Malam Istimewa untuk Zifana [1]

0
17171

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Dalam keremangan kelap-kelip lampu warna-warni yang diiringi hentakan keras musik house seperti klub malam atau pub, 40 orang berpakaian adat Aceh melenggak-lenggok dalam dua gelombang, masing-masing 20 orang, di atas pentas.

Mereka mengaku bukan lelaki, apalagi perempuan. Tetapi, pakaian yang mereka kenakan adalah baju adat Aceh yang biasa dipakai perempuan. Merekalah kaum waria Aceh yang sedang memperagakan segenap kemampuannya untuk meraih predikat jadi Duta Waria Aceh 2010. Ke-40 finalis mewakili 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh. Pemenangnya nanti akan ikut ajang ‘Miss’ Waria Indonesia.

OKI TIBA/ACEHKITA.COM
OKI TIBA/ACEHKITA.COM
Menurut seorang panitia dari Putroe Sejati Aceh (PSA) –organisasi tempat bernaung waria di Aceh, ini adalah even pertama digelar di Aceh. Kegiatan yang dibungkus di balik nama “Pemilihan Duta Sosial Budaya Aceh 2010” digelar di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Cabang Banda Aceh, Sabtu malam.

Tidak terlihat seorang pun pejabat pemerintah yang hadir. Juga tidak terlihat petugas Wilayatul Hisbah (WH) yang memantau kegiatan tersebut. Bisa jadi, personel WH juga melakukan patroli seperti biasa pada malam Minggu kemarin, tetapi mereka luput melongok ke auditorium RRI.

Auditorium disesaki pengunjung, yang sebagian besar dari komunitas minoritas waria. Pengunjung diharuskan membayar tiket Rp 10.000. Seluruh kursi terisi penuh. Ratusan pengunjung rela berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan dan bagian belakang ruangan. Ada juga pengunjung terpaksa harus berdiri di balkon lantai dua. Mereka bertahan hingga acara usai menjelang pukul 24:00 WIB.

Gemuruh teriakan, siulan, tawa, dan tepuk tangan kerap menggema saat “putroe-putroe” di atas pentas yang telah dihias layaknya pengantin beraksi dengan gayanya seperti dalam ajang pemilihan putri kecantikan. Tubuh mereka dibuat seolah-olah gemulai kendati tetap terlihat kaku. Apalagi, sebagian mereka harus bersanggul yang menjulang ke langit sesuai pakaian adat tradisional Aceh warna cerah dari daerah yang diwakilinya.

Tiga orang –satu pria dan dua perempuan— jadi dewan juri. Mereka terdiri atas aktivis perempuan, instruktur senam di Banda Aceh dan seorang penyiar radio lokal. Tak ada juri dari komunitas waria. Menurut ketua panitia, Jimmy Saputra, hal itu sengaja dilakukan agar penjurian benar-benar fair.

“Kegiatan ini ada izin MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama, red). Saya sendiri yang datang ke MPU untuk mengurus izin. Saya jelaskan maksud dan tujuannya. Setelah kami jelaskan panjang lebar bahwa kegiatan ini positif, ulama memberikan izin,” kata waria yang oleh rekan-rekannya disapa Timmy Mayubi.

Tapi, klaim Timmy dibantah tegas oleh Ketua MPU Banda Aceh, Teungku Karim Syeikh, yang menyatakan bahwa pihaknya tak pernah memberikan izin terhadap kontes waria. “Jangankan kontes waria, pemilihan putri kecantikan saja tak diberikan izin. Mereka telah mencemarkan nama ulama,” katanya kepada wartawan, Senin.

Dijelaskan bahwa dalam surat pemberitahuan kepada MPU, panitia menyebutkan kegiatan itu adalah penggalangan dana sosial budaya, bukan pemilihan duta waria. Dalam surat itu juga disebutkan beberapa poin seperti digariskan dalam edaran MPU yang akan dipatuhi selama berlangsungnya acara.

Dari 40 orang akhirnya dipilih 15 finalis. Kemudian, untuk terpilih menjadi enam besar, mereka harus menjawab pertanyaan yang telah disiapkan dewan juri. Pertanyaan berkisar mulai dari masalah korupsi, kehidupan sehari-hari waria hingga soal penerapan syariat Islam di Aceh.

Ada finalis yang jawabannya tak nyambung dengan pertanyaan seperti jawaban Alin, 23, mewakili Kota Lhokseumawe. Ditanya pendapatnya mengenai anggota Wilayatul Hisbah (WH) yang melanggar syariat, Alin dengan gaya dibuat seanggun mungkin menjawab, “Saya akan patuhi syariat Islam karena tinggal di Aceh.”

Lain lagi dengan Carla, 20, wakil dari Aceh Besar, saat ditanya kaitan antara kemiskinan dan korupsi. Dengan enteng, ia menjawab, “Kalau kemiskinan tidak diterapkan, maka korupsi tak jalan.”

Kontan saja, pengunjung terbahak mendengar jawaban ‘ngawur’ itu. Tapi, Carla berusaha tetap tampil anggun di pentas dan tidak risih ditertawakan. Ia malah berjalan ke sisi panggung sambil melenggang layaknya kontestan putri kecantikan sambil terus melambaikan tangannya.

Selain itu, ada juga peserta yang kaku dan tidak bisa berbicara sama sekali ketika diajukan pertanyaan. Tapi, kebanyakan dari 15 “putroe” menjawab dengan baik, sehingga mendapat applause pengunjung, terutama saat menjawab masalah keberadaan waria, pemberlakuan syariat Islam dan qanun jinayat yang menimbulkan kontroversial di Aceh.

Joy, 19, dari Aceh Tengah dengan lantang berujar, penerapan syariat Islam di Aceh “belum sesuai dengan keinginan masyarakat karena banyak orang Aceh masih melanggar syariat, terutama pada bulan puasa tidak berpuasa atau masih terjadinya perzinaan.” (bersambung) []

Baca Juga:
Malam Istimewa untuk Zifana [2]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.