Sunday, February 23, 2020

Kontroversi Kemenangan Qory Sandioriva

Must Read

Foto: Kondisi Terakhir Pidie Jaya Pasca-Gempa

MEUREUDU | ACEHKITA.COM - Gempa berkekuatan 6.5 SR yang mengguncang Pidie Jaya, Rabu (7/12/2016) pukul 05.04 WIB mengakibatkan 93...

Ini Pemenang Lomba Menulis AJI Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM – Enam pemenang lomba menulis artikel yang digelar AJI Kota Lhokseumawe yang bekerjasama dengan PT Arun...

MK Tidak Tetapkan 18/11 Pembacaan Putusan: TA Khalid

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Penggugat tahapan pemilihan kepala daerah yang ditetapkan Komisi Independen Pemilihan Aceh, T.A. Khalid, mengatakan...

FOTO | 14 Tahun Tsunami Aceh di Siron

Hari ini, 26 Desember 2018, tepat 14 tahun Aceh diluluhlantak bencana alam gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Momentum...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Tiga hari tidak membuka internet tiba-tiba halaman facebook saya dipenuhi kontroversi soal terpilihnya wakil Aceh, Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009.

Bagi saya pribadi, ajang pemilihan Puteri Indonesia, Miss Universe dan sejenisnya tidak lain hanyalah kontes adu keindahan daging (fisik) yang dibungkus dengan kemasan yang membuatnya seolah-olah juga merupakan kontes kemampuan intelektual. Bagi saya ini tidaklebih dari sekedar urusan selangkangan yang dibungkus dengan segala gemerlap dunia pertunjukan. Ajang semacam ini sama sekali tidak pernah menarik perhatian saya.

Pandangan pribadi saya terhadap kontes adu keindahan daging yang dilabel dengan nama pemilihan Puteri Indonesia ini sama sekali tidak berubah, meskipun kali ini yang dinobatkan menjadi pemilik daging terindah mengaku sebagai wakil Aceh, daerah asal saya. Bahkan lebih khusus lagi, konon lagi katanya si pemilik daging indah yang bernama Qory ini adalah orang Gayo, sama seperti saya.

Selama ini saya tidak pernah kenal nama Qory dan juga nama kedua orang tuanya, saya baru tahu ada seorang manusia bernama Qory Sandioriva ketika berita kemenangannya membuat heboh dimana-mana. Meskipun jika kemudian orangtuanya bertemu dengan saya dan menanyakan silsilahnya pasti langsung ketemu entah siapanya punya hubungan entah apa dengan salah satu kerabat saya. Itu terjadi karena orang Gayo jumlahnya memang sedikit sekali di planet ini, hanya sekitar 300 ribu orang saja. Jadi antara satu orang Gayo dengan orang Gayo lainnya biasanya selalu ada hubungan kekerabatan.

Intinya penobatan Qory Sandioriva, menjadi Puteri Indonesia 2009 kemarin sama sekali tidak membawa pengaruh apapun bagi saya baik pribadi saya sebagai seorang individu maupun pribadi saya sebagai bagian dari orang Aceh dan lebih khusus lagi Gayo. Kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging kemarin sama sekali tidak membuat saya sebagai orang Gayo merasa bangga atau terhina, biasa saja!

Yang menjadi masalah adalah, hanya sedikit sekali orang Aceh dan orang Gayo yang memiliki sikap seperti saya yang menganggap remeh masalah selangkangan.
Bagi kebanyakan orang Aceh dan juga orang Gayo, masalah selangkangan ada di urutan tertinggi dalam daftar moralitas yang harus diatur dengan ketat dan sungguh-sungguh. Sampai saat ini tidak sedikit orang Aceh yang percaya kalau Tsunami yang meluluh lantakkan Aceh yang terjadi tahun 2004, bisa terjadi akibat orang Aceh tidak bisa menjaga selangkangan.

Bahkan hanya beberapa hari yang lalu seorang perempuan asal Gayo, putri seorang pejabat tinggi di pemda Aceh Tengah yang mengenyam gelar sarjana teknik sipil dan selalu berjilbab menulis di statusnya di ‘facebook’. “Mungkin Allah sengaja membakar gunung-gunung di sekitar danau Laut Tawar karena Allah marah bukit-bukit itu dijadikan tempat berkhalwat”.

