Thursday, June 13, 2024
spot_img

Penulis Cerpen “Pedagang Kacang dari Beureunuen” Tutup Usia

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Innalillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah, sang Maestro Cerpen Indonesia Hamsad Rangkuti pada Ahad, 26 Agustus 2018.

Kabar duka itu diketahui dari Nur Windasari, istrinya yang terus setia mendampingi hingga ketika almarhum menghembuskan nafas terakhirnya. “Iya, mohon doanya dan maaf atas kesalahan-kesalahan almarhum semasa hidup,” kata istrinya sebagaimana dikutip dari Republika Online, Ahad (26/8).

Sosok Hamsad Rangkuti semasa hidupnya bisa dibilang tidak asing dengan Aceh. Terbukti ia pernah menulis cerpen dengan judul “Pedagang Kacang dari Beureunuen”.

“Pedagang Kacang dari Beureunuen, satu cerpen sederhana, tentang Aceh yang sederhana, sjukur pernah membacakannya secara darurat pada 2004 untuk perdamaian di Aceh. Selamat jalan bang Hamsad, doa kami, alfatihah!” tulis Fozan Santa di akun twitternya.

Dikutip dari tulisan Iskandar Norman; Antologi Seulawah Permata Sastra Aceh, cerpen Pedagang Kacang dari Beureunuen termuat dalam Antologi Seulawah yang menurutnya merupakan antologi sastra terbaik yang pernah dibuat di Aceh.

Menurutnya, membaca Antologi Seulawah kita menemukan karya-karya berkualitas dari para sastrawan. Bukan hanya sastrawan Aceh semata, tapi juga nasional dan internasional. Antologi setebal 730 halaman itu diterbitkan oleh Yayasan Nusantara pada 1995 lalu.

Republika melansir, sosok yang berjulukan ‘Maestro Cerpen Indonesia’ itu diketahui wafat sekitar pukul 06.00 WIB pagi hari ini di kediamannya, Depok, Jawa Barat. Menjelang wafatnya, Hamsad Rangkuti sudah lebih dari tiga bulan koma.

Dunia sastra Indonesia menempatkan Hamsad Rangkuti sebagai figur cerpenis yang unggul, sehingga menggelarinya sebagai ‘Maestro Cerpen Indonesia’. Sastrawan ini lahir di Medan, pada 7 Mei 1943.

Banyak cerpen karyanya yang menuai apresiasi dari kalangan penikmat dan peneliti sastra. Sebut saja, “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu” atau “Untuk Siapa Kau Bersiul”.

Sejumlah kumpulan cerpennya yang sudah terbit, antara lain, Bibir dalam Pispot (2003), Sampah Bulan Desember (2000), Lukisan Perkawinan (1982), dan Cemara (1982). Selain menekuni penulisan cerpen, mantan pemimpin redaksi Majalah Sastra Horison itu juga piawai menulis novel. Beberapa bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, termasuk Inggris dan Jerman.

Sejumlah penghargaan bergengsi juga pernah diraih sastrawan Hamsad Rangkuti. Pada 2003 lalu, Hamsad tampil sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award, dan pada 2008 meraih Southeast Asia Write Award.

Selamat jalan, Bang Hamsad. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepadamu surga-Nya, aamiin.[]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU