Tuesday, May 26, 2020

Ruang Outbreak Pinere RSUDZA Dijadikan Tempat Isolasi Pasien COVID-19

Must Read

Di Langsa, Posko Caleg Partai Aceh Dibakar

LANGSA -- Posko calon anggota legislatif DPRK Langsa dari Partai Aceh (PA) di Gampong Sungai Paoh, Kecamatan Langsa Barat,...

Mahasiswa Komunikasi Unsyiah Gelar Pantomim dan Bagi Takjil

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM-- Sambut lebaran Idul Fitri 1434 H, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu...

Presiden Jokowi Tiba di Aceh

BLANG BINTANG | ACEHKITA.COM -- Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan mendarat di Pangakalan Udara Sultan...

Mahasiswa Simeulue Minta Penambahan Beasiswa

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Simeulue meminta agar Pemerintah Kabupaten Simeulue menambah anggaran untuk...

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – RSUDZA Banda Aceh telah memiliki 12 ruang Outbreak Pinere (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) pada Selasa (31/3/2020). Ke-12 ruang tersebut akan dijadikan sebagai tempat isolasi bagi pasien corona atau COVID-19 dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP), terutama ODP Pengorbit.

Sebelumnya, RSUDZA hanya memiliki 6 ruangan khusus untuk merawat pasien COVID-19 di ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU) yang berada di rumah sakit lama.

“Hari ini kita meresmikan pengoperasian 12 Ruang Outbreak Pinere. Insya Allah, hingga 2 minggu ke depan, kita akan memiliki total 48 ruang isolasi. Kita juga akan mempersiapkan ruang poly ODP, sehingga pasien-pasien ODP dapat dirawat di ruang yang terpisah dengan pasien umum. Jadi, kami imbau masyarakat tetap tenang, tidak panik namun tetap waspada,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, usai meresmikan pengoperasian Ruang Outbreak Pinere RSUDZA, Selasa (31/3).

Nova menyampaikan di dalam masing-masing kamar Ruang Outbreak Pinere tersebut terdapat dua tempat tidur. Selain itu, pihak RSUDZA juga menyediakan ruang kontrol untuk memantau perkembangan pasien via CCTV yang sudah terpasang di setiap ruang.

Ia menyebut, untuk penanganan intensif, selama ini sudah mempersiapkan 6 ruang RICU. Sedangkan ruang Outbreak Pinere tersebut bukan untuk penanganan intensif atau levelnya berada di bawah RICU. Namun, dipastikan keamanan dan kenyamanan para pasien dan tim medis yang menangani tetap menjadi fokus utama.

Lebih lanjut, Nova mengimbau agar masyarakat mengikuti protokol, protap dan aturan serta maklumat yang telah dikeluarkan pemerintah. “Jika ini bisa kita ikuti secara disiplin dan konsisten, Insya Allah wabah ini akan segera berlalu. Dan tentu saja hikmahnya budaya hidup bersih dan sehat harus terus kita jalankan walau wabah ini segera berlalu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3).

Ia juga menyampaikan bahwa peralatan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan milik Kementerian Kesehatan di Aceh, bisa digunakan untuk melakukan pemeriksaan spesimen. Namun, masih harus menunggu tes dan sertifikasi dari Balitbangkes pusat.

“Secara prinsip, alat Balitbangkes Kemenkes yang ada di Aceh sudah sesuai standar, saya bersama tim juga sudah meninjau ke sana. Namun, untuk mengoperasikan alat tersebut, kita masih harus menunggu tes dan sertifikasi alat-alat tersebut sesuai standar Badan Kesehatan Dunia WHO. Di Unsyiah juga ada alat ini. Nantinya, jika kedua lab ini sudah beroperasi maka pengujian spesimen pasien bisa lebih cepat,” kata dia.

Selain itu, Nova menambahkan, Pemerintah Aceh telah membersiapkan Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp 118 miliar untuk mendukung upaya penanganan dan pencegahan COVID-19 di Aceh. Jika tidak mencukupi, Nova menegaskan masih ada anggaran dari koridor lain yang bisa digunakan.

Direktur RSUDZA, Azharuddin, mengatakan di Ruang Outbreak Pinere tersebut para pengunjung atau pendamping tidak diperkenankan masuk. “Hanya petugas medis yang boleh berada dalam Ruang Outbreak Pinere ini,” ujarnya.

“Kami juga mengimbau agar individu yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pengawasan (ODP) untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun, bagi ODP yang mungkin dikhawatirkan oleh tetangganya dapat menularkan dan ODP Pengorbit, kami siap menampungnya di sini,” sebut Azharuddin.

Sementara itu, Herry Priyanto dokter spesialis paru RSUDZA, menjelaskan ODP Pengorbit adalah ODP yang memiliki keluhan atau riwayat penyakit lain, seperti gangguan paru, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya. Maka akan diisolasi di Ruang Outbreak Pinere atau ruang lain yang sudah disediakan.

“Pasien ODP Pengorbit akan kita rawat di sini. Sedangkan ODP yang kesehariannya sehat, namun ada keluhan flu dan batuk biasa, kami sarankan tetap melakukan isolasi mandiri di rumah karena itu jauh lebih baik,” kata dia.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Soal Larangan Mudik, Kankemenag Kabupaten/Kota se-Aceh Diminta Pantau ASN

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Djulaidi, kembali mempertegas larangan mudik...

17 Tahun Darurat Militer Aceh: Merawat Ingatan Kolektif Dampak Kekerasan

KontraS Aceh menggelar diskusi publik via online Zoom Meeting, Selasa (19/5/2020). Pertemuan ini menguak pengalaman dari sudut pandang pembicara, yakni; Faisal Hadi (Manajer Program...

Update Corona 14 Mei: Kasus Positif Covid-19 di Aceh Tak Bertambah dalam Sepekan Terakhir

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kasus positif terinfeksi virus Corona di Aceh tidak ada penambahan kasus baru dalam sepekan terakahir. Kasus positif Covid-19 terakhir...

Pasien Sembuh dari Covid-19 di Aceh Bertambah Jadi 12 Orang

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pasien positif Covid-19 asal Bener Meriah berinisial BD (24), dinyatakan telah sembuh. Santri dari Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan,...

KONI Aceh Serahkan Bonus untuk Atlet Peraih Medali Pra-PON, Porwil dan SEA Games

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Komite Olahraga Nasiona Indonesia (KONI) Aceh menyerahkan bonus uang tunai kepada para atlet dan pelatih peraih medali di ajang...

More Articles Like This