Sebagaimana para penyembah berhala di segala zaman yang selalu menggambarkan Tuhan seperti sosok dirinya. Orang Gayo yang menulis status di facebook inipun menggambarkan Tuhan yang dia sebut dengan nama yang sama seperti nama Tuhan dalam setiap ibadah yang saya lakukan ini pun persis seperti sosok dirinya yang merasa begitu pentingnya urusan selangkangan. Tuhan dia gambarkan sebagai sosok yang cepat sekali marah dan emosi melihat ada orang yang tidak mampu menjaga selangkangan, tapi punya segudang alasan dan pemakluman untuk berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan oleh penguasa. Bahkan bisa memaklumi pejabat yang menjual dan ulama yang menyetujui penjualan Mesjid dan Panti Asuhan. Sosok Tuhan di statusnya ini tampak persis seperti fotocopy diri perempuan ini sendiri.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah gambaran tentang begitu pentingnya urusan selangkangan ini di dalam masyarakat Aceh dan Gayo. Sehingga ketika Qanun Syari’at Islam dibuat dan diterapkan di negeri ini pun, masalah yang paling banyak diatur dalam Qanun (undang-undang) ini adalah urusan selangkangan.

Menilik pada kenyataan itulah maka sayapun sama sekali tidak merasa heran ketika kemenangan Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging yang baru lalu manarik atensi dan menimbulkan pro kontra di semua kalangan.

Di kalangan ulama dan para pendukung Syari’at Islam dan para moralis jelas, Qory yang tidak berjilbab yang memenangi kontes adu keindahan daging se Indonesia dalam kapasitasnya sebagai wakil negeri mereka ini adalah sebuah tamparan. Sebaliknya bagi yang menentang penerapan syari’at ini menjadi bahan baru untuk melakukan perlawanan.

Tidak ketinggalan para oportunis yang ingin mendirikan provinsi baru di Aceh yang sempat beberapa lama mati suri karena isu usang yang mereka usung tidak lagi mendapat tanggapan memadai dengan dengan sigap memanfaatkan momen terpilihnya Qory Sandioriva dalam kontes adu keindahan daging ini untuk membangkitkan sentimen keGayo-an yang berbeda dengan Aceh.

Pejabat pemerintah dengan segala keterbatasan wawasan, keterbatasan kecerdasan dipadu dengan keluguan dan kenaifannya mencoba menyangkal ‘Keacehan’ Qory melalui status kependudukannya yang tidak ber KTP Aceh. Ini sangat lucu karena jika standar yang coba dibuat oleh si pejabat ini tentang ‘keacehan’ seseorang yang dinilai dari status kependudukan di KTP ini benar-benar diterima sebagai standar resmi untuk menilai kadar keacehan seseorang. Maka saya yang lahir dan besar di Aceh dari ibu dan bapak asli Gayo akan menjadi bukan orang Aceh. Tgk. Hasan Tiro, Mentro Malik dan Surya Paloh yang tidak memiliki KTP Aceh juga tiba-tiba menjadi BUKAN ORANG ACEH. Sebaliknya justru si Pinem, Hutabarat, Surono, Paiman dan A Hong yang ber KTP Aceh adalah orang Aceh yang asli.

Soal karena tidak ber-KTP Aceh tapi malah mewakili Aceh di sebuah ajang. Dulu waktu saya masih duduk di bangku SD juga ada seorang atlit lempar lembing bernama depan Tati kalau tidak salah yang berKTP Jawa Barat tapi dalam PON selalu memilih mewakili Aceh dan menyumbangkan emas untuk provinsi ini, saat itu tidak ada polemik seperti ini. Tidak ada satupun orang Aceh yang meragukan dan mempermasalahkan keacehannya meskipun dalam kapasitasnya sebagi atlet lempar lembing dia tidak berjilbab dan malah berpakaian minim.

Jadi sebenarnya urusan KTP seperti yang disinyalir oleh pejabat lugu yang kurang cerdas ini bukanlah masalahnya.

Pasca kemenangan Qory Sandioriva,seorang teman saya yang bekerja sebagai wartawan mengamati fenomena obrolan yang terjadi di warung-warung kopi yang merupakan pusat peradaban di Aceh.

“Para penonton di warung tersebut dengan tekun mengikuti wawancara di layar kaca tersebut. “Qory bukan orang Aceh” kata seorang tamu di warkop tersebut dalam bahasa Aceh. Tapi kemudian seorang tamu lainnya nyeletuk, “bagaimana dengan kondisi Aceh sekarang dan penampilan artis-artis asal Aceh lainnya, apa sudah sesuai Syar’at Islam,” belasan tamu di warkop tersebut terdiam.”, begitu tulis teman saya ini dalam laporannya.

Soal polemik Qori ini, saya juga membaca berbagai blog milik sebuah media terbitan Medan lengkap dengan berbagi komentar pembacanya.

Blog itu memuat sebuah kalimat yang menggambarkan tentang Qory seperti di bawah ini.

Sebagai seorang wanita keturunan Aceh Gayo, Qory mengaku mengidolakan Tjut Nya’ Dhien, tokoh pahlawan wanita Aceh yang mampu bersikap Islami dalam keseharian walaupun tidak menggunakan jilbab. “Dialah panutan saya selama ini. Selain dengan sikapnya yang heroik, Tjut Nya’ Dhien merupakan tokoh pahlawan wanita Islami, walaupun dalam kesehariannya, dia tidak menggunakan jilbab,” ujar Qory.

Ucapan Qory ini langsung memantik reaksi kemarahan banyak orang. Ada yang menyebut “tentang gambar cut nyak dien yg tak berjelbab tu adalah gambar ilustrasi penjajah”. Yang lain malah langsung menegasikan ‘kegayoa-an’ Qory “Dia bkan awak Gayo’ tpi dia jema sunda. Jelas. . Jdi gw juga gk sependapt dgn ucpan pling atas.” begitu menurut komentator kedua. Yang lain mengatakan “siapa bilang pahlawan aceh cut nyak dhien tidak pakai jilbab..!!jangan liat yang di film2 donk..membenarkan kesalahan kamu dengan memfitnah orang…”

Entah dari ikhwan PKS mana si komentator ini dapat data itu, dan entah sejak kapan dia pernah tinggal di Aceh sehingga bisa membuat statement semacam itu. Karena saya yang sejak lahir tinggal di Aceh yang sempat tinggal dengan Datu Anan (ibu dari kakek saya) yang lahir di tahun 1800-an (pada zaman Cut Nyak Dhien masih hidup) sama sekali tidak pernah melihat Datu saya tersebut dan perempuan-perempuan Gayo seangkatannya mengenakan jilbab. Malah ibu-ibu dan gadis-gadis Gayo yang menggeraikan rambut di depoan pintu menggosip sambil mencari kutu adalah pemandangan umum yang saya saksikan setiap hari di seantero kampung saya. Kemudian pakaian adat yang dikenakan perempuan Aceh dan Gayo-pun sama sekali tidak dilengkjapi Jilbab (bayangkan bagaimana sulitnya memasang ‘kepies’ di atas Jilbab).

Cara pandang Islam yang ketat dan kaku sebenarnya baru dikenal di Gayo pada masa-masa pengujung kekuasaan Belanda melalui para Teungku yang kembali dari belajar agama di tanah Minang, dan paham seperti itu sama sekali tidak familiar bagi perempuan Aceh generasi Cut Nyak Dhien dan generasi Datu Anan saya.

Tapi meskipun tidak berjilbab, bukan berarti orang Aceh dan Gayo juga menolerir pemakaian bikini. Budaya Aceh dan juga Gayo punya batasan sendiri soal kepantasan dan kepatutan berpakaian perempuan, yaitu tidak berpakaian ketat apalagi sampai menampakkan dada dan paha. Batasan ini bertahan sampai generasi saya. Saat saya masih kuliah, meskipun tidak berjilbab, teman-teman saya tidak satupun yang pernah saya lihat mengenakan rok pendek. Jangankan rok mini, bahkan sekedar yang mengenakan rok yang menutupi lutut seperti rok anak SMA pun tidak ada. Jika saya perhatikan sikap teman-teman saya it, saya lihat mereka tidak merasa nyaman dan merasa menjadi objek seksual jika mengenakan pakaian ketat apalagi rok mini yang menampakkan paha. Semasa kuliah, yang sering saya lihat berpakaian ketat nan menantang cuma cewek-cewek anak ekonomi yang tampaknya berusaha keras agar berpenampilan seperti anak Jakarta. Tapi seberani-beraninya anak ekonomi tidak ada yang sampai berani memaki rok mini.

Laki-laki Aceh sendiri meski tentu saja tergiur dan suka melihat cewek seksi memakai rok mini, tapi pada dasarnya laki-laki Aceh juga tidak merasa nyaman melihat perempuan Aceh mengenakan rok mini. Di masa saya kuliah dulu, bisa saya pastikan tidak seorangpun teman saya yang merasa nyaman menggandeng pacar seksi yang menggunakan rok mini di depan teman-temannya apalagi orangtua.

Beberapa waktu yang lalu saat saya berada dalam ferry dari Jawa menuju Bali saya melihat sebuah foto yang dimuat di koran Jawa Pos.

Foto ini adalah foto sensasional karya seorang fotografer jempolan sekaligus degil, dalam foto ini terlihat seorang model cantik yang difoto telanjang di atas kereta api di tengah padatnya penumpang. Dalam foto itu terlihat betapalaki-laki dari berbagai kalangan dan usia melotot dan membelalak tergiur meyaksikan pemandangan segar di depan mata. Foto itu diambil ketika si model yang mengenakan jas panjang tiba-tiba melepas jasnya dan tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Proses ini berlangsung hanya 35 detik saja tapi cukup menggambarkan bagaimana reaksi para pria yang berada dalam kereta api untuk berangkat kerja ketika disuguhi pemandangan indah tubuh wanita.

