Monday, December 5, 2022
spot_img

Separuh Hati di Bawah Batu Nisan

“Tak pernah terpikir olehku // tak sedikitpun ku bayangkan // kau akan pergi tinggalkan kusendiri // begitu sulit kubayangkan // begitu sakit ku rasakan // kau akan pergi tinggalkan ku sendiri”

Rumah permanen bercat ungu itu terletak di ujung lorong Desa Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Di sampingnya, sawah terbentang luas. Sebuah tenda berdiri tegak di bagian depan. Di bawah tenda, kursi berantakan tak tersusun.

Tiga perempuan paruh baya duduk di atas kursi di teras rumah. Empat wanita lain berlesehan di lantai. Seorang pria berdiri di sudut teras. Ia menghisap sebatang rokok dari tangan kanannya.

“Tameung, neulangkah u dalam,” ujar Rajati mempersilahkan masuk. Ia adalah Yusra Fitriani (31), dara baro (pengantin perempuan) yang batal nikah karena Suharnas (31), sang linto baro (pengantin laki-laki) meninggal dunia tertimpa reruntuhan rumah toko tempat ia menetap setelah dihentak gempa 6.5 Skala Richter, Rabu lalu.

Saat acehkita.com mendatangi rumah sang dara baro, Kamis (8/12/2016) siang, pelaminan untuk pergelaran pesta pernikahan baru saja dibongkar. Ruang tamu nampak kosong. Seluas 4×8 meter, ruang itu hanya diisi perabotan sebuah lemari televisi.

Tikar digelar. Di tengahnya, serabi dihidangkan. Beberapa botol air mineral turut dipersilahkan. “Serabi ini sebenarnya kue untuk perayaan pesta pernikahan. Memang telah kami siapkan,” kata Rajati sambil mempersilahkan menyicipinya.

Muhammad Yunus beranjak dari rebahannya sembari menonton televisi. Ia bersalaman dengan beberapa awak media yang bertamu ke ‘istana’nya. Yunus duduk di atas gelaran tikar. Kakinya menyilang. Ia bapak dari Yusra.

“Yusra masih syok. Jika ingin wawancara, tolong jangan tanya yang mempengaruhi psikologinya,” terang Yunus saat acehkita.com meminta izin mewawancara Yusra.

Menurut Yunus, Yusra belum sanggup melepas kepergian calon suaminya. Ia tak beranjak dari dalam kamar. Air berlinang dari bola matanya sejak kemarin Subuh, saat ia mendengar kabar calon suami menghadap Ilahi.

Calon suami, Suharnas menutup mata selamanya saat terlelap di rumah toko miliknya. Tempat dagang sekaligus rumah Suharnas, Rina Arloji, hancur setelah dihentak gempa. Bangunan berlantai dua itu menelan 23 korban.

Delapan dari 23 korban meninggal merupakan sanak saudara Suharnas dari Banda Aceh dan Medan. Salah satu di antaranya adiknya sendiri. Tujuan mereka ke sana untuk mengantar sang kakak naik pelaminan di rumah Yusra pada Kamis, 8 Desember 2016.

Namun nasib berkata lain. Kedelapan sanak saudara, termasuk Suharnas terlebih dulu diantar warga menuju peristirahan terakhir: liang lahat. Duka mendalam di benak Yusra.

Yusra dan Suharnas berkenalan empat bulan lalu. Dari perkenalan itulah Suharnas melamar Yusra, 40 hari lalu. Lamaran langsung diterima. Tak tanggung-tanggung, 13 mayam dilontarkan Suharnas untuk meminang sang kekasih, Yusra. Rencana, keduanya melakukan akad nikah Kamis, 8 Desember 2016 di KUA Meureudu.

Andai tak terjadi gempa, siang Kamis tadi, mereka pasti tengah senyum lepas di atas dudukan raja. Tetapi, takdir tak pernah mengenal andai. Semuanya musnah. Harapan Yusra punah. Keduanya batal nikah. Sang linto baro telah tiada bersamaan datangnya musibah.

“Kami telah mempersiapkan semua kebutuhan acara resepsi pernikahan. Kami telah rapat dengan warga atas pelaksaan acara. Mengatur seksi-seksi yang terlibat dalam pesta,” kata Yunus. “Seekor lembu telah kami siapkan untuk disembelih.”

Persiapan resepsi mencapai 99 persen. Yusra bahkan telah melewati ‘malam bouh kaca’. Yaitu malam mengukir inai di tangan dan kaki sang dara baro. Inai indah telah terukir di tangan dan kaki Yusra.

Bayangan indah bersama Suharnas terbang lah sudah. Yusra belum kuat menata kembali separuh hatinya yang terkubur liang lahat. Di atas tempat tidur, ia terbaring. Matanya sembab. Kesedihan menyelimuti setiap tatap dan lakunya.

“Di bawah batu nisan kini // kau telah sandarkan, kasih sayang kamu // begitu dalam // sungguh ku tak sanggup // ini terjadi karena ku sangat cinta // inilah saat terakhirku // melihat kamu // jatuh air mataku // menangis pilu // hanya mampu ucapkan // selamat jalan kasih”. []

HABIL RAZALI

Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,645FollowersFollow
23,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU