Thursday, May 30, 2024
spot_img

Kopi Subur di Tanah Gayo

Berkemeja coklat, Gunawan mahir memainkan tangannya di tangkai kopi pada kebun seluas setengah hektar lebih. Hanya yang kuning dan merah dipetiknya lalu berpindah tempat ke kantong yang disandangnya. Awal Januari 2017 lalu, kami berkesempatan menemaninya menikmati sejuknya hawa dingin kebun di Tanah Gayo.

Gunawan terus beraktivitas sambil bercerita, sampai biji arabika penuh dan kemudian menuju pondok untuk dipindahkan ke goni. Sesaat istirahat dan kemudian melanjutkan lagi memanen pokok-pokok kopi yang tumbuh setinggi tubuhnya.

Di Desa Hakim Wih Ilang, Kecamatan Pondok Baru, Bener Meriah, tempat Gunawan bermukim adalah kampung para petani kopi. Hampir saban hari para petani disibukan dengan berkebun, hingga menjemur hasil panen kopi mereka. Di setiap yang kami lewati, warga menggelar tikar menjemur biji kopi.

Kopi memang tumbuh subur di wilayah tengah Aceh. Kesuburan tanah dan letak geografis yang tinggi di atas permukaan laut, membuat cocok untuk tumbuhan itu. Ditambah lagi petani menjaganya dengan pupuk alami, guna menjaga aroma kopi. “Kami rata-rata di sini menggunakan pupuk alami, seperti ampas kopi,” kata Gunawan.

Hasil panen, petani menjualnya dengan harga sesuai pasaran dunia. “Biji kopi harganya sampai Rp30 ribu perkilogram,” katanya.

Dataran Tinggi Gayo yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, sudah mengenal perkebunan kopi sejak 1908. Saat ini kebun kopi di dataran tinggi Aceh itu berkisar 94.500 hektar, meliputi Aceh Tengah (48.500 hektar), Bener Meriah (39 ribu hektar), selebihnya Gayo Lues (7.000 hektar).

Sementaran penghasilan kopi arabika yang diekspor ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Asia Pasifik, mengalami peningkatan. Sehingga pada awal 2016 lalu, diperkirakan kopi asal Dataran Tinggi Gayo itu mampu menghasilkan devisi negara sekitar Rp 5 triliun pertahun.

Sesuai data Aceh Tengah, saat ini Kopi Arabica Gayo sudah diekspor ke 17 negara di seluruh benua dengan importir terbesar Amerika Serikat. Secara bertahap grafik ekspor ke Uni Eropa dan Asia Pasifik juga sudah mulai meningkat.

Kopi Gayo telah dikenal di pasaran Amerika dan Eropa. Pada Juni 2016 lalu, Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), Mustafa Ali mengatakan Indikasi Geografis kopi arabica Gayo secara resmi terdaftar di Uni Eropa.

Menurutnya pada akhir 2015, Logo dan merek dagang Kopi Arabica Gayo sudah diakui di pasar Uni Eropa. Pada November 2015, sebanyak 19 anggota Tim Asosiasi Kopi Eropa atau SCAE (Specialty Coffee Association of Europe) datang ke Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, sebagai penghasil kopi Gayo. Mereka meninjau langsung perkebunan kopi rakyat selama sepekan.

Saat itu, Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Mustafa Kamal mengatakan kunjungan tersebut guna menjalin hubungan kerja sama yang baik antara eksportir dan asosiasi tersebut. []

SUPARTA | REZ

Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,903FollowersFollow
24,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU