Wednesday, October 27, 2021
spot_img

KontraS Rilis Dokumenter Kesaksian Korban Konflik Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) merilis video dokumenter yang menyorot soal sejumlah kasus penyiksaan aparat saat pemberlakuan operasi militer di Aceh.

Film dokumenter berdurasi 34 menit itu menampilkan wawancara sejumlah keluarga dan korban konflik di Aceh Selatan, Pidie, dan Aceh Timur.

Memori Penyiksaan di Aceh, judul dokumenter yang digarap KontraS bersama rumah produksi WatchdoC. Lokasi penyiksaan yang ditampilkan di dokumenter ini adalah kasus Jambo Keupok (Aceh Selatan), Rumoh Geudong (Pidie), dan PT Wiranalo Buket Seulamat (Aceh Timur).

Sejumlah korban konflik memberikan kesaksian, mengenang petaka penyiksaan yang mereka alami. Abdul Wahab Madjid, misalnya. Ia menjadi salah seorang korban penyiksaan di Rumoh Geudong Teupin Raya pada 1991.

“Saya diinjak-injak di perut. Buah zakar saya bengkak karena diinjak-injak perut. Dua orang naik di atas perut saya, diinjak dengan sepatu,” kata Abdul Wahab yang kini bekerja serabutan sebagai buruh di pasar.

“Bapak langsung dibawa dengan piring nasi di tangan. Sampai di situ entah bagaimana, entah dipukul, entah ditendang. Saya tidak ingat lagi,” kata Zulekha, warga Desa Jambo Keupok, Aceh Selatan.

Suami Zulekha, Kasturi bin Bidin menjadi satu dari 16 warga yang tewas dalam insiden Jambo Keupok 17 Mei 2003, menjelang pemberlakuan status Darurat Militer.

Fery Kusuma dari KontraS Jakarta menyebutkan, tidak diketahui pasti berapa jumlah korban selama tiga dekade konflik di Aceh. “Tidak ada yang berani menyimpulkan jumlah korban di Aceh. Ada yang sebut 10 ribu, ada 20 ribu. Itu hanya angka-angka yang diduga-duga,” kata mantan staf KontraS Aceh ini.

Konflik Aceh dimulai segera setelah Hasan Muhammad di Tiro memproklamirkan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976. Sebagai respons terhadap gerakan ini, Jakarta menggelar operasi militer. Pada 1989, secara resmi Presiden Suharto menggelar operasi militer yang bersandikan Operasi Jaring Merah. Kelak, operasi yang berlangsung hingga 7 November 1998 ini menjadikan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).

Setelah pencabutan DOM, seiring dengan tumbangnya Orde Baru, eskalasi konflik juga semakin menjadi-jadi. Operasi militer ditingkatkan, ada operasi wibawa dan operasi-operasi lainnya. Terakhir, pada 19 Mei 2003 Jakarta mengirim tak kurang 42 ribu pasukan perang untuk menumpas Gerakan Aceh Merdeka melalui pemberlakuan status darurat militer dan darurat sipil.

Konflik Aceh mereda setelah GAM dan Indonesia bersepakat mengakhirinya melalui jalur perundingan. Perdamaian dicapai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki.

Perdamaian sudah berusia 11 tahun. Namun korban konflik masih terpinggirkan. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi –sebuah kesepakatan politik yang dicapai di Helsinki– baru saja terbentuk. Tujuh komisionernya telah terpilih. Dan, pelbagai kasus kekerasan –baik dilakukan negara maupun GAM– menjadi pekerjaan rumah┬ábagi KKR Aceh.

Simak video “Memori Penyiksaan di Aceh“. []

Fakhrurradzie Gadehttp://www.efmg.blogspot.com
Reporter acehkita.com. Menekuni isu politik, teknologi, dan sosial. Bisa dihubungi melalui akun @efmg

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
20,865FollowersFollow
22,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU