Friday, April 3, 2020

Pelajar Ajak Jauhkan Maksiat

Must Read

Tragis! Munchen Hancur

Wolfsburg–Tiga hari sebelum berlaga di perempat final Liga Champions, Bayer Munchen mengalami nasib tragis di kompetisi lokal. Kekalahan itu...

Dipersoalkan Gubernur Jateng, Ini Kata Sutradara Samin vs Semen

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Gubernur Jawa Tengah mempersoalkan kehadiran film dokumenter Samin vs Semen yang mengangkat mengenai penolakan...

Hari Ini, Jokowi Kunjungi Kilometer Nol Indonesia

SABANG | ACEHKITA.COM -- Presiden Joko Widodo hari ini dijadwalkan mengunjungi Pulau Weh, Sabang. Di sini, ia memiliki tiga...

Perayaan Maha Puja Pangguni Uthiram, Umat Hindu Tamil di Aceh

Puluhan umat Hindu keturunan India etnis Tamil merayakan Maha Puja Pangguni Uthiram atau hari kemenangan Dewa Muruga di Kuil...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

BANDA ACEH |ACEHKITA.COM – Menyambut puasa Ramadan, puluhan pelajar menggelar aksi di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu (19/8). Mereka mengajak semua pihak untuk menghentikan segala bentuk maksiat dan menghormati bulan Ramadan.

Dalam orasinya, massa dari SMA Negeri 3 Banda Aceh ini juga mengajak warga meningkatkan ibadah kepada Allah selama Ramadhan. Mereka mengutuk oknum-oknum yang melindungi dan melakukan maksiat di bulan puasa. “Maksiat penghancur negeri,” teriak seorang orator siswa.

Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Massa melakukan long march dari sekolahnya di Jambo Tape menuju Masjid Raya. Dengan mengusung sejumlah spanduk ajakan menjauhkan maksiat, sepanjang jalan mereka melantunkan salawat badar. []

1 COMMENT

  1. Berita dari Medan itu membuat Nelson Tansu lemas. Di Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika Serikat, tempatnya bekerja sehari-hari, Agustus 2 tahun lalu ia meradang. Kabar itu demikian membuatnya shocked: mama tercintanya, Auw Lie Min, dan papa tersayangnya, Iskandar Tansu, direktur percetakan PT Mutiara Inti Sari, tewas. Mereka dibunuh oleh perampok di area perkebunan karet PTPN II Tanjung Morawa.

    Peristiwa itu sempat membuatnya “tak percaya” terhadap Indonesia. Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano.

    Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.

    Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.

    Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka. “Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih kewarganegaraan?” “Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan Indonesia,” katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.

    Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset kita. Ia tumbuh cemerlang tanpa perhatian negara sama sekali. Bila Koran Tempo kali ini menurunkan liputan khusus mengenai orang-orang seperti Nelson, itu karena koran ini melihat sesungguhnya kita cukup memiliki ilmuwan dan pekerja profesional yang berprestasi di luar negeri. Diaspora kita bukan hanya tenaga kerja Indonesia. Kita memiliki sejumlah Nelson lain—di Amerika, Eropa, dan Jepang. Orang orang yang sebetulnya, bila diperhatikan pemerintah, akan bisa memberikan sumbangan berarti bagi kemajuan Indonesia.Sayangnya, pemerintah seolah tak memiliki minat untuk lebih serius memikirkan hal itu. Tak pedulinya pemerintah kita terhadap para penemu asal Indonesia yang berprestasi di luar sesungguhnya pertanda kegagapan kita menyiapkan diri memasuki masa depan. Itu terasa sekali berbeda dengan pemerintah India dan Cina, yang memiliki strategi.

    India dan Cina sadar, di era kompetisi global ini, resep merebut masa depan adalah memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.

    India, misalnya, mempersiapkan diri besar-besaran memenuhi permintaan akan tenaga kerja ahli di Amerika dan Eropa. Mereka mencetak para ilmuwan riset, desainer chip, ahli rekayasa, sampai analisis finansial agar bisa mendapat pekerjaan penting di Amerika atau Eropa. Mereka menganggap itu sebagai aset dan investasi untuk menaklukkan masa depan.

    Pete Engardio, penulis senior Business Week dalam bukunya, Chindia: Strategi China dan India Menguasai Bisnis Global, menjelaskan soal itu. Ia mengurai bagaimana kini Cina dan India berambisi memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan standar global. Ia menjelaskan bagaimana India sekarang memainkan peranan tak ternilai pada rantai inovasi global. Raksasa-raksasa teknologi Amerika, seperti Motorola, Hewlett-Packard, Cisco System, Microsoft, GE Medical Systems, semua bergantung pada para ahli India untuk merancang dasar-dasar perangkat lunak dan multimedia bagi peralatan canggih masa depan. “Puluhan ribu profesional TI India bekerja di Silicon Valley,” tulisnya.

