Perjuangan Para Ibu di Aceh Hidupkan Ekonomi Keluarga di Tengah Covid-19

0
313
Aswah menerima bantuan ACT Aceh. Dok. ACT Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dagangan bakso goreng milik Aswah pernah hampir tidak laku selama sepekan setelah salah satu warga desanya terindikasi positif covid-19. Masyarakat semakin waspada terhadap keselamatan diri yang berimbas kepada pedagang kecil seperti Aswah.

Aswah menjadikan bagian  depan rumah sederhananya di Gampong Belegen Mulia, Simpang Kiri, Subulussalam sebagai lapak menjual dagangannya. Hari biasanya, anak-anak sekolah mampir membeli bakso goreng. “Anak sekolah mampir ke sini untuk jajan. Sekarang sekolah libur, pendapatan saya menurun drastis,” terangnya, awal Juni 2020.

Padahal ia beserta suaminya sangat membutuhkan biaya selain menopang hidup keluarga sederhananya. Ia memerlukan biaya membawa anaknya berumur 10 bulan operasi katarak dan paru-paru akibat terjangkit virus rubela. Meskipun ekonomi keluarga ditopang dirinya bersama suaminya yang bekerja sebagai pengatur sound system masjid, kebutuhan biaya tetap saja jauh dari kata cukup.

Berbagai kondisi tersebut memaksa Aswah menggunakan modal usahanya untuk menafkahi keluarga. Ia sadar jika modal habis tidak tersisa, usahanya kemungkinan besar gulung tikar.

Alhamdulillah, kabar baik menyapa Aswah. Melalui program sedekah modal dalam program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI) dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Aswah dapat kembali menjalankan usahanya dengan modal yang diberikan melalui Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Subulussalam. Modal tersebut diberikan kepada kaum ibu pengusaha mikro penopang ekonomi keluarga. Sehingga mereka bisa terus menjalankan usahanya di tengah kondisi sulit akibat pandemi covid-19. Modal tersebut disalurkan mencakup di seluruh wilayah Aceh melalui tim MRI setempat.

Tak hanya Aswah, MRI Aceh Barat Daya dan ACT, juga membantu Hasmiati, penjual gorengan di Gampong Meudang Ara, Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Hasmiati menafkahi keluarganya seorang diri, setelah suaminya meninggal beberapa tahun lalu.

Dulu ia berjualan di sekolah sehingga usahanya jauh lebih hidup dibandingkan sekarang. Kini sekolah diliburkan akibat pandemi. Hasmiati berjualan sejak pagi hingga sore dibantu anaknya berumur 18 tahun. Terkadang para tetangga meringankan beban ekonomi Hasmiati dengan memberikan bantuan maupun santunan anak yatim.

Asnah (foto atas) dan Hasmiati (foto bawah) menerima bantuan. Dok. ACT Aceh

Sedekah Modal Sahabat UMI juga disalurkan untuk membantu Halimatun Sa’diah, warga Gampong Gampa, Johan Pahlawan, Aceh Barat. Dia seketika menjadi satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga setelah suaminya yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut pasir, tidak lagi menerima orderan akibat pandemi Covid-19. Ia membuka kios kecil-kecilan di depan rumahnya.

Usaha kecil-kecilannya hanya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Ia begitu sedih karena di momentum Hari Raya Idul Fitri kemarin tidak mampu membelikan baju baru untuk anak-anaknya. “Tapi kami bersyukur karena anak-anak tidak protes dan mengerti keadaan kami sekarang,” ucapnya.

Dia berencana menambah jumlah barang di kios dari bantuan sedekah modal yang disalurkan oleh MRI Aceh Barat.

Di Banda Aceh, ACT ikut membantu Hafni, keluarga kurang mampu asal Desa Doy, Ulee Karang, untuk membangun bisnis kecil-kecilan di depan rumahnya.  Dia memilih menjual makanan berupa ikan dan kuah siap saji. “Mudah-mudahan usaha kecil-kecilan saya berjalan lancar,” harapnya. []

Zulfurqan (ACT Aceh) 

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.