Ketika diwawancarai soal ini dan si pewawancara menanyakan, apakah si fotografer tidak berniat membuat foto yang sama dengan model pria ditengah para penumpang wanita. “Tidak” jawab si fotografer. “pria berbeda dengan wanita, kalau pria tersenyum dan tertawa melihat perempuan telanjang, sebaliknya wanita akan menjerit karena merasa diintimidasi jika melihat laki-laki menunjukkan kemaluannya, bisa -bisa saya malah dituntut dan masuk penjara”, begitu komentar si fotografer.

Beberapa kaum feminis kesiangan pernah mengaitkan masalah pamer fisik ini ketidak adilan jender. “Puteri Indonesia berpakaian minim dipermasalahkan, kenapa Ade Rai pamer otot tidak pernah dipermasalahkan?” kata si feminis kesiangan ini. Padahal seperti yang dikatakan si fotografer di atas, bukan soal ketidak adilan, tapi dalam urusan rangsangan seksual saat melihat tubuh lawan jenis, laki-laki memang berbeda dengan perempuan.

Dikaitkan dengan polemik kemenangan Qory di ajang kontes adu keindahan daging kemarin, yang saya lihat dari fenomena pro dan kontranya kemenangan Qory ini bukanlah karena Qory terpilih sebagai puteri Indonesia dan tidak mengenakan jilbab pada saat penobatannya. Tapi lebih kepada keikut sertaan Qory nantinya di ajang Miss Universe yang mengharuskan pesertanya mengenakan bikini. Ketidaknyamanan orang Aceh dan sebagian orang Gayo atas kemenangannya dalam kontes adu keindahan daging ini adalah ketidak nyamanan ketika orang Aceh membayangkan ada seorang perempuan yang mengaku sebagai wakil ACEH mengenakan bikini memamerkan paha dan dadanya dan menjadi objek seksual di depan jutaan pasang mata.

Lebih jelasnya, menurut saya masalah Qory Sandioriva menjadi polemik bukanlah soal status keacehannya atau apa. Tapi karena Qory yang mengaku mewakili Aceh menang dalam sebuah lomba yang identik dengan urusan SELANGKANGAN. Urusan yang merupakan urutan tertinggi dalam daftar moralitas masyarakat Aceh dan Gayo.

Aceh sanggup mempertahankan keharmonisannya dengan Gayo ketika hubungan Aceh-Gayo diterpa isu ketidakadilan pembangunan, isu pilih kasih soal jabatan, isu pembajakan budaya (mirip seperti hubungan Indonesia-Malaysia). Tapi jujur saja, saya ragu keharmonisan hubungan Aceh-Gayo ini bisa bertahan ketika berurusan dengan isu SELANGKANGAN.

Untuk Qory sendiri dan juga keluarganya saya berharap mereka tidak cukup bodoh untuk tidak mempertimbangkan resiko yang telah mereka tempuh dengan memberanikan diri mengikuti kontes adu keindahan daging mewakili Aceh. Dengan keberanian Qory mengikuti ajang ini dengan mewakili Aceh dan direstui pula oleh keluarganya, saya berasumsi bahwa Qory dan keluarganya sudah mempertimbangkan semua hal termasuk mempetimbangkan kenyataan tentang betapa sebagian sangat besar masyarakat yang telah dengan berani dia wakili itu masih sangat konservatif terhadap bilai-nilai tradisional. Yang bisa sangat marah dan emosi dan mungkin akan melempari rumah dan mengintimidasi keluarga Qory.

Dalam kasus ini kita tidak bisa menyebut apa yang dilakukan Qory adalah hak pribadi untuk menjalankan agamanya, mengekspresikan dirinya sesuai dengan nilai dan pemahaman agama yang dia akui.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Gayo

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

22 COMMENTS

  1. nyan ata ureung aceh peugah kabeutoi, ini persoalan keyakinan, jadi bukan kepandaian silat lidah. yang katanya syariat Islam bukan hanya urusan moral, privat.. tapi lebih melihat hajat hidup org banyak, perlu penyadaran dulu,, sejahtra dulu.itupun nggak dilakukan… jadi maunya apa… masing-masing kita akan bertanggungjawab terhdap apa yg kita lakukan (omong, sikap/perilaku/komitmen) dlm hidup ini

  2. @ anonimous,
    anda tak mengenal Islam, anda tidak mengenal Muhammad… jangan pernah mambuat “FITNAH”…. dengan link download… jika ingin mengenal dengan benar… masih banyak kok link download yang lebih bermoralkan seorang yang hanif dan benar….

  3. Sabar, sabar, saudaraku…yakinilah bahwa setiap kebenaran pasti akan banyak yang menentangnya. dan setiap kemaksiatan pasti akan banyak pendukungnya.

