Teladan dari Kisah Isra’ dan Mi’raj

MOMENTUM Isra’ dan Mi’raj yang baru saja diperingati, menjadi salah satu fenomena yang luar biasa dalam sejarah Islam, yakni peristiwa yang jatuh pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 pada masa kenabian Muhammad SAW. Peristiwa tersebut juga menjadi sederet kisah-kisah menarik yang tentunya bisa menambahkan keimanan kita sebagai muslim di seluruh dunia.

Dari sisi bahasa, Isra’ Mi’raj berasal dari dua kata bahasa Arab, yaitu kata Isra’ dan Mi’raj. Isra’ yang berarti perjalanan malam, dan Mi’raj berarti naik.

Mi’raj itu sendiri juga mempunyai arti perjalanan Nabi Muhammad SAW naik dari Lauhul Mahfudz sampai ke Sidhratul Muntaha, yakni langit ke tujuh untuk bertemu langsung dengan Allah SWT. Dengan kata lain peristiwa Isra’ Mi’raj terbagi pada dua kejadian.

Dua kejadian inilah menjadi salah satu mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW, Nabi akhirul zaman untuk seluruh umat manusia di dunia dalam menunjukkan keajaiban dari Sang Pencipta Alam semesta, Al-Khalik kepada seluruh hamba-Nya.

Isra’ dalam pengertian kata adalah perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram, kota Mekkah menuju Masjidil Aqsha yang terletak di kota Baitul Maqdish, Palestina yang kita kenal saat ini.

Peristiwa tersebut menjadi sebuah perjalanan di luar batas kemampuan manusia yang berakal, mukjizat Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengambil sebuah pelajaran penting bagi umatnya kelak di dunia.

Mukjizat ini Allah tegaskan juga dalam pedoman hidup umat Islam, Al Quran, dengan sebuah surat yang bernama Al-Isra’ yang menceritakan perjalanan Nabi untuk menerima kewajiban salat wajib lima waktu.

Keteladanan dari Sebuah Keajaiban
Jika kita mau mengambil rentan waktu untuk mengukur perjalanan dari Mekkah ke Palestina lebih kurang 40 hari pada masa itu. Tentu ini menjadi sebuah perjalanan yang jauh, namun dengan kuasa Allah telah melakukan itu semua dalam waktu yang begitu singkat, hanya dalam beberapa jam saja.

Tentu akan mengherankan bagi orang-orang dahulu pada masa Nabi, jika dapat melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam tempo beberapa jam saja. Hal yang demikian itu bisa jadi tidak diterima oleh akal sehat mereka. Bukan tanpa sebab, karena pada waktu itu belum ada kendaraan yang bisa digunakan seperti pada zaman sekarang ini, jika terjadi pun perjalanan tersebut pada masa kini akan menjadi perkara biasa, dengan adanya pesawat udara dan kendaraan lain yang bisa secepat “kilat”.

Ada keteladanan dari kisah perjalanan Nabi ini, peristiwa mi’raj juga menjadi sebuah ujian dan tolak ukur keimanan bagi umat Islam pada saat ini.

Karena bukan mustahil, bagian orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul, peristiwa perjalanan menuju ke langit tujuh itu tidak ada sedikit pun kecurigaan dan ragu dalam hati untuk membenarkan semua kejadian yang Nabi lewati dari Mekkah ke Palestina dan naik ke langit sampai ke Sidhratul Muntaha. Namun, sebaliknya bagi mereka yang ragu dengan derajat kenabian Muhammad tidaklah pernah percaya dengan sederet peristiwa tersebut.

Shalat lima waktu yang umat muslim lakukan sehari semalam ini mempunyai nilai didikan yang begitu besar, diajarkannya kita untuk membersihkan diri (wudhu) dari segala jenis kotoran sebelum menunaikan perintah tersebut.

Dalam sebuah hadist, dari Ummu Aiman radhiyallahu ’anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jangan kamu tinggalkan shalat dengan sengaja. Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka sungguh lepaslah darinya perlindungan Allah ta’aala dan Rasul-Nya.” (HR Ahmad)

Inilah salah satunya teladan, bahwa kita diajarkan untuk hidup bersih, berdisiplin tinggi dalam shalat, dan menyehatkan tubuh dengan semua gerakan shalat yang kita lakukan. Setiap ibadah shalat lima waktu itu akan membuat dan membentuk pribadi yang sehat rohani dan jasmani.

Semoga dengan momentum Isra’ dan Mi’raj ini, ada banyak hikmah yang bisa kita teladani dan jalankan. Terlebih hubungan hablumminallah yang menjadi pokok utama dan tentunya habblumminannas, seperti apa yang Nabi rasakan dengan begitu nikmat dan singkatnya perjalanan berhadapan dengan Allah, namun tanggungjawab beliau tetap kembali ke dunia untuk melanjutkan tugas mulianya membawa bekal salat kepada umat.[]

Aulia Fitri, mahasiswa Universitas Indonesia. Seorang blogger.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.