Tunda-menunda

0
1518

GONJANG-ganjing soal pemilihan kepala daerah terus saja terjadi. Dari soal pro-kontra calon perseorangan hingga wacana penundaan pilkada.

Dari gonjang-ganjing jelang pilkada yang dijadwal berlangsung November mendatang, membuat saya terusik dan juga banyak orang lain. Terkesan ada rasa resah atas kondisi kekinian yang terjadi di Aceh.

Di jejaring sosial bernama Facebook misalnya. Sebagian orang di akunnya ada yang menuliskan tidak cukupkah kita hidup di era konflik yang lebih dari tiga puluh tahun itu? Ada juga yang menulis, di manakah kaum intelektual Aceh? Dan sebagainya, dan sebagainya.

Dari status di Facebook itu, kita setidaknya bisa menilai ada semacam keresahan yang dirasakan banyak orang terhadap kondisi politik di Aceh menjelang pilkada. Akankah pilkada tahun ini berdampak buruk bagi kondisi Aceh ke depan?

Damai itu masih belum lama. Baru berusia enam tahun. Jelas kita tidak mau hanya karena pilkada menodai Memorandum of Understanding (MoU) damai di Helsinki.

Namun melihat kondisi perpolitikan kekinian, bukan tidak mungkin pilkada akan mengusik perdamaian. Bisa saja hanya karena perseteruan demi jabatan kepala daerah akan berdampak negatif bagi masa depan Aceh. Kenapa tidak?

Sekarang saja riak-riak itu lumayan terlihat. Makanya pantas saja ketika saya dan banyak orang lain yang mulai resah karena melihat kondisi kekinian tersebut.

Kembali ke soal tunda pilkada yang diwacanakan sejumlah partai politik. Menurut saya, yang terpenting untuk diperhatikan adalah keselamatan perdamaian. Jangan hanya karena berebut jabatan oleh segelintir orang saja bisa berefek buruk bagi semua rakyat Aceh.

Cukup sudah konflik tempo hari. Muak sudah kami mendengar letusan senjata. Habis sudah air mata kami meratapi kepergian sanak saudara. Kami ingin hidup damai! Apalagi tsunami dan gempa di penghujung tahun 2004 silam telah membuat kita semua berduka. Bahkan tidak hanya kita saja, dunia pun ikut berkabung.

Nah, jika pada 2006 di tengah masa transisi usai konflik dan bencana, pilkada bisa sukses. Lalu kenapa tahun pilkada 2011 ini mesti ditunda? Rasanya tak ada hambatan yang berarti terhadap pelaksanaan pilkada pada November mendatang seperti telah dijadwalkan KIP Aceh.

Mungkin kita mesti membuka lagi buku kumpulan peribahasa atau pepatah. “Kalau memang bisa dilakukan hari ini, untuk apa dilakukan esok hari,” begitu lebih kurang pepatah itu berbunyi menurut ingatan saya. []

HUSAINI ENDE, Mahasiswa, pemilik akun Twitter @husainiende)

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.