Setelah Satu Dekade Damai Aceh

0
2309

Ketua Fraksi Partai Aceh, Kautsar, menulis di akun twitter miliknya, @kautsar03 (12/08) “[…] Kita gagal merumuskan rencana perjuangan pasca-damai. Kita tersesat dalam perebutan kekuasaan semata.”

Kicauan tersebut terasa istimewa, bukan semata-mata karena disuarakan petinggi partai berkuasa di Aceh, melainkan karena beberapa alasan. Pertama, jarang sekali ada elit politik di Aceh, terutama dari kalangan Partai Aceh, partai yang didirikan para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengakui kelemahan terutama dalam merumuskan dan menyiapkan blue print pembangunan Aceh pasca-damai.

Sebenarnya, kelemahan tersebut tak melulu kesalahan elit GAM, karena masyarakat sipil sendiri gagal mengambil peran dalam proses transisi di Aceh. Mereka lebih memilih membebek pada kekuatan GAM, sebagai penentu kebijakan pembangunan di Aceh pasca-damai.

Kedua, jika diukur dari rentang waktu, yaitu setelah sepuluh tahun usia perdamaian, pengakuan tersebut tergolong lambat. Dua periode para eks kombatan GAM memegang tampuk kekuasaan di Aceh (sebagai legislatif dan eksekutif), Aceh belum juga beranjak dari daerah terbelakang dan sejahtera secara ekonomi. Pembangunan pun berjalan lamban. [Selanjutnya baca Setelah Satu Dekade Damai Aceh

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.