  4. Setuju Wan Nur… Pemikiran yang sangat bagus menurut saya 🙂
    Iya, memang yang disesalkan sendiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri secara umum (saya tidak mau menyinggung masalah kesukuan, entah itu orang Gayo, orang Aceh, atau suku lain) tidak lagi memandang kontes-kontesan dengan item *sesi bikini* macam ini sebagai hal yang tabu dan di luar ranah budaya negeri ini. Herannya, dulu kita diajar PPKn sampai muntah-muntah, mana hasilnya??? Katanya : “Segala produk budaya yang tidak sesuai dengan budaya nasional akan difiltrasi”, nyatanya? Pemerintah pun (yang di negara lain ikut campur dalam masalah budaya) tidak terlalu merespon dengan masalah ini. Ada, namun hanya sebatas mengeluarkan statemen tanpa taring…
    Saya tidak pandang Qory dari segi keislamannya. Saya pandang bahwa dia orang Timur, dan mewakili Aceh (dan Indonesia) sebagai daerah Timur yang secara kultur kehidupan masyarakatnya masih menjaga budaya ketimurannya. Oke lah kalau memang kontes-kontesan itu dilakukan, what’s wrong, tapi untuk urusan kontes bikini sebagai sesi yang paling dibicarakan banyak orang, tunggu dulu. Apa memang tidak ada lobi dari Indonesia (dalam hal ini pihak PI dan MI sebagai penyelenggara) untuk menghilangkan atau memberikan special permit bagi Indonesia agar tidak mengikuti sesi bikini? Kalau memang belum dilakukan, kenapa tidak dicoba?
    Nah, untuk masalah dia tidak pakai kerudung, saya sepakat dengan Anda, WAJAR. Hak setiap orang untuk menentukan pakaian mana yang dikenakan SEPANJANG pantas dan tidak dipermasalahkan banyak orang. Nyatanya, sekarang, cadar saja yang dianggap “sopan” di berbagai negara, nyata-nyata dilarang di Belanda, mau apa lagi? Mereka juga tidak bisa disalahkan, karena sekarang cadar identik dengan keeksklusifan dan terorisme. Ya konsekuensinya: Jangan tinggal di Belanda, atau tanggalkan cadarmu. Sama dengan kasus ini, harusnya: Jangan tinggal di Indonesia, atau tidak usah ikut kontes bikini-bikinian. Tapi ini tidak sama dengan kerudung. Kultur masyarakat Indonesia sendiri tidak mewajibkan untuk menggunakan kerudung, YANG ADA: BERPAKAIAN SOPAN, sambil menjaga daerah-daerah yang tidak patut ditampilkan. Sudah. Perkara ada Qanun Syariat, lha wong namanya “syariat” kok maksa… Pun tidak ada syariat yang mewajibkan pemakaian kerudung. Yang ada memakai pakaian sopan sesuai kultur…Lagian, bukankah pakaian takwa lebih penting daripada sekadar kerudung penutup kepala saja???
    Nahhhhh, berita paling baru, kontes Miss Universe (apa Miss World ya? Lupa :D) pada tahun 2015 akan dilaksanakan di Bali… Hmmm… Lalu, apa kata dunia????? 😀

  5. apapun alasan yang diberikan yang jelas tidak memakai jilbab, memamerkan aurat baik itu laki-laki atau perempuan,dan mengatasnamakan orang yang dia tidak tahu menahu adalah perbuatan buruk dan berdosa. kalau kalian mau lihat dosa apa yang akan diterima, tunggu saja ketika kita nanti mati! tidak usah berdebat disini.

  6. Sebaliknya kamulah yang terlalu membanggakan otakmu yang terkontaminasi abis sama lingkungan padang pasir itu last, dan tambahan lagi kamu itu khas fundies-fundies pengecut yang silau dengan segala sesuatu yang berbau padang pasir yang tidak berani menampilkan identitas asli.

    Yang dilakukan Qory sekarang masih biasa aja, kalau dia sampai berbikini di ajang Miss Universe baru luar biasa.

    Hukum Syari’at apa yang dibahayakan Qory?…cuma hukum Syari’at yang berbasis selangkangan, yang sama sekali tidak menyentuh hajat hidup orang banyak.

    Hukum syari’at yang itu yang diterapkan di Aceh nggak lebih dari sekedar pamer kesombongan sekaligus pemuasan syahwat anggota parlemen yang makan gaji di sini tapi otak dan nuraninya ada di arab.

  7. @wan win kau itu trlalu membanggakan ke gayoamu ya? Saya setuju dengan akhi abdulah!!! Camkanlah! Saya mengecam apa yang dilakukan oleh qory, ini adalah tindakan barbar yang berbahaya bagi hukum syariat, di masa mendatang hal2 seperti ini dapat memicu kekerasan!!! Jelas dia menghina syariat islam dalam skala nasional! Kemenangan dia merupakan salah satu konspirasi dalam menyerang syariat islam dan moral!! Yang di lakukan kaum munafik dan boneka!!! Renungkan. Neupah nyang lagenya ken cit tatimbak!!

