Tuesday, June 25, 2024
spot_img

Orasi Ilmiah di Aceh, Menkes: Perlu Etika untuk Mencegah Penularan TBC

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyatakan jika saat ini Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai penyakit menular yang belum diselesaikan dengan maksimal. Penyakit tersebut seperti human immunodeficiency virus (HIV), kusta dan tuberkulosis (TBC).

“Bahkan untuk penyakit TBC, Indonesia menempati posisi ketiga di dunia sebagai negara yang memiliki pengidap tertinggi,” sebut Nila Moeloek saat memberikan orasi ilmiah dalam sidang terbuka dies natalis Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK Unsyiah) ke-37 di Banda Aceh, Sabtu (27/4).

Lebih lanjut, ia menyebutkan, Aceh termasuk salah satu provinsi zona merah yang memiliki penularan TBC tertinggi. Untuk itu, menurutnya, harus ada tindakan untuk mencegah agar penyakit TBC tersebut tidak menular secara masif. Salah satunya dengan beretika santun saat batuk.

“Harus ada kesantunan dan etika saat batuk, salah satunya menggunakan masker agar kuman tidak berpindah ke orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Nila juga mengapresiasi Pemerintah Aceh yang serius menyelesaikan kasus stunting. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat pemerintah pusat yang ingin menyelesaikan kasus stunting secara nasional.

Ia menjelaskan, stunting bila tidak dicegah dapat berdampak hilangnya kualitas dan produktifitas, sehingga menjadi ancaman bagi generasi Indonesia di masa depan. Untuk itu, dibutuhkan kerja keras bersama untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk dengan mengoptimalkan pola asuh anak, pola makan, serta pembenahan sanitasi dan air bersih.

Di sisi lain, Nila juga mengajak kepada tenaga kesehatan untuk selalu melayani serta aktif mendampingi masyarakat agar dapat menerapkan hidup sehat. “Tenaga kesehatan harus terus meningkatkan kompetensi diri agar handal dan mampu melayani masyarakat dengan baik,” ujarnya.

Rektor Unsyiah, Samsul Rizal mengatakan harapan hidup masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan negara maju. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam beberapa tahun terakhir, angka harapan hidup orang Indonesia berkisar 70 tahun.

Angka tersebut, sebutnya, jauh lebih rendah dibandingkan harapan hidup di negara mapan, seperti Jerman, Jepang, atau Amerika. Bahkan di kawasan ASEAN, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam.

Fakta itu, menurut Rektor Unsyiah, menyiratkan masih banyak sisi yang harus dioptimalkan dari urusan kesehatan di Indonesia. Dan alumni Fakultas Kedokteran merupakan ujung tombak dari permasalahan tersebut.

“Unsyiah berkomitmen tinggi untuk terus meningkatkan kompetensi lulusan kedokteran. Komitmen dan usaha itu telah berbuah hasil dengan nilai akreditasi terbaik bagi fakultas ini,” sebut Samsul.[]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,800SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU