Cerita Warga Melindungi Satwa di Hutan Leuser Aceh

Cerita Warga Melindungi Satwa di Hutan Leuser Aceh
Hutan Leuser, Aceh. (Foto: Habil/acehkita.com)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Sebagai upaya perlindungan dan penyelamatan satwa liar, sejumlah organisasi masyarakat sipil yang berada di Aceh dan Sumatera Utara mengadakan diskusi yang bertajuk, “Inisiatif Perlindungan Satwa di Kawasan Ekosistem Leuser untuk Kehidupan Berkelanjutan” pada Kamis (5/11). Mereka yang berbagi pengalaman ini adalah warga yang tergabung dalam organisasi masyarakat sipil (OMS).

“Inisiator penyelenggara webinar, Katahati Instutute sebagai tuan rumah kakilangit-rumah pengetahuan masyarakat sipil Aceh mendorong terjadinya konsolidasi dan promosi pengetahuan upaya perlindungan satwa liar oleh masyarakat sipil untuk keberlangsungan hidup satwa liar dan habitatnya di Kawasan Ekosistem Leuser,” ujar Raihal Fajri dalam keterangannya.

Raihal menjelaskan, webinar tersebut menghadirkan tiga pembicara, yaitu dari Forum Konservasi Leuser, Tezar Fahlevi; Fransisca Ariantiningsih Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre, dan Danurfan CEO Leuser Coffee.

Sebagai penanggap, kata Raihal, Katahati Institute menghadirkan Arman Fauzi, Komisioner Komisi Informasi Aceh, Junaidi Hanafiah, wartawan Mongabay, TM. Zulfikar dari Yayasan Ekosistem Leuser dan Taufik Anda dari Prodeelat.

Raihal mengatakan bahwa Katahati Institute menyediakan ruang yang sama kepada organisasi masyarakat sipil (OMS) lainnya yang juga berkontribusi pada sektor yang sama.

“Selain webinar ini, Katahati Institute juga melakukan serangkaian proses perekaman vidio singkat tentang upaya perlindungan satwa dengan menghadirkan narasumber lainnya dengan durasi 3-5 menit dan akan dipromosikan melalui website dan sosial media selama periode tertentu,” sebutnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, kegiatan yang diinisiasi Katahati Institute ini bertujuan sebagai pemetaan upaya perlindungan dan penyelamatan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), konsolidasi pengetahuan upaya perlindungan dan penyelamatan satwa, serta promosi pengetahuan upaya perlindungan dan penyelamatan satwa di KEL oleh organisasi masyarakat sipil.

Sementara itu, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre, Fransisca Ariantiningsih, menjelaskan lembaganya selalu melakukan upaya-upaya penyelamatan orangutan melalui gerakan yang mereka inisiasi.

“Bantu sebarkan kepada siapapun biarkan satwa dirumahnya, jangan sampai diperdagangkan, satu bagi orangutan mati maka akan induk orangutan mati, jika hilang dari populasi makan akan hilang berberapa generasi, hentikan perburuan dan kerusakan,” jelas Fransisca.

Masih dalam kesempatan yang sama, Koordinator Forum Konservasi Leuser, Tezar Fahlevi, menyampaikan bahwa dalam menurunkan dampak perburuan, maka pihaknya membentuk tim patroli.

“Forum Konservasi Leuser membentuk tim patroli, untuk menurunkan dampak perburuan dan deforestasi, membantu pemerintah dalam mengembalikan fungsi hutan, restorasi hutan lindung yang telah berubah jadi kelapa sawit dengan menebang dan menanam kembali dengan harapan kembali seperti sedia kala,” kata Tezar.

Lain halnya dengan yang dilakukan Danurfan dalam menjaga satwa liar agar tetap terjaga habitatnya. CEO Leuser Coffee itu menyampaikan bahwa dirinya selama ini aktif melakukan kampanye melindungi satwa liar melalui jalur dagang. Hal ini dilakukannya untuk membangun rasa peduli manusia terhadap pentingnya menjaga Kawasan Ekosistem Leuser.

Ia menyebut, setiap produk kopi yang dijualnya, pasti memuat berbagai jenis satwa liar di kemasannya. “Salah satu yang sering saya lakukan sebagai bentuk kampanye perlindungan satwa liar dengan menempelkan berbagai jenis hewan, agar pesan ini tersampaikan ke masyarakat,” ujar Danurfan.[RIL]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.