  8. Ini beneran Qory ya?…terserahlah mau asli apa bukan, cuma kalo benar ini Qory Selamat atas keberhasilannya jadi juara.

    Sekedar Qory tahu. Terus terang saya sebenarnya beranggapan Qory cukup cerdas juga, tidak sekedar meliliki daging yang Indah saja. Buktinya Qory memilih mewakili Aceh bukan Jawa Barat, saya pikir apa yang Qory lakukan itu jelas ada kalkulasinya.

    Pilihan Qory mewakili Aceh dengan tanpa jilbab tentu terlihat lebih sensasional dan lebih berpotensi mengundang simpati para Juri ketimbang jika Qory sekedar mengaku sebagai orang Sunda. Pilihan Qory untuk maju sebagai wakil Aceh jelas memiliki pengaruh besar atas kemenangan Qory dalam kontes adu keindahan daging yang baru lalu. Bagaimanapun di negara ini secara nasional ‘daging’ Aceh masih dianggap ‘daging’ mahal.

    Cuma tentu saja pilihan itu ada konsekwensinya, saya pikir Qory dan keluarga tentu sudah mengkalkulasi untung ruginya dan Qory dan keluarga pun tentu sudah siap dengan segala kontroversi yang terjadi belakangan ini. Jadi saya yakin Qory sudah siap dengan apa yang akan terjadi nanti, muali dari sekedar dimaki, sampai mungkin dilemparinya rumah kerabat Qory.

    Tapi apapun kata orang, yang jelas faktanya Qory sudah berhasil menjadikan Ke-Gayo-an Qory sebagai kendaraan untuk memeroleh popularitas pribadi.

    Nah karena Qory sudah berhasil eksis seperti ini, kalau saya yang menjadi manejer Qory. Saya akan sarankan supaya Qory menolak mengikuti ajang Miss Universe, jatah itu serahkan saja pada pemenang kedua. Dengan begitu dia pasti jadi semakin populer lagi.

    Ada banyak keuntungan yang bisa Qory petik dengan mengambil sikap itu.

    Pertama di mata orang Aceh atau setidaknya Gayo, Qory akan mendapat simpati besar karena saya pikir kalau sekedar masih dalam kerangka ADU INDAH DAGING yang dilabel dengan nama PI kemarin. Meskipun tidak berjilbab, tapi cara Qory berpakaian masih dalam batas toleransi kesopanan berpakaian di masyarakat kita kok. Yang membuat masalah, yang membuat kemenangan Qory ini jadi riuh rendah adalah karena banyak dari kita yang gelisah membayangkan ada seorang perempuan yang mengaku sebagai orang Aceh mengenakan bikini dan dijadikan objek Syahwat dari jutaan pasang mata.

    Kedua, karena ajang adu daging ini memang produk kapitalis. Jadi marilah kita berpikir seperti kapitalis berpikir. Mari kita berhitung untung rugi.

    Kalkulasinya untung ruginya begini.

    Keikutsertaan Qory ke ajang Miss Universe sama sekali tidak akan menambah popularitas Qory. Menang di ajang itu bisa dikatakan Mustahil. Nuansa mahalnya ‘daging’ Aceh yang membeuat Qory menang beberapa waktu yang lalu tak akan berlaku di sana. Di ajang itu ‘daging’ Afghanistan yang secara global dipandang lebih mahal dari sekedar ‘daging’ Aceh aja kalah kok!

    Sementara kalau menolak ikut, nama Qory akan semakin menjulang. Selanjutnya dalam industri dunia hiburan Qory bisa menjual image kesalehan seperti yang telah dilakukan oleh Inneke Koesherawati dan Zazkia Adya Mecca.

    Dengan pilihan karir di dunia hiburan untuk bertarung di kelas ini, saya jamin popularitas Qory akan semakin menjulang dan kocek Qory pun akan semakin tebal. Itu bisa terjadi karena persaingan di kelas ini jauh lebih ringan dibanding jika Qory memilih bertarung di kelas penghibur dengan image seksi yang memiliki saingan bejibun.

    Kalau Qory tidak percaya kata-kata saya, lihat saja bagaimana para pemenang ADU INDAH DAGING sebelum Qory seperti Melanie Putria, Nadine Chandrawinata sampai Agni Pratista yang megap-megap untuk bersaing dalam ketatnya bisnis dunia hiburan ketika mereka memilih bertarung di kelas yang menjual keseksian tubuh.

    Wassalam

    Win Wan Nur
    Orang Gayo

  9. wah komentator terakhir ini tampaknya sudah mendapat mandat langsung dari Tuhan sendiri sebagai pembawa kebenaran resmi dan mendapat stempel resmi dari Tuhan sendiri.

