Tuesday, July 7, 2020

Prediksi Gempa, BNPB Siapkan Kerjasama dengan Jepang

Must Read

FOTO | Demo FPI

Front Pembela Islam (FPI) Aceh melancarkan aksi unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan Uni Eropa di Jalan Sudirman Banda...

SMAN 8 Banda Aceh Susul SMAN 1 Montasik ke Final

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Kesebelasan SMAN 8 Banda Aceh akhirnya bisa menyusul SMAN 1 Montasik yang telah lebih...

Sebelum Dihukum Cambuk Berkas Mucikari dan PSK Online Akan Segera Diserahkan Ke JPU

Kepolisian Resot Kota Banda Aceh saat ini sedang melakukan P21 (berkas lengkap) terhadap mucikari dan satu orang yang diduga...

Markas Baru Antar Aceh United Menang 2-0 atas Persita

BIREUEN | ACEHKITA.COM -- Berlaga di markas barunya untuk kali pertama pada sore tadi, Aceh United sukses meraih poin...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Jakarta – Gempa bumi menjadi salah satu ancaman bencana besar di Indonesia. Hingga kini prediksi gempa secara pasti masih menjadi masalah. Gempa belum mampu diprediksi secara pasti kapan akan terjadi dan dimana.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, Kamis 6 April 2017 mengatakan Earthquake Prediction Research Centre Japan (EPRC) telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan kita memprediksi gempa dan tsunami sebagai bencana susulan. Ini mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkepentingan untuk menerapkan teknologi tadi sebagai upaya peringatan dini.

“Lebih dari 184 juta masyarakat Indonesia terpapar potensi gempabumi pada kategori sedang hingga tinggi,” katanya.

Teknologi yang dimaksud adalah gabungan teknologi canggih seperti satelit, radar, GPS sensor dan peralatan pendukung lain seperti pendeteksi gelombang elektromagnetik. Di samping itu, dukungan teknologi ini tentu disertai beragam data seperti tinggi muka air. Data yang digunakan berasal dari data yang diperoleh dari satelit milik Amerika Serikat, Rusia, Jerman dan Jepang. Beragam data tadi kemudian diolah dan dianalisis dengan supercomputer artificial intelligence.

Harapan dari pengembangan teknologi ini yaitu terwujudnya International Surface Artificial intelligence Communicator (ISACO).

Kata Sutopo, setiap orang yang berada di wilayah rawan bencana nantinya akan mendapatkan informasi potensi ancaman gempa. Email peringatan dini dapat diakses melalui smartphone yang memberitahukan 1 hari jelang gempa berkekuatan 5 atau lebih terjadi.

Namun demikian, pengetahuan risiko dan kesigapan untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi juga sangat penting dipahami oleh setiap individu.

Analisis dari teknologi yang digunakan menunjukkan hasil yang mencengangkan. Persentase akurasi dalam kurun waktu 3 tahun (1 Februari 2013 – 31 Januari 2016) menunjukkan nilai tinggi. Gempa dengan kekuatan magnitude 6 terjadi 38 kali dan terdeteksi sebelum gempa terjadi sebanyak 31 kali atau akurasi mencapai 82 persen. Gempa dengan magnitude 5 – 5,9, nilai akurasi sebesar 77 persen.

Melalui teknologi canggih ini, Jepang telah dapat memprediksi potensi gempa sehingga masyarakat dapat siap siaga mengantisipasi risiko terburuk. Jepang memprediksi gempa besar yang kemudian memicu tsunami. Apabila bencana itu terjadi, 323.000 jiwa di 30 prefektur terpapar bahaya tersebut.

Menurut perhitungan EPRC, potensi kejadian berdasarkan data sudah mencapai 80 persen. Potensi gempa tersebut diperkirakan terjadi karena aktivitas lempeng tektonik Great Nankai Trough.

Menurut Peneliti EPRC asal Jepang Shigeyoshi Yagishita, 1.400 tahun terakhir, gempa-gempa besar terjadi pada periode 100 – 200 tahun karena lempeng Nankai Trough.

“Sudah 70 tahun berlalu, dan kemungkinan gempa besar akan terjadi 30 tahun mendatang dengan kemungkinan 80 persen,” kata Shigeyoshi sebagai analis citra satelit.

Shigeyosi mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui potensi gempa besar tadi, namun sangat sulit membangun tembok penghalang tsunami setinggi 10 meter di sepanjang kepulauan di Jepang.  Potensi gempa besar di Nankai Trough dapat memicu tsunami setinggi 34 meter di wilayah Tosashimizu, Kochi.

Sementara itu, EPRC berkeinginan untuk membantu Indonesia karena memiliki karakteristik dimana berada dekat dengan lempeng tektonik. Shigeyoshi menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membebankan biaya kepada Pemerintah Indonesia apabila teknologi diterapkan di Indonesia. EPRC memiliki tujuan yaitu menganalisis data besar dan menggunakan teknologi yang dipunyai untuk meminimalkan dampak gempabumi dan berkontribusi untuk menyelamatkan lebih banyak umat manusia di dunia.

Untuk penjajakan pengembangan teknologi prediksi gempa tersebut BNPB akan bekerjasama dengan BMKG, BIG, BPPT, perguruan tinggi dan institusi lainnya. []

ACEHKITA.com menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund senilai US$5.000.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

220 PNS Kemenag Aceh Dilantik Secara Virtual karena Pandemi Corona

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - 220 CPNS formasi 2018 dalam lingkup Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh dilantik dan diambil...

Bangunan Makam Cut Meutia di Aceh Utara Rusak Tertimpa Pohon

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Bangunan makam Pahlawan Nasional, Cut Meutia, rusak tertimpa pohon tumbang akibat angin kencang beberapa waktu lalu. Kejadian ini turut...

Wilayahnya Rawan Bencana, Unsyiah dan Unand Kolaborasi Penelitian Kebencanaan

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sama-sama berada di wilayah rawan bencana, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat...

Anggota DPR RI Apresiasi UTBK Unsyiah di Tengah Pandemi COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Muhammad Kadafi, meninjau langsung pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer...

Webinar Harganas 2020 di Aceh: Jaga Keluarga dari COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Aceh bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) dan BKKBN Aceh menyelenggarakan webinar Hari...

More Articles Like This