Semangat Korban Gempa Gayo

0
1180

KETOL (ACEH TENGAH) | ACEHKITA.COM – Ketokan paku memecah keheningan gampong yang diapit perbukitan dan dikelilingi lembah. Meski matahari membakar, pria tua yang terlihat masih kuat terus memasang lembaran demi lembaran seng di atap bangunan kayu.

Seorang warga sedang melihat Kardi dan menantunya memasang seng di rumah kayu di Gampong Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Rabu (24 Juli 2013). [NH/ACEHKITA.COM]
Seorang warga sedang melihat Kardi dan menantunya memasang seng di rumah kayu di Gampong Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Rabu (24 Juli 2013). [NURDIN HASAN/ACEHKITA.COM]

Kardi, 65 tahun, warga Gampong Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, adalah seorang korban gempa 6,2 Skala Richter yang mengguncang Aceh, pada 2 Juli. Dua rumah beton bersebelahan miliknya dan putrinya telah rata tanah. Kini, rumah kayu sederhana telah berdiri di samping reruntuhan rumahnya.

Tiga pekan setelah bencana yang menewaskan 42 warga dan enam lain hilang serta merontokkan rumah-rumah warga desa pedalaman itu, Kardi bertekad ingin segera kembali ke rumah. Dia berharap segera pindah ke rumah kayu serba darurat karena sudah tak tahan lagi tinggal di bawah tenda terpal plastik.

“Dulu, ini gudang. Akibat gempa, ini juga rusak parah dan miring. Lalu, kami tolak dengan bantuan beberapa warga agar kembali tegak berdiri,” katanya, Rabu lalu.

Sebuah excavator datang dari ujung desa. Kardi turun dari atap dengan tangga kayu. Ia meminta sopir excavator meleburkan reruntuhan beton rumahnya agar gampang dibersihkan.

“Jika besar-besar seperti itu susah dibersihkan. Tapi kalau sudah dihancurkan begini, akan gampang membersihkannya. Sehingga nanti bisa lebih mudah saat membangun kembali rumah di bekas pertapakan itu,” ujarnya, sambil sesekali mengarahkan sopir excavator menarik dan menghancurkan beton bekas dinding rumahnya.

Kepulan debu dari puing rumah Kardi yang sedang dihancurkan terbang ke angkasa, seiring raungan mesin excavator. Dua warga menonton sopir yang cekatan bekerja.

“Alhamdulillah, tidak ada anggota keluarga saya yang menjadi korban gempa, tetapi kaki anak perempuan saya luka parah terkena puing rumah ketika menyelamatkan diri,” kata Kardi, yang sehari-hari berprofesi sebagai petani tebu.

Sekitar 20 meter dari situ, Suud, 78 tahun, dan istrinya, Salamah, 60 tahun, terlihat sibuk mengatur barang-barang yang masih bisa dipakai. Mereka telah sepakat mulai Rabu malam tak lagi tidur di tenda pengungsian. Suud bersama dua putra dan kedua menantunya telah mendirikan rumah kayu sementara.

“Tiga hari usai gempa, kami bersihkan puing-puing rumah dan mengambil kayu-kayu, balok dan seng yang masih bisa digunakan. Hari keempat kami mulai bekerja bangun kembali rumah meski serba darurat dari kayu,” kata Suud, yang terlihat tetap energik di usia senjanya.

Tumpukan kasur, pakaian dan barang-barang lain berserakan di lantai tanah. Dinding bagian belakang belum selesai dipasang papan. Tidak ada loteng, sehingga bila siang, panas membakar karena matahari langsung menghantam seng.

“Kami tidak mau berlama-lama di pengungsian. Di sana berdesak-desakan. Bila hujan sangat kesulitan. Apalagi cucu saya baru berusia 8 bulan. Makanya kami akan segera pindah ke sini. Kalau malam hujan, tidak kedinginan lagi,” kata Salamah, yang bicara ceplas ceplos.

Suud (kiri) dan istrinya Salamah (kanan) sedang beristirahat di rumah kayu yang baru selesai mereka bangun  kembali di Gampong Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Rabu (24 Juli 2013). [NURDIN HASAN/ACEHKITA.COM]
Suud (kiri) dan istrinya Salamah (kanan) sedang beristirahat di rumah kayu yang baru selesai mereka bangun kembali di Gampong Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Rabu (24 Juli 2013). [NURDIN HASAN/ACEHKITA.COM]

Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir kedua pasangan senja itu. Di bagian belakang, putra mereka, Zainal Abidin, 31, sibuk memasang papan. Sementara kedua menantu Suud bolak balik dari tempat pengungsian untuk mengambil barang-barang mereka. Keluarga ini menggantung hidup dari bertani kopi.