    Tidak ada celah sedikitpun untuk dikritisi, pokoknya apa yang dikatakan Abdullah inilah kebenaran sejati. Pendapat lain cuma sampah yang mengotori bumi.

  10. Wahai sdr/i, Tidak penting suku apa, dan tidaklah penting apapun kata dunia, dan apapun pandangan orang maka terserahlah.
    Demi Allaah, yang seharusnya dikhawatirkan adalah apa kata/penilaian Allaah. Ridhakah? atau Murka?. Jika Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, ‘Aliy dll saja takut Allaah murka, maka selayaknya kita harus lebih takut lagi.
    Ketika shalat kita menyampaikan syukur kpd NYA, pasrah menghambakan diri menyerahkan hidup mati kita utk tunduk pasrah sepenuh (taslim) atas segala tuntunanNYA krn demikianlah makna hakekat Islam, akan tetapi sejenak diluar shalat kita mengkhianatiNYA, padahal kita tdk bisa hidup tanpa rezeki dan rahmat NYA. Maka bgmnkah pandangan Allaah terhadap org yg demikian, apalagi bagi mrk yg bangga dalam menentang aturanNya???
    Siapa kita yang tidak pernah berbuat dosa dan khilaf, tetapi sebaik2 yg berdosa adalah mrk yg sgr sadar dan bertaubat, maka bertaubatlah, krn Allaah maha sangat Penyayang (tapi Ingatlah pula Allaah berfirman “Sungguh AzabKu sgtlah pedih QS15:50”).
    Janganlah ragu untuk sgr kembali berjilbab. InsyaAllah, Kebahagiaan ketentraman akan diberikan Allaah kpd mereka yg beriltizam membuktikan cintanya kepada Allaah (dgn ketaatan) meski bertentangan dgn manusia sekitarnya.
    MasyaAllaah, Allaah malah berjanji membalikkan kondisi mjdkan manusia juga ridha kpd org tsb.
    Percayalah janjilah Allaah ini sdh byk yg mengalaminya (including me),
    Alhamdulillaah, ketika seorang hamba Allaah menghadapi resiko pemecatan karena ianya selalu ngotot berusaha menerapkan sgl tuntunan Islam dilingkungan kerja kuffar shg byk terjadi pertentangan yg begitu kuat dgn pimpinan/direksi, tetapi akhirnya Allaah membalikkan kondisi menjadikan mrk apreciate akibat performance hasil bisnis yg terus meningkat. Allah lah yg telah membalikkan ancaman pemecatan menjadi penghargaan, Alhamdulillaah, Sungguh Maha Rahman & Rahim nya Allaah.

    Renungkanlah Firman Allaah berikut ini.
    “Qulyaa’ibadiyalladzinaasrafu’ala anfusihim laataqnatumirrahmatillaah…(QS39:53)”
    “Nabbi’ibaadi analghafurrahiim, waanna’adzabi huwal’adzabul alim (QS15:49-50).

    Kpd Sdr penulis yg tersilaf,
    Ittaqullaah ya akhi, tidaklah benar ada aturan Allaah yg tidak penting, Aturan Allaah Islam semuanya isi/inti/penting, Islam tidak mengenal klasifikasi kulit dan isi, krn semua tuntunan Allaah adalah inti/isi.
    Hendaknya standard penilaian adalah Firman Allaah & Sabda Rasul dgn pemahaman para sahabat, bukan berdasarkan kebiasaan suku atau adat nenek moyang, bahkan nenek moyang kita juga akan ditanya oleh Allaah kelak.

    Akhukumfillaah, your brother in Islam.

  11. assalamu’alaikum wr wb

    sehubungan dengan itu saya mengakui itu,tp selama karantina memang ga’ pakai jelbab.
    tp bagai mana mau lanjutkan permasalahan bisa jadi begini.

  12. Response dari http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=51463

    Apakah wanita pertama di dunia memakai jilbab?

    “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.
    Yang demikian itu supaya mereka lebih mud…ah untuk dikenal, karena itu
    mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
    Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59).

    Dalam bahasa Urdu, wanita disebut ‘aurat’ ( ???? ), dan kata ini berasal dari kata Arab ‘awrah’ ( ???? ). Kata Arab ini berarti vagina wanita. Bukankah Al-Quran dari bahasa Arab?

    Ini berarti pula seluruh tubuh Muslimah adalah vagina besar dan tidak lebih daripada itu (Warraq, 2005. hal. 316).

    Berapa banyak sih Muslimah Asia khususnya Muslimah Indonesia yang mengerti bahasa Urdu yang tahu benar arti kata ini yang diterapkan bagi ibu, saudara perempuan, dan putri mereka?
    Kata yang sebenarnya sangat merendahkan sanak saudara mereka sendiri?

