Perancis Terapkan Jam Malam Saat Covid Melonjak Lagi di Eropa

0
173

PARIS | ACEHKITA.COM – Jutaan orang Eropa kembali menghadapi pembatasan baru yang ketat ketika pemerintah sejumlah negara mencoba memerangi penyebaran virus corona yang melonjak lagi dalam sepekan terakhir.

Pada hari Sabtu, Paris dan kota-kota besar lain di Perancis mulai menerapkan jam malam, yang akan berlangsung setidaknya selama sebulan ke depan.

Sementara itu, Inggris telah melarang pertemuan rumah tangga campuran, sedangkan Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak warganya untuk tinggal di rumah apabila memungkinkan setelah 7.830 kasus muncul dalam 24 jam terakhir.

“Kami harus melakukan segalanya untuk mencegah penyebaran virus di luar kendali. Setiap hari menjadi penting,” kata Merkel dalam podcast video mingguan pada Sabtu.

Kasus penyakit akibat virus corona yang telah menjungkirbalikkan kehidupan di seluruh dunia dan mendatangkan malapetaka bagi sosial dan ekonomi, melonjak melampaui level yang terlihat pada gelombang pertama awal tahun ini ketika banyak negara berusaha membendung arus dengan penguncian dalam berbagai tingkat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kenaikan 44 persen kasus Covid-19 baru di Eropa dalam sepekan terakhir sebagai sesuatu yang “sangat memprihatinkan”.

Dalam menghadapi lonjakan tersebut, pemerintah negara-negara Eropa terpaksa menerapkan lagi langkah-langkah lebih ketat untuk mengendalikan penyebaran virus, sambil mencoba menghindari penguncian penuh (lockdown) seperti diterapkan enam bulan lalu.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Belgia, Sophie Wilmes, menjadi politisi terbaru yang dinyatakan positif mengidap Covid-19.

“Hasil tes Covid saya positif. Kontaminasi mungkin terjadi dalam lingkungan keluarga saya, mengingat tindakan pencegahan yang dilakukan di luar rumah saya,” katanya di Twitter.

Virus itu telah menewaskan lebih 1,1 juta orang di seluruh dunia sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, pada Desember, dimana Amerika Serikat menderita kematian terbanyak, yaitu mencapai 224.000 orang.

Sekitar 30 juta dari hampir 40 juta orang yang terkena Covid-19 di seluruh dunia dinyatakan sembuh dan sisafnya masih dirawat.

Sebanyak 20 juta warga Paris dan beberapa kota lain di Prancis menghadapi dimulainya jam malam pukul 21:00 – 06:00 setelah negara itu pada Kamis melihat angka tertinggi 30.000 kasus baru dalam 24 jam, yang merupakan salah satu hot spot utama penyebaran Covid-19 di Eropa.

“Mengerikan. Bagi saya, rasanya seperti kembali ke bulan Maret,” kata Hocine Saal, kepala layanan darurat di rumah sakit pinggiran kota Paris, Montreuil.

Dia menambahkan bahwa meningkatnya jumlah pasien non-Covid membuat penanganan pasien menjadi “sangat sulit “.

Di Inggris, yang memiliki angka kematian tertinggi di Eropa yaitu lebih dari 43.000 orang, pembatasan sedang ditingkatkan dengan larangan pertemuan dalam ruangan antara anggota rumah tangga yang berbeda.

Sekitar 28 juta orang – hampir setengah penduduk Inggris – harus tunduk pada batasan sosial yang ketat. Tapi beberapa kota telah melihat protes yang marah atas apa yang dilihat sebagai kembalinya penguncian virtual.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kebijakan pembatasan lokal, yang dirancang untuk mencegah lockdown baru, tidak bisa “bebas dari rasa sakit”.

Di Italia, daerah utara Lombardy yang kaya telah memerintahkan semua bar ditutup pada tengah malam karena tempat kasus Covid pertama muncul di Eropa pada Februari lalu sedang berusaha melawan serangan virus gelombang kedua.

Di negara-negara lain Eropa seperti Polandia, Republik Ceko dan Belgia juga telah mengumumkan beban kasus harian yang melonjak pada minggu ini.[]

AlJazeera

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.