Migran Tamil Berjuang Mencapai Tanah Harapan

0
1853

FAKKY Sharen memelas begitu bertemu Muhammad Nasir Djamil. Ia tak henti-hentinya meminta anggota Komisi III DPR RI itu untuk membantu mempertemukan mereka dengan petugas UNHCR, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi.

Tak hanya meminta ditangani UNHCR, Fakky Sharen juga memohon agar diberikan boat pengganti. “Kondisi kapal kami sangat berbahaya, tidak ada nakhoda, mesin rusak,” kata Fakky.

Sejurus kemudian, Fakky sujud bersimpuh di kaki Nasir Djamil. “Mohon, bantu kami,” kata dia, “kami akan mati.”

Ia berkali-kali memohon. “Please, the ship running to dead, no driver.”

Fakky dan 43 migran Tamil, Srilanka, terdampar di perairan Lhoknga sejak Sabtu pekan lalu. Selama sepekan, mereka tidak diizinkan turun di daratan Aceh. Baru pagi tadi, pihak berwenang menurunkan mereka dari kapal.

Saat ini, para migran ditempatkan di sebuah tenda darurat yang dibangun di bibir pantai. Dinas Sosial Aceh kini mendirikan sebuah tenda besar untuk menampung mereka.

Para migran Tamil berangkat dari India. Sudha, perempuan 25 tahun yang tengah hamil enam bulan, merupakan salah satu migran yang menempuh perjalanan berbahaya, mengarungi lautan India menuju tanah harapan, Chrismas Island di Australia.

Sudha bilang mereka berangkat dari India sejak sebulan lalu. “Kami sudah berada di laut selama sebulan,” katanya kepada acehkita.com.

Sudha dan migran lainnya hendak menuju Chrismas Island di Australia. Untuk mencapai pulau harapan, Sudha dan kawan-kawannya harus membayar mahal kepada agen perjalanan. Setiap orang diharuskan membayar seribu lack. “Itu uang yang banyak,” ujar Sudha.

Sayangnya, di tengah perjalanan mereka ditinggalkan di laut. “Kapten kapal melarikan diri di perbatasan India,” kata Sudha.

Sudha membayangkan akan memperoleh kehidupan yang lebih layak ketika berada di Australia. Selama di India, Sudha mengaku tidak bisa memperoleh pendapatan, bahkan untuk mengantongi kartu identitas sekalipun.

“Selama 26 tahun di India, kami bahkan tidak bisa memiliki satu rumah pun, kami tidak diizinkan mencari kerja,” aku Sudha.

Chrismas Island menjadi tujuan utama mereka. “Kami ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik,” kata Sudha.

Para migran enggan jika dipulangkan ke India atau Srilanka. Mereka masih tetap bercita-cita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik di Chrismas Island.

“Kalau kembali ke India, kami akan mati. Kami tidak suka India,” ujar Sudha.

Para migran berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang telah membantu mereka. “Kami tahu pemerintah Indonesia baik, kami berterima kasih,” kata Artika, 22 tahun, migran lainnya. “Tapi tolong pertemukan kami dengan pihak UNHCR.” []

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.