Monday, December 5, 2022
spot_img

Liang Lahat Kuta Pangwa

Gerbang masuk Meunasah Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya terlihat ramai. Beberapa warga keluar-masuk. Mereka terlihat sangat sibuk sibuk. Sebuah mobil ambulance terparkir tepat di gerbang. Ia mengarah ke luar. Lampu sirene menyala. Membuktikan bahwa ia tengah melaksanakan tugas dinasnya, antar-jemput pasien.

Namun, Rabu, (7/12/2016) ambulance tak antar-jemput pasien seperi biasanya. Ia baru saja mengantar seorang jenazah korban reruntuhan rumah akibat gempa yang mengguncang Aceh dengan kekuatan 6.4 SR.

Saat ACEHKITA.COM datang, ambulance itu baru saja menurunkan jejazah ke-15 korban gempa di Desa Kuta Pangwa. Setelah itu, ambulance pergi dengan lampu dan sirine terus menyala.

Sebuah tenda didirikan tepat di halaman meunasah. Sepotong baliho dari kain terpasang di antara setiap kali tenda. Lilitan baliho membuat tenda agak menyerupai sekat dinding.

Di bawah tenda, sajadah panjang—biasanya dipakai di masjid—digelar. Menutupi onggokan tanah dan rerumputan. Sejumlah warga terdiri dari ibu-ibu dan anak terisak. Sesekali perempuan di pojok tenda mengusap matanya. Linang air mata tak terbendung.

Seakan tak percaya, ia tengah melafalkan surat Yasin di depan jasad suaminya. Suaminya merupakan salah satu dari 15 korban gempa yang meninggal terkena timbunan runtuhan rumah. Semua jenazah dibaringkan di bawah tenda sebelum dimandikan.

Perempuan itu berduka bersama ratusan korban lainnya. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Hanya lafalan ayat suci yang keluar dari mulutnya. Ia seakan tak menyangka, suaminya duluan pergi menghadap Ilahi.

Padahal, saat gempa meruntuhkan rumahnya, keduanya berada dalam tempat yang sama. Namun sang istri tak terkena langsung ekses hentakan gempa. Ia hanya terperangkap antara dinding rumah yang roboh.

Teras meunasah agak riuh. Lima ibu-ibu tengah menyiapkan peralatan untuk melaksanakan fardhu kifayah. Misal, kapas dan wangi-wangian. Sesekali, ibu-ibu itu mengusap matanya. Linang juga tak dapat dibendung. Semua berduka.

“Ke-15 korban ini berasal dari 9 Kepala Keluarga. Semuanya tak dapat diselamatkan ketika gempa terjadi, sehingga tertimbun di bawah reruntuhan rumah,” ujar Sekretaris Desa Kuta Pangwa, Zulkifli saat ACEHKITA.COM menanyakan jenazah yang terletak di bawah tenda.

Zulkifli bersama sejumlah warga dan atas persetujuan keluarga, semua jenazah itu akan dimakamkan di perkuburan massal. Ia memerintahkan warganya untuk mengeruk satu liang lahat untuk ke-15 korban meninggal di desanya itu.

***

Tak dinyana, Zulkifli pun berkisah bahwa dirinya pun sempat tertahan oleh sebuah balok rumah yang jatuh atas kedua kakinya. Saat gempa terjadi, ia duduk di atas tempat tidur sembari menunggu azan subuh berkumandang. Niatnya hendak berwudhu’ menunaikan kewajiban.

Tiba-tiba, sebuah hentakan keras terjadi. Bersamaan dengan itu seluruh bangunan rumahnya pun roboh. Ia mencoba bangkit, namun kakinya telah lebih dulu dihimpit.

“Saat itu saya berusaha keras mengangkat balok itu bersama barang timbunan lainnya. Alhamdulillah, dalam waktu 10 menit saya bisa lekas berdiri, bahkan berlari,” ujar Zulkifli.

Usai itu, Zulkifli lantas menolong anggota keluarganya yang lain. “Anggota keluarga saya semuanya selamat. Kami tidak terkena langsung runtuhan rumah. Hanya saya yang terluka dengan balok yang menghimpit kaki,” jelas Zulkifli.

Dari kejauhan, seorang warga memanggil Zulkifli. Orang itu hendak menanyakan perihal liang kuburan massal. Sejenak, Zulkifli menghilang di antara linang air mata di halaman meunasah Kuta Pangwa menuju tempat liang lahat dibuat. []

HABIL RAZALI

Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,644FollowersFollow
23,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU