Wednesday, April 1, 2020

2.342 Bencana di 2016

Must Read

Serah Terima Kodam Iskandar Muda

Kepada Staf Angkatan Darat, Letjen TNI Goerge Toisutta menyerahkan pataka kepada Brigjen TNI Hambali Hanafiah saat serah terima jabatan...

Sulaiman Abda Dukung Pembangunan Asrama Tiro

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Rencana masyarakat Kecamatan Tiro/Truseb Kabupaten Pidie untuk membangun asrama di Banda Aceh mendapat dukungan...

300 Ribu Batang Ganja Dibakar

ACEH BESAR | ACEHKITA.COM – Aparat kepolisian dan Badan Narkotika Nasional membakar sedikitnya 300 ribu batang ganja di Desa...

Dua Juara Dunia Tak Setuju Valentino Rossi Pensiun

JAKARTA | ACEHKITA.COM - Dua juara dunia balap motor kelas utama Casey Stoner dan Giacomo Agostini menilai Valentino Rossi tidak memiliki...

JAKARTA | ACEHKITA.COM – Selama tahun 2016 telah terjadi 2.342 kali bencana alam yang merenggut 522 jiwa di Indonesia. Sebuah angka musibah tertinggi dalam setahun yang pernah dicatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BPNP) sejak 2012. Sementara gempa Pidie Jaya merupakan bencana ekologi paling merusak di tahun ini.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menjelaskan, dari 2.342 bencana alam tersebut sekitar 92 persen adalah bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh banjir, longsor dan puting beliung.

“Selama 2016 terjadi 766 bencana banjir, 612 longsor, 669 puting beliung, 74 kombinasi banjir dan longsor, 178 kebakaran hutan dan lahan, 13 gempa, 7 erupsi gunung berapi, dan 23 gelombang pasang dan abrasi,” sebut Sutopo melalui rilis yang dikirim ke redaksi media.

Menurut Sutopo, dampak yang ditimbulkan bencana telah menyebabkan 522 orang meninggal dunia dan hilang. 3,05 juta jiwa mengungsi dan menderita. 69.287 unit rumah rusak, diantaranya 9.171 rusak berat, 13.077 rusak sedang, 47.039 rusak ringan dan 2.311 unit fasilitas umum rusak.

“Dari 766 kali kejadian banjir di 2016 telah merenggut 147 nyawa, 107 jiwa luka, 2,72 juta orang mengungsi dan menderita serta menyebabkan 30.669 rumah rusak.”

Sutopo menjelaskan bahwa daerah rawan juga meluas, seperti kejadian banjir besar yang sebelumnya belum pernah terjadi misalnya di Pangkal Pinang, Kota Bandung, Kota Bima dan lainnya.

Sementara itu untuk bencana geologi, selama tahun 2016 terjadi 5.578 gempa bumi atau rata-rata sekitar 460 gempa setiap bulan, dan 12 gempa diantaranya merusak. Berdasarkan kekuatannya terdapat 181 kali gempa di atas 5 skala richter (SR), 10 kali  gempa dengan kekuatan  6-6 SR ,9 dan satu kali  gempa berkekuatan 7,8 SR pada 2 maret 2016.

“Gempa paling merusak adalah gempa Pidie Jaya dengan kekuatan 6,5 SK pada 7/12/2016 yang menyebabkan 103 jiwa meninggal dunia, 267 jiwa luka berat, 127 jiwa luka berat serta mengakibatkan 91.267 jiwa mengungsi, 2.357 rumah rusak berat, 5.291 rumah rusak sedang, 4.184 rumah rusak ringan dan kerusakan lainnya,” ungkap Sutopo.

Sementara, longsor masih menjadi bencana paling mematikan selama 2016, bencana itu telah menyebabkan 188 jiwa meninggal dunia, jumlah ini meningkat dari tahun 2015 dimana 135 jiwa meninggal dunia.

Pada 2016, kebakaran hutan dan lahan dapat dikendalikan dengan baik. Pencegahan yang dilakukan serius oleh Pemerintah dan Pemda telah menyebabkan jumlah hotspot titik api menurun 80% dibandingkan tahun 2015.

Daerah-daerah langganan kebakaran hutan dan lahan seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan namun mampu dikendalikan sehingga kebakaran tidak meluas.

“Tidak ada daerah di Sumatera dan Kalimantan yang tertutup asap pekat seperti halnya tahun 2015 lalu.”

Sedangkan untuk letusan gunung api, hingga saat ini terdapat 16 gunung api aktif dari 127 gunung api yang statusnya di atas normal. 1 status Awas (level 4) dan 15 status Waspada (level 2).

Sistem peringatan dini gunung api berjalan dengan baik. Selama tahun 2016, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara terus meletus. Sejak 2/6/2015 hingga sekarang status Awas (level 4) masih berlaku pada Gunung Sinabung. Hingga kini aktivitasnya masih tinggi, hampir setiap hari meletus dan diikuti luncuran awan panas. Kawasan Rawan Bencana terus bertambah luas sehingga jumlah warga yang harus direlokasi juga bertambah.

“Saat ini masih ada warga 9.319 jiwa dari 9 desa di sekitar Gunung Sinabung yang mengungsi Selain itu juga ada 4.967 jiwa warga dari 4 desa yang dalam persiapan relokasi mandiri.”

Sutopo mengingatkan, meningkatnya bencana tentu menuntut upaya pengurangan risiko bencana juga perlu ditingkatkan. Selama ini budaya sadar bencana masih cukup rendah padaha jutaan masyarakat Indonesia masih tinggal di daerah rawan bencana dengan tingkat mitigasi bencana yang rendah.

Menurut data BNPB, pada tahun 2015 telah terjadi 1.732 kali bencana, 2014 (1.967 bencana), 2013 (1.674 bencana), 2012 (1.811). Dibandingkan dengan kejadian bencana tahun 2015 terjadi peningkatan 35 persen di 2016. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis...

Ruang Outbreak Pinere RSUDZA Dijadikan Tempat Isolasi Pasien COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - RSUDZA Banda Aceh telah memiliki 12 ruang Outbreak Pinere (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) pada Selasa (31/3/2020). Ke-12 ruang...

Update Corona di Aceh: 5 Positif, 2 Meninggal, 44 PDP, 797 ODP

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona di Aceh bertambah 177 orang menjadi 797 orang per Selasa (31/3/2020) pukul 15.00...

Cegah Corona, Masjid Raya Baiturrahman Disemprot Disinfektan Sebelum Salat Jumat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Enam belas personel gabungan dari unit KBR (kimia, biologi, radio aktif) Detasemen Gegana Satuan Brimob Kepolisian Daerah Aceh dan...

Cegah Penyebaran Corona, Arab Saudi Hentikan Shalat Berjamaah di Masjid

RIYADH – ACEHKITA.COM – Pemerintah Arab Saudi, hari Selasa waktu setempat (Rabu dini hari WIB), menghentikan sementara pelaksanaan shalat berjamaah di semua masjid negara...

More Articles Like This