Catatan Relawan Muda: Kisah Perempuan Korban Masa Konflik Aceh

0
119
Buku Catatan Relawan Muda

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dampak konflik sebelum damai lahir di Aceh pada 15 Agustus 2005 silam, paling dirasakan perempuan. Banyak dari mereka yang mengalami kekerasan, seperti pemukulan, hinaan, intimidasi bahkan kekerasan seksual.

Pengalaman yang dikisahkan para perempuan korban dan terimbas perang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan aparat TNI/Polri inilah, yang dituliskan dua mahasiswa; Irmawati (24 tahun) dan Siti Aisyah (24 tahun) dalam bukunya berjudul ‘Catatan Relawan Muda’. Buku berisikan pengalaman mereka dalam mendampingi perempuan para korban konflik Aceh di kawasan Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, salah satu wilayah paling kelam dulunya.

Diinisiasi oleh Relawan Perempuan Untuk Kemanusiaan (RPUK) Aceh dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA), buku diluncurkan lewat diskusi online, Kamis (23/7/2020). Diskusi, selain menghadirkan Irmawati, juga Teuku Kemal Fasya (Akademsi dari Universitas Malikussaleh), Sicillia Leiwakabessy (Cahaya Guru Foundation) dan Azriana Manalu (Mantan Ketua Komnas Perempuan).

Sekretaris Eksekutif RPUK Aceh, Laila Juari, mengatakan catatan dua relawan muda tersebut merupakan secuil kisah yang dialami oleh para perempuan di masa konflik. “Buku ini setidaknya akan mengisi ruang publik, memperkaya referensi terkait kondisi perempuan Aceh masa lalu,” katanya seperti dirilis acehkini, sindikasi media acehkita.com

Menurutnya, catatan tersebut merupakan pengalaman mereka sendiri yang selama 3 tahun terakhir dilibatkan dalam kerja pengorganisasian yang dilakukan oleh RPUK di Kecamatan Nisam Antara. “Mereka merefleksikan pengalaman melalui karya tulis agar menjadi mengetahuan bagi anak-anak muda lainnya,” kata Laila, sambil mengajak mereka dan anak muda lainnya terus menulis dan tak melupakan kisah konflik sebagai bagian sejarah Aceh.

Salah seorang penulis, Irmawati, menuturkan saat konflik Aceh terjadi masih terlalu kanak-kanak dan baru 9 tahun saat damai diraih. Kisah konflik Aceh baru didengar detil selama 3 tahun terakhir saat tertarik bergabung sebagai relawan RPUK.

Banyak kendala yang dilalui saat menulis kisah para perempuan korban konflik tersebut. “Kami dianggap anak-anak awalnya, dinilai tidak mengerti sampai mereka enggan menceritakan berbagai pengalaman masa lalu,” katanya.

Pendekatan yang dilakukan selama 3 tahun dibantu para relawan senior seperti Badriah A Thaleb, Laila Juari, Desy Setiawaty, dan Erni, para anak muda ini akhirnya mampu menerbitkan bukunya. “Saya akan terus mencoba menulis, setelah pengalaman pertama ini,” katanya.

Pengalaman tersebut sangat berharga buat Irmawati. Dia menemukan banyak perempuan yang merasa perdamaian Aceh belum membawa keadilan buat mereka. Sebagian dari korban bahkan menangis dan sedih saat mengisahkan kembali kekerasan yang pernah mereka alami.

Teuku Kemal Fasya menilai apa yang dilakukan dua anak muda itu adalah prestasi yang jarang. “Terus bimbing dan jangan tinggalkan mereka, dorong mereka untuk terus menulis,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, Kemal ikut memaparkan kondisi rekonsiliasi pascakonflik di Aceh saat ini. “Rekonsiliasi di Aceh masih jauh dari harapan, saat ini yang kita lakukan hanya sebuah semangat meraih cita-cita rekonsiliasi tersebut,” katanya.

Mengutip Teolog asal Afrika Selatan, Desmond Tutu, kata Kemal, rekonsiliasi bukan berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja, seperti apa adanya. Bukan juga salin menuding satu sama lain di belakang panggung dan menutup mata terhadap orang yang bersalah. “Rekonsiliasi adalah membuka tabir kesalahan, penyiksaan, perasaan sakit dan kebenaran,” jelasnya. []

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.