Menyusuri Ribuan Torii Kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto

0
1366
Menyusuri Ribuan Torii Kuil Fushimi Inari Taisha Kyoto Jepang
Kuil Fushimi Inari Taisha yang berlokasi di Kyoto ini terkenal akan Toriinya yang indah dan luar biasa. (Foto: Ahmad Ariska/Acehkita)

KERETA api telah sampai di stasiun Fushimi Inari. Pintu terbuka. Hawa dingin menyeruak masuk. Aku melangkah ke luar kereta sambil merapatkan jaket. Sisa atmosfer dingin dari musim sebelumnya masih terasa di pertengahan Maret 2019, walaupun musim semi sudah menunjukkan indahnya dengan kehadiran bunga sakura yang mekar di jalanan Kyoto, Jepang.

Matahari masih sepenggalahan naik ketika aku tiba di pekarangan kuil Shinto, Fushimi Inari Taisha di Fushimi-ku, Kyoto, Jepang. Kuil ini didirikan pada tahun 711 di kaki Gunung Inari dan memiliki ribuan gerbang berwarna merah menyala yang dibangun berderet di sepanjang jalur menuju puncak gunung.

Torii, begitulah sebutan untuk gerbang yang memiliki dua tiang bercat merah dan satu palang hitam diantaranya. Bagi masyarakat Jepang, torii adalah gerbang pembatas antara areal suci yaitu tempat tinggal Kami (sebutan dewa bagi masyarakat Jepang) dengan tempat tinggal manusia atau duniawi. Biasanya sebelum melewati torii, orang Jepang akan membungkuk di depannya sebagai tanda hormat karena masuk areal Kami.

Kuil Fushimi Inari Taisha terkenal dengan ribuan torii yang dibangun memanjang sehingga disebut dengan senbon torii atau seribu torii. Seluruh torii yang ada merupakan sumbangan dari perorangan, atau keluarga, atau perusahaan-perusahaan yang ada di Jepang, sehingga bentuk torii juga tergantung pada selera orang yang menyumbang. Saat ini sudah ada sekitar 10.000 torii yang berderet-deret yang merupakan hasil sumbangan para penganut Inari.

Memasuki deretan senbon torii, terlihat orang-orang ramai memadati alur memanjang gerbang tersebut. Tak ada ruang untuk berfoto, jika tidak menunggu kurang lebih tiga puluh menit untuk mendapatkan frame yang bagus tanpa wajah orang lain.

Selain susunan torii berderet-deret yang menjadi daya tarik wisatawan, bagian belakang tiang torii yang tertulis huruf kanji pun menjadi hal menarik yang ditawarkan di Fushimi Inari Taisha. Huruf kanji yang tertulis tersebut memuat tentang nama penyumbang serta tanggal, bulan, dan tahun torii disumbangkan.

Bagian belakang tiang torii yang tertulis huruf kanji memuat nama-nama penyumbang dan waktu kapan disumbangnya. (Foto: Ahmad Ariska/Acehkita)

Torii tidak hanya memiliki satu jenis ukuran di Jepang. Ada beberapa ukuran torii yang tersedia. Dari ukuran yang paling kecil sampai paling besar. Ukuran torii berpengaruh pada harga yang sudah ditetapkan oleh kuil Shinto.

Dalam masyarakat Jepang diyakini bahwa Hatsuhoryo atau uang yang diserahkan kepada Kami, bergantung pada ukuran torii yang disumbangkan dan tempat dimana didirikan. Biasanya masyarakat Jepang akan memilih ukuran torii berdasarkan dengan apa dan jumlah kekayaaan atau kelimpahan harta yang telah diberikan Kami pada mereka, juga sebagai bentuk persembahan kepada Kami dan untuk menunjukkan rasa terimakasih atas dikabulkannya permintaan yang mereka pinta.

Di Jepang, untuk membangun sebuah torii, baik itu penyumbang dari perorangan, keluarga, atau bahkan perusahaan, penyumbang harus memesan torii yang ingin dibangun di kuil tersebut kepada pihak kuil atau menghubungi perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan torii.

Di sepanjang jalur pendakian dan penurunan Gunung Inari yang memiliki ketinggian 233 meter ini, kita bisa melihat bekas galian tanah tiang torii yang sudah diangkat dan juga torii yang baru dipasang. Torii yang ada di kuil Fushimi Inari Taisha umumnya terbuat dari kayu yang dicat merah menyala. Oleh karena itu, torii di kuil ini hanya memiliki rentang waktu sekitar dua puluh tahun dan kemudian diganti dengan torii yang baru.

Di Jepang, torii tidak hanya dibangun di kuil Shinto. Torii akan dibangun di tempat yang menurut masyarakat Jepang adalah tempat Kami bersemayam, seperti air terjun, laut, gunung, serta pohon.

Ini adalah kunjungan ketigaku ke kuil ini. Sudah ribuan torii ku lewati. Sinar matahari makin terik, tapi udara tetap masih dingin. Saatnya kembali ke stasiun melewati jalanan yang dipenuhi jajanan makanan Jepang yang sesak dipenuhi orang-orang yang terus berdatangan.[]

Shiti Maghfira pengajar Bahasa Jepang di Kougetsu School Aceh

ACEHKITA.COM mendapatkan bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.