Museum Tsunami Dibuka untuk Umum

0
1906

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Guna memeriahkan Pekan Kebudayaan Aceh V, gedung Museum Tsunami Aceh dibuka untuk umum. Di museum ini terpajang sejumlah dokumen tentang tsunami Aceh.

Munar/ACEHKITA.COM
Munar/ACEHKITA.COM
“Museum ini termegah di Indonesia. Kita bertangung jawab untuk mengisi semua materi yang bisa menggambarkan persitiwa tsunami Aceh,” kata R Sukhyar, kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral di Banda Aceh, Selasa (4/8).

Dalam ruang Museum Tsunami dipajang sejumlah foto-foto suasana pascatsunami, dari hasil dokumentasi sejumlah lembaga. Beberapa di antaranya juga terdapat foto korban tsunami yang terekspos secara vulgar.

Di sini juga terdapat ruang seni rupa, yang diisi dengan lukisan-lukisan para pelukis Aceh, seperti Mahdi Abdullah, dan Round Kelana. Selain itu juga terdapat ruang audio visual – mirip bioskop mini, yang memutar film dokumenter tentang kehidupan masyarakat Aceh di awal masa tanggap darurat.

Museum ini didesain oleh Ridwan Kamil, dosen arsitektur Institut Teknologi Bandung. Ridwan Kamil memadukan konsep rumah tradisional Aceh dengan bukit penyelamatan sehingga desain museum ia namakan dengan Rumoh Aceh as Escape Hill.

Desain museum sarat dengan nilai kearifan lokal. Hal itu tercermin dari desain museum yang menyerupai Rumoh Aceh (rumah tradisional berupa rumah panggung) yang berpadu dengan konsep bukit penyelamatan. Museum juga didesain menyerupai gelombang raya yang mengingatkan kita pada tsunami.

Sementara dindingnya didesain dengan motif tari Saman (tari tradisional). Di tengah-tengah museum ada satu cerobong berbentuk slinder yang menjulang ke langit. Melalui cerobong setinggi 33 meter ini nantinya akan memantulkan cahaya ke langit. Kamil menamakan cerobong ini dengan The Light of God, pertanda hubungan manusia dengan Tuhan.

Di museum juga ada terowongan yang menggambarkan suasana dukacita yang dinamakan dengan tunnel of sorrow, memorial hall, amphitheatre. Di ruang paling atas (atap) didesain berbentuk elips yang akan ditanami rumput dan berfungsi sebagai escape hill. Dari atap ini, Anda dapat melihat Kota Banda Aceh.

Museum tsunami ini merupakan proyek bersama antara BRR Aceh-Nias, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Aceh, dan Pemerintah Kota Banda Aceh. Pembangunan museum ini menelan biaya sebesar Rp 67,9 milyar.

Sukhyar menyebutkan, sebagai lembaga yang bertangung jawab terhadap pengelolaan museum tersebut, pihaknya akan terus melengkapi dokumen tentang tsunami Aceh. Rencananya, museum ini telah terisi penuh pada tahun 2010 nanti.

“Kita belum tahu beberapa dana lagi untuk melengkapi seluruh museum ini. Kita perkirakan puluhan milyar,” katanya. []

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.