Saturday, October 1, 2022
spot_img

Bengkel Bahasa Isyarat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Di atas kursi meja kasir, lelaki berkaus biru itu masih mengunyah sisa suapan terakhir. Tangannya mulai melipat kertas pembungkus makan siangnya.

Tetiba seseorang pria yang masih menggunakan helm menghampiri dan menanyakan sesuatu. Yang ditanya tak menjawab. Hanya membalas dengan senyum.

Pria tadi mengulang dengan meninggikan suara. Lelaki kaus biru menggeleng-geleng, mulutnya mencoba mengucap sesuatu, dibantu telunjuk dan ibu jarinya, kemudian memegang kuping.

Si penanya baru mahfum, lalu dia menyalakan telepon genggamnya. “Mau ganti kanvas kopling,” tulisnya, sambil menunjuk motor bebeknya yang diparkir di luar.

“Bos lagi keluar, gak ada yang pasang,” balas lelaki baju biru tadi. Namanya Rizky, 21 tahun, asal Aceh Barat, dia penyandang tunarungu.

Bos yang di maksud adalah Andri, 28 tahun, pemilik sekaligus montir di bengkel tempatnya bekerja. Andri sendiri penyandang tunawicara.

Selain Rizky, ada Muzakkir sebagai pekerja, pria 24 tahun asal Pidie itu, juga tunarungu.

Andri, juga menjadi nama bengkel tempat mereka berkarya, terletak di Jalan Prof Ali Hasyimi, Pango Raya, Ule Kareng, Banda Aceh. Tempat ini juga sering dijadikan tempat bertemu sesama mereka penyandang tunarungu.

Tak banyak isi atau perlengkapan dalam bengkel berkonstruksi semi permanen ini, hanya sebuah kompresor, beberapa botol oli, kulit jok, ban dalam sepeda motor, botol air accu, serta seperangkat kunci beragam jenis dan ukuran.

Selain menyediakan jasa servis, ganti jok, dan tambal ban, Bengkel Andri juga meyediakan jasa cuci motor dan mobil.

Pekerjaan terakhir adalah spesialisasi Rizky selama ini, kadang juga dibantu Muzakkir bila pelanggannya sedang banyak.

“Saya belum bisa mesin, masih belajar sama bos,” jawab Rizky dengan menulis di kertas, ketika ditanya di mana belajar membengkel.

Namun demikian, Rizky pandai baca tulis, dia mengaku lulus dari Yayasan Pembinaan Penyandang Cacat Indonesia (YPPCI), Labui, Banda Aceh.

Beda dengan Rizky, Muzakkir sebisa mungkin menghindari calon konsumen yang datang ke Bengkel. Biasanya, dia pura-pura menyibukkan diri.

Sementara Rizky dalam melayani konsumen baru, hal yang pertama berusaha dia jelaskan bahwa mereka tunarungu. Dan mengarahkan calon konsumen menulis keluhannya.

Pagi tadi, Rizky menyambut seorang jurnalis TV nasional yang ingin memvideokan kegiatan mereka, setelah melihat postingan tentang bengkel Andri dari sebuah grup WhatsApp.

“Saya wartawan, mau liput bengkel kalian,” tulis Taufik Kelana di kertas, lalu ditunjukkan pada Rizky.

Setelah membaca, Rizky mengangguk-angguk lalu merebut kertas dan pulpen. “Hari ini bengkel sepi, gak ada Bos.
Besok, Sabtu aja balik.”

“Jam berapa?.”

“Terserah. Jam 10 aja.”

“Baik, saya akan kembali hari Sabtu, jam 10,” tulis Taufik, sambil pamit.

Sepeninggal Taufik, para montir dengan bahasa isyarat kembali bergelut dengan kesibukan, sebuah mobil dan beberapa sepeda motor antri menunggu sentuhan jasa mereka.[]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,618FollowersFollow
23,600SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU