Wednesday, April 8, 2020

Jurnalis Aceh Gelar Aksi Tuntut Polisi Bebaskan Dandhy Laksono dari Status Tersangka

Must Read

PA Cabut Iqbal dari Caleg

BANDA ACEH, acehkita.com. Partai Aceh akhirnya mencabut secara resmi Iqbal Idris dari daftar calon anggota legislatif (caleg) untuk DPR...

Demo Tolak “Pergub Cambuk Dalam Penjara” Ricuh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Aksi massa menolak Peraturan Gubernur Aceh (Pergub) nomor 5 tahun 2018 tentang pelaksanaan hukum...

Puluhan Peserta Ikuti Kontes Burung Berkicau

BANDA ACEH | ACEHKITA. COM - Sekitar 60 orang dari 10 komunitas pencinta burung dari seluruh Aceh mengikuti kontes...

Libur 2 Hari, Sekolah 8 Jam (2)

SISTEM pendidikan makin jauh menyeret anak-anak dalam bias kepentingan orang dewasa (pekerja industri) lewat kebijakan sekolah delapan jam ala...

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Sejumlah jurnalis lintas media di Banda Aceh menggelar aksi solidaritas menuntut polisi membebaskan Dandhy Dwi Laksono dari segala tuduhan dan statusnya sebagai tersangka. Dandhy ditetapkan tersangka pelanggaran UU ITE oleh Polda Metro Jaya pada Kamis (26/9) karena tweet-nya soal kerusuhan di Papua.

Aksi solidasitas yang diinisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh yang juga diikuti sejumlah aktivis dan pegiat LSM, berlangsung di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, pada Senin sore (30/9). Mereka sebelumnya berjalan kaki dari Sekretariat Bersama (Sekber) dengan membawakan spanduk tertulis “Stop Kriminalisasi Jurnalis dan Aktivis”.

Ketua AJI Kota Banda Aceh, Misdarul Ihsan, menyatakan dalam kurun waktu dua pekan terakhir terhitung sejak 14 hingga 25 September 2019, sebanyak 14 jurnalis mengalami intimidasi dan kekerasan saat menjalankan profesinya. Kejadian itu tersebar pada beberapa daerah di Indonesia.

“Dari data diperoleh AJI Indonesia, pelakunya mayoritas dari oknum aparat kepolisian yang mestinya mengayomi dan melindungi para insan pers terutama ketika berhadapan di lapangan dalam setiap aksi massa,” ujarnya.

Tidak hanya itu, kata Misdarul, pembungkaman berekspresi atau menyampaikan pendapat terhadap warga negara di negeri demokrasi ini juga semakin dikekang dan dibungkam. Sebagaimana dialami oleh Dandhy Dwi Laksono seorang jurnalis yang juga aktivis HAM dan lingkungan.

Ia menjelaskan, Dandhy dijemput paksa oleh aparat kepolisian Polda Metro Jaya dari rumahnya di kawasan Bekasi pada Kamis malam 26 September 2019, hanya karena mengkritik kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini di Papua lewat akun twitternya.

“Meski kemudian dibebaskan, tetapi status tersangka masih melekat padanya. Pembebasan Dandhy hanya sebatas penangguhan penahanan atau tahanan luar,” tutur Misdarul.

Ketua Divisi Advokasi AJI Kota Banda Aceh, Juli Amin, menambahkan, sementara kasus kebakaran rumah milik Asnawi Luwi, seorang jurnalis di Aceh Tenggara, yang terjadi pada 30 Juli 2019 lalu hinga kini belum terungkap.

“Meski diduga kebakaran itu karena faktor pemberitaan dan upaya untuk membungkam kemerdekan pers, tetapi hingga hari ini tepat 60 setelah kejadian motif kasus itu belum terungkap, apalagi menangkap pelakunya,” ujarnya.

Atas berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis, pembungkaman kemerdekaan pers serta pengekangan berekspresi yang kian meningkat akhir-akhir ini, AJI Kota Banda Aceh menyatakan sikap:

1. Meminta semua pihak untuk tidak menghalang-halangi, mengintimidasi dan melakukan kekerasan terhadap jurnalis. Dalam menjalankan profesinya, jurnalis dilindungi Undang-undang 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

2. Mendesak aparat kepolisian memproses hukum pelaku kekerasan terhadap jurnalis tanpa melihat latar belakang pelakunya, meski dari kalangan korpsnya sendiri.

3. Mendesak kepolisian dalam hal ini Polda Metro Jaya untuk segera membebaskan Dandhy Dwi Laksono dari status tersangka dugaan kasus SARA, dengan menerbitkan Surat Perintah Pemberhentian Perkara (SP-3).

4. Mendesak Polda Aceh untuk segera mengungkap motif dan dalang kasus pembakaran rumah jurnalis di Aceh Tenggara.

5. Mendesak Presiden RI untuk mereformasi lembaga kepolisian karena banyaknya kasus kekerasan terhadap jurnalis serta terkesan lamban dalam mengungkap kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Tiga Pasien Positif COVID-19 di Aceh Sembuh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Tiga pasien positif corona atau COVID-19 di Aceh dinyatakan sembuh. Mereka diperbolehkan pulang setelah...

200 Pengemudi Ojek Daring di Aceh Peroleh Bantuan Sembako

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 200 pengemudi ojek daring di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Aceh, memproleh bantuan sembako dari Forum...

Update Corona di Aceh: Sudah 37 PDP COVID-19 Pulang dari RS dan Sehat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 37 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona atau COVID-19 di Aceh dilaporkan sembuh dan telah pulang dari...

Update Corona di Aceh: ODP Bertambah Jadi 893, PDP 45, dan Hasil Swab EY Negatif

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona atau COVID-19 di Aceh kembali bertambah. Kali ini ODP bertambah 96 orang menjadi...

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis yang saat ini menjadi garda...

More Articles Like This