PIDIE | ACEHKITA.COM — Tradisi perang rakyat dengan menggunakan meriam bambu dan karbet dilaksanakan pada malam kedua Hari Raya Idul Fitri di sejumlah desa di Kecamatan Delima dan kecamatan Indra Jaya, Pidie, Minggu (19/8). Pesta semalam suntuk itu dilaksanakan untuk memeriahkan suasana lebaran.
Arus lalu lintas dari dan menuju ke lokasi “peperangan” macet total. Sejumlah warga terlihat berusaha untuk mengatur lalu lintas agar kemacetan parah dapat diatasi.
Aksi “peperangan” dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Meriam bambu dibakar oleh sejumlah anak-anak kecil di atas tempat setinggi tiga meter yang telah dipersiapkan. Sementara meriam karbit, dinyalakan oleh sejumlah orang dewasa.
Uniknya, di Gampong Aree warga menyalakan meriam bambu dengan menggunakan tangan. “Di desa lain, bakar karbit dengan menggunakan kayu, sementara di sini (Gampong Aree –red.) dengan menggunakan jari tangan,” kata Aswan, salah seorang warga Garot.
Menyalakan meriam menggunakan tangan, katanya, mempunyai tantangan tersendiri bagi para warga yang ingin ikut menyalakan meriam karbit. “Kalau bakar pakai kayu, anak kecil pun bisa,” jelasnya.
Untuk meriam bambu, terlihat sejumlah anak kecil membakar dengan penuh semangat. Meriam bambu disusun rapi di atas tempat yang telah dipersiapkan, di pinggir sungai. Dengan sangat antusias, meriam itu dinyalakan.
“Perang” meriam bambu –belakangan sering digunakan karbit, sudah menjadi tradisi warga di sejumlah desa di Kecamatan Delima dan Indrajaya. Ini merupakan cara mereka memeriahkan malam Idul Fitri, bak pesta kembang api di malam pergantian tahun Masehi. Makanya, di sebuah sudut pertokoan Garot, mereka memasang spanduk bertuliskan: “Welcome to teut bude trieng”. []