran Tamil yang sudah diturunkan ke daratan, Sabtu.

Nasir meminta pemerintah untuk berkomunikasi dengan pemerintah Srilanka untuk mencari solusi terkait keberadaan migran ini.

Sayangnya, Srilanka seperti buang badan. Pejabat Kanwil Kemenkumham Aceh Ahmad Samadan menyebutkan bahwa komunikasi antarnegara itu telah dibangun. Hanya saja, Kedutaan Besar Srilanka belum bisa menentukan soal kewarganegaraan para migran. Mereka meminta data valid. Belum diketahui apakah pihak berwenang Srilanka akan menurunkan tim untuk memverifikasi.

Para migran mengaku datang dari Tamil Elam, sebuah etnis minoritas di Srilanka. Amnesty International menyebutkan mereka mengalami kekerasan dari negara.

Para migran berangkat menuju Chrismas Island di Australia sebulan lalu melalui India. Sudha, 25 tahun, menyebutkan, status mereka pengungsi, yang sudah menetap di India sejak 26 tahun terakhir.

Keberangkatan mereka ke Chrismas Island untuk mencari penghidupan yang lebih baik. “Kami mau hidup yang lebih layak,” kata Sudha.

Mereka mau dikembalikan ke laut agar bisa melanjutkan perjalanan ke tanah harapan di Chrismas Island. “Kami tidak mau kembali ke India atau Srilanka,” kata Sudha. “Kalau kembali ke sana kami akan mati.”

Agar bisa menjejakkan kaki di tanah harapan, setiap orang harus membayar seribu lakh kepada kapten kapal atau agen. Satu lakh sama dengan 50 ribu Rupee. “Ini uang yang banyak,” ujar Sudha.

Mereka tidak berharap terdampar di Aceh, Indonesia. “Kami hanya ingin menuju Australia,” sebut perempuan yang tengah hamil enam bulan ini. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Soal Larangan Mudik, Kankemenag Kabupaten/Kota se-Aceh Diminta Pantau ASN

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Djulaidi, kembali mempertegas larangan mudik...

17 Tahun Darurat Militer Aceh: Merawat Ingatan Kolektif Dampak Kekerasan

KontraS Aceh menggelar diskusi publik via online Zoom Meeting, Selasa (19/5/2020). Pertemuan ini menguak pengalaman dari sudut pandang pembicara, yakni; Faisal Hadi (Manajer Program...

Update Corona 14 Mei: Kasus Positif Covid-19 di Aceh Tak Bertambah dalam Sepekan Terakhir

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kasus positif terinfeksi virus Corona di Aceh tidak ada penambahan kasus baru dalam sepekan terakahir. Kasus positif Covid-19 terakhir...

Pasien Sembuh dari Covid-19 di Aceh Bertambah Jadi 12 Orang

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pasien positif Covid-19 asal Bener Meriah berinisial BD (24), dinyatakan telah sembuh. Santri dari Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan,...

KONI Aceh Serahkan Bonus untuk Atlet Peraih Medali Pra-PON, Porwil dan SEA Games

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Komite Olahraga Nasiona Indonesia (KONI) Aceh menyerahkan bonus uang tunai kepada para atlet dan pelatih peraih medali di ajang...

More Articles Like This