Sejumlah warga lain juga terlihat sibuk membangun kembali rumah mereka kendati serba darurat. Hal serupa juga dapat dijumpai sepanjang jalanan berbukit menuju ke Kecamatan Kute Panang, yang bertetangga dengan Ketol. Umumnya warga mengaku tak mau berlama-lama tinggal di tenda yang sebagian besar hanya terpal plastik biru. Mereka kembali bersemangat untuk bangkit.

Tidak banyak ditemukan tenda keluarga yang layak di kedua kecamatan paling parah dampaknya akibat gempa darat itu. Hampir di setiap depan rumah warga, terpasang terpal plastik biru.

Suud menyatakan bahwa ini kali keempat dia membangun kembali rumahnya. Pada tahun 2000, rumahnya bersama puluhan rumah warga lain di Blang Mancung pernah dibakar kelompok bersenjata. Dia mengaku tidak tahu siapa yang membakar rumah mereka.

“Waktu itu, kami sempat mengungsi 10 hari ke gedung Sekolah Dasar. Lalu, warga di sini mulai membangun kembali rumah dengan kayu seadanya. Baru tahun 2011, saya mendapat bantuan untuk membangun kembali rumah yang dulu dibakar. Itu pun setelah kami sempat demo sampai ke Banda Aceh,” katanya.

Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara, yang ditemui di kantornya menyebutkan bahwa pihaknya akan berusaha mempercepat pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa.

“Kami menargetkan setelah puasa Ramadhan, pembangunan kembali rumah sudah bisa dilakukan,” katanya seraya menyebutkan pembangunan rumah itu dilaksanakan sendiri oleh masyarakat korban.

“Kita tidak mau membiarkan warga berlama-lama tinggal di tenda pengungsian. Jadi, setelah Lebaran Idul Fitri, kita harap sudah mulai pembangunan rumah. Apalagi, kini warga juga mulai berinisiatif membangun sendiri rumahnya dengan sisa-sisa material yang ada.”

Disebutkan bahwa untuk rumah yang rusak berat akan memperoleh bantuan senilai Rp 40 juta, rumah sedang Rp 20 juta dan rusak ringan 10 juta. Sejauh ini, data rumah di Aceh Tengah yang mengalami kerusakan berjumlah 5,516 rusak berat, 2,750 rusak sedang dan 5,596 rusak ringan. Data itu kini masih terus diverifikasi ke lapangan.

“Masyarakat nanti membentuk kelompok. Setiap kelompok anggotanya 10 atau 15 kepala keluarga. Warga sendiri yang putuskan. Nanti dananya ditransfer ke rekening kelompok dalam dua tahap,” kata Khairul.

Disebutkan bahwa proses pembangunan kembali rumah akan didampingi fasilitator. Khairul juga mengharapkan aktifis LSM untuk ikut memantau dan mengawasi proses pembangunan kembali rumah warga serta berbagai infrastruktur yang rusak akibat gempa yang seingat dia, inilah paling kuat dirasakannya di Aceh Tengah.

Khairul mengakui bahwa dana yang dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke lokasi gempa pada 9 Juli lalu itu tidak cukup. Untuk itu, pihaknya telah meminta kepada Pemerintah Aceh agar dapat menambah dana pembangunan rumah warga korban gempa.

“Kami sudah sampaikan pada Gubernur Zaini Abdullah dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh untuk dapat menambah bantuan dana pembangunan rumah warga. Tanggapan pemerintah provinsi Aceh akan diusahakan, tapi belum jelas berapa akan ditambah,” kata Khairul.

Kardi dan Suud mengatakan, dana Rp 40 juta tidak cukup untuk membangun kembali rumah mereka yang telah rata tanah. “Tapi kalau benar pemerintah mau membantu, syukur Alhamdulillah,” kata Kardi, sambil menyebutkan paling tidak butuh Rp 80 juta untuk membangun kembali rumah mereka.

Suud mengaku dirinya tidak akan menuntut bantuan dana seperti ketika dia bersama warga lain sampai berdemonstrasi ke Banda Aceh. “Saya tidak akan berdemo untuk menuntut bantuan karena ini musibah datang dari Allah. Jika pemerintah mau kasih bantuan, Alhamdulillah. Kalau dulu, saya tuntut karena ulah manusia,” katanya.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.