    Sedangkan Cina, untuk menata ulang ekonomi global, mempersiapkan diri menjadi pemimpin dalam mengarahkan tren perkembangan produk elektronik digital, mobil, baja, kimia, sampai semikonduktor. Cina, menurut Engardio, berambisi, pada 2010 menghasilkan PhD di bidang sains dan rekayasa lebih banyak daripada yang dihasilkan Amerika.

    Agresifnya Cina dan India ini dibenarkan oleh Dr Warsito P. Taruno, Direktur Centre for Tomography Research. Peraih Achmad Bakrie Award untuk kategori Sains 2009 ini kepada Tempo menceritakan pengalamannya saat menjadi peneliti di Departemen Teknik Kimia Ohio State University. “Sebanyak 70 persen mahasiswa dan perisetnya adalah orang Cina, sebanyak 10 persen orang India, sisanya negara-negara lain.”

    Hal itu dimungkinkan karena, menurut Warsito, kebanyakan profesor Cina atau India biasanya menarik mahasiswa mahasiswa asal negaranya untuk belajar dan bekerja di bawah mereka.
    Seperti yang diamati Engardio, Warsito melihat banyaknya peneliti Cina dan India di universitas Amerika sangat berpengaruh pada perkembangan dunia bisnis di Cina. Penemuan-penemuan para peneliti itu banyak dimanfaatkan industri-industri di dalam negeri mereka sendiri.

    Bahkan bisnis sehari-hari lintas Amerika-India atau Amerika-Cina menjadi fenomena umum. “Di Amerika, saya biasa mengangkat telepon, eh ternyata itu telepon dari perusahaan-perusahaan asuransi di New Delhi, yang menawarkan asuransi atau kartu kredit, ha-ha-ha…,” ujar Warsito.

    * * *
    Dibanding Cina dan India, jelas kita terbelakang dalam strategi pengembangan teknologi itu. Namun, bila dibandingkan dengan Malaysia saja kita juga tertinggal, itu memalukan. Sekarang dapat dibaca tetangga kita itu tengah mempersiapkan diri mencontoh strategi Cina dan India. Data UNESCO menyebutkan bahwa pada 2007 Malaysia mengirim 46.473 pelajar ke luar negeri. Sedangkan jumlah pelajar Indonesia di luar negeri 29.580 orang.

    Ambisi Malaysia menarik para ilmuwan bekerja untuk negeri mereka tampaknya tak main-main. “Saya pernah bertemu dengan orang dari Malaysia duatiga tahun lalu. Ia berterus terang sedang shopping 30 (orang bergelar) PhD dari Indonesia,” tutur As Natio Lasman, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Sulitnya mendapatkan dana meneliti di dalam negeri membuat fenomena brain drain atau mengalirnya ilmuwan kita ke luar negeri tak bisa ditampik.

    Apalagi tawaran dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, sangat menggoda. Muhamad Askari, mahasiswa kita, kandidat doktor di Universitas Tsukuba, Jepang, membenarkan adanya godaan itu. Kepada Tempo, ia menjelaskan, universitas-universitas atau lembaga-lembaga asing sangat memperhatikan faktor kesejahteraan, dana, serta fasilitas riset (alat, bahan, dan literatur) bagi para penelitinya.

    Itu yang berbeda dengan di Tanah Air. Bila untuk tahun ini Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyebutkan ada dana Rp 400 miliar yang akan diberikan pemerintah kepada 8.000 peneliti di sembilan lembaga penelitian milik pemerintah, memang itu suatu kemajuan.

    Tapi apakah itu cukup? Bila dihitung, satu penelitian mendapatkan dana Rp 50 juta. Apa yang dapat dihasilkan dengan dana Rp 50 juta? Menurut Warsito, satu tema penelitian sampai tuntas memerlukan Rp 200-300 juta per tahun. Ia mencontohkan, sebuah proyek yang dipesan NASA Amerika dihasilkan melalui penelitian dengan dana Rp 1,5 miliar selama tiga tahun.

    Itulah yang menyebabkan para ilmuwan kita yang pernah bekerja di luar negeri, yang balik, tetap idealis harus banting tulang untuk mendapatkan dana tambahan riset. Sering mereka lalu mencari uang dengan jalan membuka warung. Warsito, misalnya, membuka jasa penyewaan Internet. Akan halnya Nurul Taufiqu Rohman, ilmuwan teknologi nano LIPI, penemu teknik membersihkan timbel pada kuningan dengan teknologi nano ini bersama temannya membuka penyewaan lapangan futsal.

