Saturday, December 14, 2019

Masyarakat Aceh Masih Kurang Percaya Vaksin untuk Imunisasi Anak

Must Read

KIP Kesulitan Dana untuk Uji Baca Quran Caleg

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Bakal calon anggota legislatif di Aceh diharuskan lulus uji baca al-Quran. Namun, Komisi Independen...

86 Penghuni Rutan Sigli Dapat Remisi

SIGLI | ACEHKITA.COM- Sebanyak 86 tahanan/narapidana di Rumah Tahanan Klas II B Sigli, Pidie mendapat remisi pada peringatan HUT...

Ahad Depan, AJI Banda Gelar Konferensi

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh akan menggelar pemilihan ketua baru periode 2012-2015...

Asian Games 2018: Ahmad Zigi Dedikasi Medalinya untuk Korban Gempa Lombok

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Atlet karate Indonesia, Ahmad Zigi Zaresta Yuda menambah perolehan medali perunggu untuk Indonesia, Sabtu...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Masyarakat Aceh masih kurang percaya dengan vaksin, hingga jumlah anak yang diimunisasi menjadi sangat rendah. Faktornya karena ada vaksin seperti untuk campak dan rubella yang mengandung unsur babi, hewan haram dalam Islam.

Meskipun MUI dan MPU telah memberikan fatwa, vaksin boleh digunakan dalam kondisi darurat, sebagian masyarakat tetap ragu, hingga enggan memberikan anaknya layanan imunisasi apapun, baik dasar maupun rubella. Padahal semua vaksin untuk imunisasi dasar aman dari kandungan babi, seperti polio, cacar dan campak.

“Lebih dari 10 persen penurunan imunisasi di gampong-gampong setelah isu rubella beredar,” Kata Sukra, staf puskesmas Meuraxa bagian posyandu. Menurutnya kini hanya tinggal 65 persen anak yang diberi imunisasi.

Menurutnya, bukan hanya isu haram halal saja warga enggan melakukan imunisasi pada anak, tetapi ada juga pasien mengaku tidak diizinkan oleh suami dan tidak ada dukungan keluarga. Isu patriarki juga sering mengabaikan hak anak untuk mendapatkan kesehatan yang layak.

Tak jarang Sukra sendiri mendatangi rumah pasien untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya imunisasi, namun sering para ayah keluar untuk bekerja. “Ibunya memang datang ke posyandu untuk timbang anak atau ukur tumbuh kembang, tetapi tidak mau divaksin anaknya, ” ungkap Sukra.

Dampak anak menjadi demam usai vaksin juga menjadi ketakutan tersebut diri bagi orang tua untuk tidak memberikan vaksin kepada anak. Apalagi jika harus merujuk ke dokter spesialis anak untuk mengakses vaksin antidemam, yang tentu dengan harga yang tidak murah.

Sukra mengaku selama ini hanya ada penyuluhan dari dinas kesehatan ke gampong-gompong untuk penyadaran pentingnya melakukan vaksin pada anak. Belum ada tindakan lain yang lebih jitu dilakukan, atau penelitian resmi untuk melihat apa sebenarnya penyebab minat imunisasi rendah. “Padahal imunisasi juga merupakan hak anak yang harus terpenuhi sama dengan pemberian pendidikan dan ilmu agama,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan Indonesia, Januari 2019, saat ini Aceh berada pada capaian imunisasi campak dan rubella terendah di Indonesia yaitu di bawah 50 persen.  Hal itu pernah disampaikan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kemenkes dr. Anung Sugihantono.

cakupan imunisasi keseluruhan Jawa dan luar Jawa, capaian imunisasi berada di angka 87, 33 persen. Sementara cakupan imunisasi di luar Jawa keseluruhan baru mencapai 72,79 persen. “Bahkan secara rinci masih ada provinsi dengan cakupan kurang dari 50 persen, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Riau,” katanya dilansir depkes.go.id. []

Yanti Oktiva

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Ketua MPU Aceh, Tgk Muslim Ibrahim, Meninggal Dunia

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof Tgk H Muslim...

LPSK: Saatnya Pemerintah Selesaikan Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

JAKARTA | ACEHKITA.COM — Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berpendapat inilah saatnya negara mengambil keputusan dengan mempertimbangkan beberapa...

Aceh Butuh Tenaga Non-kependidikan

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Majelis Pendidikan Aceh (MPA) melakukan Focus Group Discussion (FGD) hasil kajiannya tentang Tenaga Kependidikan Non Guru SMA/SMK dan Madrasah...

5 Pelari ‘Run To Care’ Anak Aceh Telah Selesaikan 250 Km

Memori perjuangan anak Aceh, menggerakkan kaki lima pelari Run To Care untuk lakukan misi kebaikan. Nicky Hogan, Carla Felany, Gatot Sudariyono, Vonny Anggraini, dan...

Mengabdi di Pedalaman Aceh, Sulastri Terima Penghargaan Guru Inspiratif dari Menag

Kepala Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Kala Wih Ilang, Sulastri mendapat penghargaan dari Menteri Agama RI dalam acara Ekspose Kompetensi dan Profesionalitas Guru Madrasah 2019....

More Articles Like This