    Jika ingin mengikuti suatu agama/aturan, telitilah dan mengertilah dulu arti, asal usul serta tujuannya, jangan mengikut secara buta saja…

    No Offense … cuma mengingatkan bagi mereka yang tidak mengerti apa yang mereka lakukan… saya lakukan karena saya peduli dengan Anda.

    Ingin tahu lebih lanjut?
    Silakan download artikel berikut :
    http://www.ziddu.com/download/6920110/WanitaDimataMuhammad.doc.html
    http://www.ziddu.com/download/6920111/THEGOLDENRULE.doc.html

    Bacalah dengan hati yang bersih dan netral, Anda akan terkejut dengan isinya.

  13. Di Aceh itu setidaknya ada 8 suku mas, semua memiliki karakter yang beda-beda. Tingkat perbedaannya jauh melebihi perbedaan antara Jawa dengan Sunda. Akar bahasanya saja nggak sama. Tapi memang islam semua.

    Kalau pake kerudung memang iya, tapi kalau jilbab seperti yang dikenal sekarang ya baru tahun 1980-an dikenal di Aceh.

    Kalo di Gayo, kampung saya yang kampung Qory juga kami suku yang berbeda dengan Cut Nyak Dhien. Kalau keluar rumah rambut perempuan kami disempol, artinya digelung.

    Benar sekali kalau dulu syariah berlaku di tempat kami, tapi bedanya dengan sekarang dulu fokus yang dibahas dalam syariah bukan masalah selangkangan seperti sekarang.

  14. benar-benar ulasan yang menarik, lugas dan jelas dan mengena… tetapi sedikit kritik di sebuah warung di Bali Rujak Made, ada poto rakyat Aceh di pasar yang saya duga diambil jaman Tjoet Nyak Dhien,disitu jelas terlihat perempuan-perempuan Aceh memakai kain panjang yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala… malahan menurut saya budaya melepas jilbab ini terjadi ketika Aceh mulai bergabung dengan Indonesia, tapi alhamdulillah sekarang syariat kembali ke daerah ini, alhamdulillah,…

  15. Wah, bagus sekali tulisan ini. Dari segi isi jelas menarik, dan dari cara penulisannya boleh dibilang tanpa cacat. Salut!
    Tapi untuk topik yang ditulis, saya bingung ingin mengomentarinya bagaimana. Karena isinya sangat kompleks dan berbelit-belit. Padahal ingin sekali saya ikut memberi pendapat untuk topik ini.

  16. aslkum…sebenarnya sy dukung Qory ktika masih masa karantina krn dlm kesehariannnya masih menggunakan pakaian yg sangat sopan..tp pas malam pemilihan, MC bertanya “knp kali ini wakil dr aceh tdk menggunakan Jilbab?
    dg santainya, Qory menjawab, “krn setiap perempuan diberikan keindahan rambut sbg mahkota, jd apa salahnya menampilkan rambut sy sbg keindahan yg diberikan kpd saya..”
    sayapun sbg perempuan berjilbab sangat kaget dg jawaban yg tdk bijak tsb, dan apa salahnya dia tetap menggunakan jilbabnya tuk ikut pemilihan tsb..?
    Qory jg mengatakan” tdk rugi melepas jilbabnya krn mendapatkan kemenangan tsb?
    Astaghfirullah…jawabannya mencoreng para pemakai jilbab yg lain, termasuk saya sbg perempuan yg memakai jilbab..

  17. kalau qory menang ratu sejagat di universe sana kemudian diberi kesempatan pidato lalu ia membongkar semua kasus pelanggaran HAM masa DOM sampai DM sambil pakai bikini, apa kata dunia?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Diskusi Quo Vadis Rencana Investasi Aceh, Yuk!

Institute for Strategic and Policy Studies (ISPS) yang berkantor di Jakarta, bekerja sama dengan Aceh Bisnis Club (ABC) Jakarta,...

Wali Nanggroe Bertemu Dubes Uni Eropa Bahas MoU Helsinki

JAKARTA | ACEHKITA.COM - Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-haythar bertemu Duta Besar (Dubes) Uni Eropa delegasi untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket, membahas...

Daftar Nama 22 Petugas Haji 2020 Kloter Aceh yang Lolos Seleksi

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh mengumumkan 22 nama calon petugas haji Aceh yang lulus dalam seleksi petugas haji...

Busana Rumoh Syar’i di Aceh Wedding Expo 2020 Dapat Pujian dari Ketua DWP

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Setda Aceh, Safrida Yuliani, memuji keindahan busana muslim hasil karya Rumoh Syar'i. Ia terpukau menyaksikan peragaan model yang mengenakan...

Persiraja Resmi Kontrak Pemain Timnas Lebanon Samir Ayass

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Persiraja resmi mengikat kontrak pemain Timnas Lebanon, Samir Ahmed Ayass, selama satu musim. Tanda tangan kontrak pemain untuk slot...

More Articles Like This