Virus Corona Sama Mematikan Dengan Pandemi Flu Spanyol: Peneliti

0
203

NEW YORK | ACEHKITA.COM – Virus corona setidaknya sama mematikan dengan pandemi flu Spanyol 1918 – 1920, dimana jumlah kematian bahkan bisa lebih buruk jika para pemimpin dunia dan petugas kesehatan masyarakat gagal mengendalikannya secara memadai, demikian peringatan para peneliti dalam sebuah kajian yang diterbitkan di jurnal medis JAMA Network Open, Kamis atau Jumat dinihari WIB.

“Apa yang kami ingin agar orang tahu bahwa ini memiliki potensi seperti 1918,” ungkap penulis utama Dr. Jeremy Faust dalam sebuah wawancara, sambil menambahkan bahwa wabah di New York setidaknya 70% separah yang terjadi tahun 1918 saat dokter tak punya ventilator atau kemajuan lain untuk membantu menyelamatkan nyawa seperti mereka lakukan saat ini.

“Ini bukan sesuatu untuk diabaikan seperti flu (biasa).”

Para peneliti membandingkan kematian berlebih di New York selama puncak pandemi flu Spanyol dengan kematian beberapa bulan pertama wabah Covid-19.

Mereka memakai data publik dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Departemen Kesehatan dan Kebersihan Mental Kota New York, dan Biro Sensus AS untuk penelitiannya.

Para peneliti menemukan peningkatan kematian selama pandemi flu Spanyol 1918 lebih tinggi secara keseluruhan, tapi sebanding dengan yang diamati dalam dua bulan pertama wabah virus corona di New York.

Tetapi ketika memperhitungkan peningkatan dalam kebersihan, pengobatan modern, dan kesehatan masyarakat, peningkatan selama awal wabah virus corona “secara substansial lebih besar” daripada selama puncak pandemi 1918, kata mereka.

“Jika tidak diobati secara memadai, infeksi SARS-CoV-2 mungkin memiliki kematian sebanding atau lebih besar daripada infeksi virus influenza H1N1 1918,” ujar Faust, seorang dokter di Rumah Sakit Brigham and Women dan instruktur di Harvard Medical School.

Penulis studi mencatat bahwa penelitian mereka punya keterbatasan, dengan mengatakan tak diketahui berapa banyak kematian akibat Covid-19 yang telah dicegah sejak wabah itu dimulai karena perbaikan modern dalam perawatan kesehatan yang tidak tersedia seabad lalu, seperti oksigen tambahan dan ventilator.

Studi baru datang ketika virus corona terus menyebar dengan cepat ke seluruh Amerika Serikat dan telah terpapar 188 negara di seluruh dunia.

Menurut data yang dikumpulkan Universitas Johns Hopkins, virus yang pertama munch di Wuhan, China, tahun lalu itu telah menginfeksi lebih 20 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan sedikitnya 751.000 orang.

AS mengalami wabah terburuk di dunia dengan lebih dari 5 orang juta terinfeksi dan setidaknya 166.000 jumlah kematian. AS mencatat lebih dari 1.500 meninggal dunia karena Covid-19 pada Rabu, menandai hari paling mematikan bagi negara itu sejak akhir Mei.

Para peneliti menemukan angka kematian yang berlebihan di atas tingkat normal juga melebihi yang dikaitkan dengan Covid-19, membuat mereka menyimpulkan bahwa banyak dari kematian itu kemungkinan disebabkan oleh virus corona tetapi tidak dikonfirmasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengatakan tidak ada “peluru perak” untuk virus dan petugas kesehatan kemungkinan akan membutuhkan serangkaian perawatan untuk membantu pasien melawan penyakit tersebut.

Pejabat kesehatan masyarakat dan ahli penyakit menular sering membandingkan Covid-19 dengan flu Spanyol 1918, yang diperkirakan telah menewaskan 50 juta orang di seluruh dunia dari 1918 hingga 1920, termasuk 675.000 orang Amerika. Lebih 20 juta orang tewas dalam Perang Dunia I, sebagai perbandingan.

Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka di AS, mengatakan virus corona adalah “pandemi dalam proporsi historis” dan buku sejarah kemungkinan besar akan membandingkannya dengan tahun 1918.

Dia telah menyebut rentang gejala “ekstrem” yang dapat dialami orang setelah tertular virus, termasuk sindrom inflamasi multisistem pediatrik, kondisi peradangan langka yang ditemukan pada anak-anak dengan Covid-19 yang mirip dengan sindrom Kawasaki dan telah menyebabkan kerusakan neurologis pada beberapa anak.

Para peneliti berharap temuan mereka bisa membantu para pejabat mengontekstualkan yang tidak biasa dari pandemi Covid-19 dan “mengarah pada kebijakan lebih bijaksana untuk membantu mengurangi penularan.”[]

CNBC

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.