Monday, December 5, 2022
spot_img

Ketika Cinta Menjadi Salah Arti

DALAM satu jiwa, pasti telah ada sebuah gumpalan daging. Bila daging itu hitam maka hitam lah semua hidup ini, namun sebaliknya bila daging itu bersih maka indahlah semua hidup ini. Daging itu adalah hati, dimana semua rasa dan balutan jiwa bersemi padanya. Kata indah dari anak manusia yang penuh dengan hidup yang berliku bisa saja sirna bila rasa cinta dan mabuknya dunia telah ada bagi segenap asanya.

Melihat dunia dan bangsa sekarang ini, seakan moral yang ada dibangsa kita makin hari makin bisa berujung tanpa ada aturan dan telah tiada, berapa banyak wanita di bangsa kita yang setiap hari dilecehkan, dinodai, diperkosa bahkan disiksa dengan budak nafsu yang sangat biadab. Tulisan saya ini bukan untuk mengangkat soal Hari Kartini, Hari Ibu (mother’s days) atau hari-hari wanita lainnya serta bukan topik akan gender maupun semacamnya. Namun ini adalah sebuah realita akan hidup anak manusia. Saya tulis serangkain kata-kata yang tak luput dari kesalahan ini adalah semata untuk sebuah refleksi Ketika Cinta Menjadi Salah Arti di dalam hidup para kaum Adam ini.

Ada makna yang sangat indah ketika sebuah cinta bersemi, berjuta puisi indah melayang di hati ini. Itu semua orang agung-agungkan lewat kata-kata atau status yang lebih populer dengan namanya pacaran. Semua berawal dari sebuah kata perkenalan yang berlanjut dengan sebias senyuman sampai-sampai hari indah itu bersemi seperti musim indahnya bunga sakura di Jepang. Teknologi yang ada pun menjadi medium pengrajut akan sebuah hubungan, tak mengenal waktu bahkan tempat dimana sekali pun karena rasa adalah segalanya.

Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu, pernahkah kamu merasakan akan indah sebuah cinta dengan mereka kaum hawa dalam status sebuah pacaran atau apa lah namanya, sehingga harus mengatakan pacaran itu tidak boleh? Mungkin hal ini adalah aib pribadi saya, tapi saya akan menjawabnya belum pernah. Tetapi kenapa bisa berbicara seperti itu? Haruskah orang yang berpacaran mengatakan atau menjawab hal ini? Saya kira itu salah semua, karena saya sudah pernah dan merasakan nasib seorang teman yang terjerembab dalam nistanya sikap yang membuat jatuh dan terus jatuh.

Awal Mula
Sejak saya SMP dulu, saya baru mengetahui ketika sebuah kata indah itu terucap dari mulut ini berbuah cinta dinamakan atas nama pacaran, surat menyurat pun menjadi awal dari sebuah perjalanan. Maklum SMP dulu saya belum begitu mengenal akan dunia teknologi komunikasi yang secanggih sekarang ini bisa chating-chatingan.

Mungkin hanya beberapa orang saja yang baru bisa menikmatinya. Berempati dengan teman, bukanlah hal yang biasa sehingga merasakan apa yang dia rasakan sungguh memberikan saya kekuatan untuk bisa menjadi manusia yang seperti ini salah satu karena dia. Singkat cerita teman saya ini adalah sebuah situasi dimana dia harus menerima “kekalahan” dalam bercinta, bukan sekali atau dua kali melainkan itu terjadi untuk ketiga kali.

Putus dari status pacaran adalah hal biasa karena tidak ada lagi kata-kata kecocokan antara keduanya, serta banyak faktor lainnya yang ikut berperan dalam situasi seperti ini. Lahir dan munculnya pihak ketiga juga tak luput dari sebuah kisah perjalanan cinta, sahabat setia yang biasa menemani hidup-hidup ini juga menjadi korban atas hasrat yang ada.

Mungkinkah cinta itu dilarang? Namun sayang cinta itu adalah kuasa dan rahmat dari Maha Yang Mencintai, semua manusia memiliki akan rasa ini tanpa memandang tingkat dan sukunya. Ketika rasa yang ada ditahan, maka gejolak pemberontakan pasti datang. Derajat sebagai manusia untuk saling hidup bergantungan atau sering disapa dengan zon politicon (makhluk sosial) memang tidak bisa lepas dari makhluk yang bernama manusia.

Dalam segala bentuk aktivitas dan kegiatan yang dilakukan oleh seorang manusia adam maupun hawa semua mempunyai arah dan makna buat ke depan. Tidak mungkin sesuatu yang dilalui hanya sebatas fiktif belaka. Layaknya pengorbanan seorang arjuna untuk dewi shintanya adalah demi sebuah kehormatan tersendiri.

Kembali dalam arti cinta yang ada pada anak adam ini juga tidak lepas dari hasrat untuk selalu memiliki penghargaan, dimana hidup tanpa dihargai oleh orang lain sama seperti sampa yang dibuang tanpa ada gunanya lagi. Namun, sangat disayangkan ketika penghargaan yang diberikan oleh seseorang berubah menjadi tujuan yang tidak pernah dibayangkan.

Di balik kata cinta antara dua insan menjadi bumerang bagi keduanya, belum lagi dengan beralasan demi sebuah cinta abadi. Karena kita manusia, kekal abadi yang memiliki semuanya adalah Pencipta Manusia dan sekalian alam ini. Kurangnya iman dan nilai agama untuk mengenal siapa Tuhannya inilah yang telah membuat salah satu faktor anak-anak muda yang layaknya menjadi generasi penerus jatuh dan tersumkan lemah sebelum menjadi orang yang bisa berdiri untuk membangun dirinya sendiri serta tahu siapa yang menciptakannya secara Hakiki. []

Aulia Fitri, mahasiswa Universitas Indonesia. Pegiat Komunitas Blogger Aceh (http://acehblogger.org), dan pemilik blog http://aulia87.wordpress.com.

DISCLAIMER:

WargaMenulis

  • Semua isi materi yang dimuat oleh Warga Menulis adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.
  • Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita.
  • Redaksi
    Redaksihttp://www.acehkita.com
    ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

    Baca Tulisan Lainnya

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Stay Connected

    0FansLike
    21,644FollowersFollow
    23,700SubscribersSubscribe
    - Advertisement -

    TERBARU