    Dia juga membuka kantin yang menjual bakso dan sate di dekat lapangan itu. Doktor Teknik Produksi Material Universitas Kagoshima ini tahu gajinya sebagai peneliti di LIPI, yang kurang dari satu juta rupiah per bulan, tidak bakal bisa mendukung hidup istri dan lima anak. Itu sebabnya, sebelum pulang ke Indonesia, Nurul menjadi pegawai negeri di Pusat Penelitian Daerah Kagoshima, Jepang, dengan gaji Rp 30 juta sebulan untuk ditabung.
    Karena itu, bila ada sebagian ilmuwan Indonesia yang memilih tetap bertahan di luar negeri dengan alasan kesejahteraan,itu suatu hal yang wajar. Meskipun Warsito termasukilmuwan yang memilih pulang, ia tak menganggapsalah apabila ada ilmuwan kita tetap bekerja di luar negeri. “Saya malah ingin pemerintah mendorong makin banyakilmuwan Indonesia bekerja di luar negeri,” katanya.

    Senada dengan Warsito, Syarif Junaidi, pengajar di Jurusan Teknik Mesin dan Material Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), mengatakan seharusnya pemerintah bisa mengambil manfaat dari keberadaan ilmuwannya di luar negeri.

    “Mereka memiliki informasi dan dana riset untuk membiayai studi mahasiswa Indonesia,” ujar peneliti di grup riset Advanced Material Processing and Integrity UKM ini. Syarif, yang doktor teknik material dari Universitas Kyushu di Fukuoka, Jepang, kini membimbing 11 mahasiswa yang delapan di antaranya adalah orang Indonesia yang dia beri beasiswa dan dibebaskan dari tuition fee.

    Semua itu berasal dari dana penelitian yang diberikan pemerintah Malaysia. Untuk mereka yang bertahan di mancanegara itu, tugas pemerintah adalah merawat hubungan. Bahwa kelak penemuan cerdas mereka bisa bermanfaat bagi kita. Selain Nelson Tansu, jenius kita kini yang masih bertahan di mancanegara antara lain M. Arief Budiman, yang menjadi pemimpin Library Technologies–perusahaan bioteknologi Orion Genomics di Saint Louis, Missouri, Amerika. “Dia tergabung dalam penelitian paling prestisius di Amerika,” ujar Warsito.

    Sementara itu, di bidang ekonomi, ada Sutarja bersaudara, yakni Sehat dan Pantas. Sehat, yang tamat S-1 di Iowa State University dan meraih gelar doktor di University of California Berkeley, mendirikan perusahaan chip Marvell Technology di Silicon Valley, yang memiliki 5.000 karyawan dan memiliki pusat perancangan di tujuh negara di luar Amerika, termasuk Jepang, Singapura, dan India. Pada 2007, majalah Forbes melansir bahwa kekayaannya mencapai US$ 1 miliar, dan termasuk orang terkaya di Amerika Serikat.

    Di Benua Eropa, ada Johny Setiawan, yang juga bekerja di lembaga prestisius Max Planck Institute of Astronomy di Heidelberg, Jerman. Tak hanya itu, Johny juga mengepalai tim yang menemukan bintang dan planet di luar tata surya, HD 11977b, pada 2005.

    Tentunya aneh bila Departemen Pendidikan Nasional sendiri tidak memiliki data jumlah pelajar dan ilmuwan kita yang berada di luar negeri. Di hari kemerdekaan ini, pemerintah seharusnya mulai menata ulang visi-visi masa depannya. Bila tidak ingin menjadi bangsa yang makin terlunta-lunta di masa depan, pemerintah harus sigap memperhatikan siapa saja anak bangsa ini yang menghasilkan penemuan-penemuan jenius di mana-mana, termasuk di mancanegara.

    Pemerintah harus memiliki strategi untuk memenangi pertarungan global ini. Untuk urusan kuliner saja, Thailand, misalnya, telah berancangancang, pada 2014 bisa membangun 20 ribu restoran Thailand di seluruh dunia. Sedangkan kita seolah tidak memiliki visi apa pun. Pemerintah harus mulai dengan menimba inspirasi dari para jenius kita yang “terlupakan”: Nelson, Johny, Arief Budiman, Sutarja bersaudara….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Update Corona di Aceh: Sudah 37 PDP COVID-19 Pulang dari RS dan Sehat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 37 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona atau COVID-19 di Aceh dilaporkan...

Update Corona di Aceh: ODP Bertambah Jadi 893, PDP 45, dan Hasil Swab EY Negatif

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona atau COVID-19 di Aceh kembali bertambah. Kali ini ODP bertambah 96 orang menjadi...

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis yang saat ini menjadi garda...

Ruang Outbreak Pinere RSUDZA Dijadikan Tempat Isolasi Pasien COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - RSUDZA Banda Aceh telah memiliki 12 ruang Outbreak Pinere (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) pada Selasa (31/3/2020). Ke-12 ruang...

Update Corona di Aceh: 5 Positif, 2 Meninggal, 44 PDP, 797 ODP

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona di Aceh bertambah 177 orang menjadi 797 orang per Selasa (31/3/2020) pukul 15.00...

More Articles Like This