AJI Banda Aceh Gelar Pelatihan Menulis Isu Perempuan dan Anak bagi Jurnalis

AJI Banda Aceh Gelar Pelatihan Menulis Isu Perempuan dan Anak
Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, menyampaikan materi kepada jurnalis peserta pelatihan menulis laporan mendalam isu perempuan dan anak. (Foto: Dok. AJI Banda Aceh)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh menggelar pelatihan menulis laporan mendalam tentang isu perempuan dan anak bagi jurnalis perempuan. Pelatihan bersama dua pemateri yakni Sekjen AJI Indonesia sekaligus Jurnalis Tempo Ika Ningtyas dan Direktur Eksekutif Flower Aceh Riswati berlangsung di Aula Muharram Journalism College (MJC), Sabtu (17/4)..

Ketua Divisi Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marjinal AJI Kota Banda Aceh, Nova Misdayanti mengatakan, pers memiliki banyak fungsi, selain sebagai pemberi informasi dan hiburan, pers juga berfungsi sebagai kontrol sosial serta sarana pendidikan.

Di luar itu, pers pun menjadi tumpuan bagi kalangan yang tidak memiliki akses kekuasaan (powerless) dalam memperjuangkan hak-haknya.

Ia menyebut, pers memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik, karena sifatnya yang massif menjadikan sarana yang efektif dalam melakukan advokasi persoalan masyarakat.

“Salah satu isu yang paling penting untuk diadvokasi oleh pers adalah kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Nova.

Di Aceh, lanjutnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak cukup tinggi. Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Rumoh Putroe Aceh, pada 2017-2019 terjadi sebanyak 4.235 kekerasan pada anak dan perempuan.

“Namun, selama ini advokasi oleh media atau jurnalis terhadap korban kekerasan tersebut tidak tuntas. Biasanya jurnalis hanya menuliskan laporan atau berita terhadap peristiwa dan vonis bagi pelaku. Akan tetapi, advokasi terhadap hak korban minim dilakukan,” kata Nova.

“Padahal, pemenuhan hak bagi korban menjadi modal besar bagi mereka untuk bisa kembali survive pascamenjadi korban,” tambahnya.

Dalam konteks ini, lanjut Nova, secara eksplisit keberadaan jurnalis perempuan harusnya menjadi advokator bagi mereka. Pendekatan sebagai sesama perempuan, akan memberikan kepercayaan penuh bagi korban untuk menyampaikan harapan dan suara hati mereka.

“Realitasnya belum banyak jurnalis perempuan di Aceh yang memberikan perhatian khusus pada isu perempuan dan anak. Hal itu disebabkan, pemahaman tentang isu-isu perempuan dan anak masih minim,” sebutnya.

Sementara itu, Sekjen AJI Indonesia yang juga Jurnalis Tempo, Ika Ningtyas berharap jurnalis perempuan lebih banyak memberitakan isu perempuan, kaum marginal, dan anak.

“Untuk penulis (gunakan) indepth reporting, jangan terpaku pada hard news. Selama ini media kebanyakan hanya memberitakan sebatas peristiwa. Gunakanlah perspektif korban, hingga ada solusi ke akarnya,” kata Ika.

Pelatihan yang digelar AJI Banda Aceh khusus untuk jurnalis perempuan di Kota Banda Aceh ini diikuti 20 jurnalis dari media cetak, online, TV, dan juga unsur pemerintahan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.